<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039</id><updated>2011-10-01T05:18:10.024-07:00</updated><title type='text'>Kasih menyusur waktu</title><subtitle type='html'>Catatan perjalanan cinta sepasang anak manusia. Mengukir impian, menempuh perjalanan sepanjang waktu menggapai impian. Impian berdua sampai waktu berakhir.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-8255692445534005525</id><published>2011-01-03T01:18:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T01:22:51.143-08:00</updated><title type='text'>(21) Menunggu</title><content type='html'>Hari hari sekembali di Yogya, Bram sibuk mempersiapkan diri. Menghadapi ujian seleksi  pegawai dalam beberapa minggu mendatang. Mencari bahan bacaan di perpustakaan. Juga bahan bahan ujian masuk pegawai negeri di bagian kepegawaian. Tak lupa menemui beberapa dosen yang dikenal dekat. Dari pak Wardi di bagian kepegawaian dia banyak mendapatkan materi yang sering diujikan dalam ujian seleksi pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja bertemu dengan Drs. Warsito, salah satu dosen yang dikenalnya. Dia  juga menjadi pengurus perhimpunan alumni, Kagama. Keluarga Alumni Gadjah Mada, merupakan salah satu himpunan alumni yang paling luas jangkauannya di tanah air. Cabangnya tersebar  di semua propinsi. Sebagian besar lulusan UGM bekerja di kantor pemerintah. Istilah kerennya jadi abdi negara. Di Yogya, para pejabat pemerintahan juga harus bisa jadi abdi dalem. Tak perlu dihujat, ini memang keistimewaan Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jika saudara berminat, bisa menghubungi pengurus Kagama di manapun. Nanti saya buatkan surat rekomendasi. Biasanya mereka akan sangat membantu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Terima kasih pak. Saya kebetulan sudah memasukkan lamaran di Deplu. Tinggal menunggu ujian  seleksi saja beberapa minggu lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sokur kalau begitu. Moga moga berhasil. Beberapa alumni kita juga menduduki posisi penting di sana, sampai  beberapa posisi duta besar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Pakdhe saya juga lulusan UGM awal tahun enam puluhan. Pensiun beberapa tahun lalu dari Deplu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Siapa namanya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dewanto, pernah jadi duta besar di Hongaria".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Saya tahu namanya, termasuk lulusan awal dari jurusan sosial politik. Saya belum pernah bertemu langsung. Jika sudah mantap di Deplu, jangan ragu ragu Bram. Jalani pilihan itu dengan tekun. Walaupun hati mungkin tak sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah, di luar bersikaplah right or wrong is my country".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu yang dia ingat benar. Pak Warsito  juga pernah menjabat sebagai  atase kebudayaan di negeri Belanda selama lima tahun. Kemudian kembali ke kampus. Bukan hanya dosen yang berkutat pada teori dan buku, juga praktisi dalam politik diplomasi. Tak banyak berjumpa teman seangkatannya. Mungkin semua telah berpencar mencari jalan masing masing. Sebagian besar teman dekatnya sudah kembali ke daerah asal. Hanya Sutomo yang tinggal di Yogya, jadi asisten dosen.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga minggu, sejak  Bram memasukkan lamaran  di Pejambon, surat panggilan   ujian penerimaan pegawai belum juga diterima. Menunggu dari hari ke hari, bosan  rasanya. Pernah mencoba menghubungi Biro Personalia lewat tilpon, tetapi tak banyak membantu. Pegawai yang menerima tilpunnya sama sekali tak membantu, mungkin juga karena tidak tahu. Selalu dilempar ke sana kemari.  Jawaban yang selalu diterima seragam ‘Tunggu saja panggilan resmi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk baca buku. Rasanya baru sempat sekarang membaca buku pengetahuan dengan mendalam.  Semasa mahasiswa lebih banyak baca diktat kuliah  dan  beberapa bacaan wajib. Yang penting asal bisa lulus semester sudah cukup. Kini banyak waktu terluang untuk lebih mendalami materi materi yang dianggapnya penting. Kadang ikut diskusi dengan teman teman kampus. Tentang situasi politik terkini. Tetapi jenuh rasanya. Dia merasa tak pas lagi diskusi dengan bahasa berapi api seperti dulu. Bram ingin memulai kehidupan sebagai professional meski belum resmi menjadi  pegawai. Tak layak lagi berteriak lantang sekedar melontar kritik tanpa tindakan nyata. Dia ingin berbuat nyata. Cuma  kesempatan itu belum datang kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatannya selalu kembali ke Rosa. Membuat hatinya gundah membayangkan bagaimana  melangkah maju.  Terbayang begitu jelas semua peristiwa yang terjadi di Jakarta dan Bandung, antara dia dan Rosa. Begitu indah, membahagiakan. Hatinya selalu berdesir dan membuai setiap ingat peristiwa itu. Sudah terlalu jauh. Tak mungkin melangkah mundur.  Mundur berarti berkianat.  Bukan lelaki jantan,  jika lari dari tanggung jawab. Terlebih lagi, dia yakin mencintai Rosa. Tak akan bergeming sedikitpun. Beberapa kali ibunya bertanya. Tak ada nyali untuk berterus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mas Bram kenapa kau banyak diam akhir akhir ini? Bapakmu juga menanyakan?” Ibu memulai percakapan sewaktu Bram sarapan.&lt;br /&gt;“ Tak ada apa apa Bu. Hanya sibuk mempersiapkan ujian seleksi”. &lt;br /&gt;“Sendirian saja ke Jakarta?”&lt;br /&gt;Terkesiap dia menerima pertanyaan itu. Tak siap menjawab. Hanya berdesah mengiyakan.&lt;br /&gt;Mencoba mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;“ Bapak masih lama pensiunnya Bu ?”&lt;br /&gt;“ Mungkin satu setengah tahun lagi. Ada apa ?”&lt;br /&gt;“ Tak ada apa apa. Apa rencana sesudah pensiun? Jika saya jadi bekerja di Jakarta, bapak ibu sendirian di rumah”.&lt;br /&gt;“Asal kau dapat pekerjaan sesuai keinginanmu, kami tak apa apa. Cepat atau lambat orang tua kan harus melepas anaknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram merasa lega bisa membelokkan arah pembicaraan. Ternyata hanya sementara. Ibunya kembali bertanya tentang perjalanannya ke Bandung dan Jakarta. &lt;br /&gt;“ Kau tak banyak cerita pertemuanmu dengan pakdhe dan budhemu. Juga tidak tentang kawan pakdhemu itu, pak Rinto di Jakarta”. &lt;br /&gt;“Mereka baik baik Bu. Salam untuk bapak dan ibu dari pakdhe dan budhe”.&lt;br /&gt;“Apakah ada pesan khusus?”.&lt;br /&gt;“ Apa maksud ibu?. Pakdhe banyak cerita dan memberi nasehat tentang profesi diplomat. Juga cerita tentang teman temannya di masa lalu”.&lt;br /&gt;“ Hanya itu mas Bram ? Ingat baik baik nasehatnya, beliau punya pengalaman segudang”.&lt;br /&gt;“Iya Bu. Tak ada yang mencari saya selama saya pergi?”&lt;br /&gt;“ Yang tanya sama ibu hanya Reni, menanyakan kabarmu”&lt;br /&gt;“ Saya memang tilpun dia sebelum berangkat dulu. Belum sempat kontak dia lagi. Tunangannya seorang  dokter sedang ambil spesialisasi kandungan dan kebidanan”.&lt;br /&gt;“ O ya?. Kau sendiri kapan punya calon. Jika sudah ada yang menyangkut di hatimu, beritahu ibu ya nak. Jangan membuat kejutan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya sedikit terkejut mendengar berita tentang Reni, tetapi tak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia belum tahu kalau Reni sudah bertunangan.  Bram lega bisa mengakhiri pembicaraan tentang perjalanannya ke Bandung dan Jakarta. Menghindari pertanyaan tentang Rosa. Dia belum siap menjelaskannya. Pertanyaan tentang Reni, gampang dijawab. Tak ada hubungan emosional istimewa  antara dia dan Reni. Ibunya saja yang mungkin memandang seolah olah ada hubungan istimewa. Hatinya tak pernah berdesir sedikitpun jika mengingat Reni.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin sore bertiup lembut. Jam setengah lima, Bram terbangun dari tidur siang. Tak biasanya dia tidur siang sebenarnya. Tetapi siang tadi merasa cape setiba di rumah. Dia baru saja datang dari perpustakaan di kampus. Suara burung saling bersahutan di pohon sawo kecik di halaman belakang. Suasana rumah sepi. Mungkin bapak dan ibunya sedang keluar. Tiba tiba pak Djo, pembantu tua itu berlari menghampiri kamarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada surat barusan datang Gus Bram”.&lt;br /&gt;“ Siapa yang menerima surat ini tadi ?”&lt;br /&gt;“ Dari pak pos, saya terima sendiri baru saja, langsung saya bawa ke sini”.&lt;br /&gt;“ Rama ibu ke mana?”&lt;br /&gt;“ Keluar kira kira sejam yang lalu. Tidak tahu kemana mereka Gus. Katanya akan pulang sebelum maghrib”.&lt;br /&gt;“ Letakkan surat itu di meja pak Djo, dan buatkan saya teh ya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amplop berwarna kuning itu tanpa alamat pengirim yang jelas. Hanya tertulis ‘dari BDG’. Berdebar Bram mau membukanya. Pasti dari Rosa, siapa lagi kalau bukan dia. Tak ada teman lain yang dia kenal di Bandung. Dia timang timang surat itu. Lebih baik mandi dulu, biar bisa baca dengan tenang. Baru sadar jika selama tiga minggu ini dia tidak menghubungi Rosa. Tak  menulis surat ataupun mengangkat tilpun. Sesudah mandi dia buka surat itu dengan tenang. Hatinya berdesir, dibacanya kalimat demi kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mas Bram,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam rinduku untukmu. Semoga mas Bram di Yogya selalu dalam keadaan baik, tak kurang suatu apa. Saya menulis surat ini persis tiga minggu sesudah kepergian kita  ke Jakarta. Sejak itu pikiran saya selalu melanglang mengingatmu. Teringat semua peristiwa yang kita jalani bersama. Begitu indah dan membahagiakanku. Perasaanku begitu terbuai dalam kebahagiaan bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Bram, rasanya begitu tersiksa menunggu kabar dan pesan darimu. Saya takut sekali jika anda tidak akan datang lagi. Tetapi saya selalu percaya bahwa anda tidak akan pergi dariku. Perjalanan kita sudah jauh. Terlalu jauh untuk berbalik kembali.&lt;br /&gt;Saya tak ingin membuat kesalahan dua kali dalam memilih teman hidup. Saya ingin hidup bersamamu karena saya mencintaimu. Saya menyayangimu, percayalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu sesudah tanggal surat ini saya akan datang ke Yogya. Ada urusan pekerjaan di Yogya beberapa hari. Saya ingin berkenalan dengan orang tua mas Bram, jika anda tak keberatan. Salam sayang dan sampai jumpa minggu depan.&lt;br /&gt;Rosa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun sejenak Bram membaca surat dari Rosa. Dia merasa salah. Terlalu lama membiarkan masalahnya mengambang.  Menyembunyikannya dari kedua orang tuanya. Dia berketetapan untuk menuntaskannya secepat mungkin. Dia juga sangat menyayangi ibunya. Tak akan melukai perasaannya sedikitpun. Mungkin mereka akan kecewa. Tetapi dia bersumpah akan membahagiakan ibu dan bapaknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-8255692445534005525?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/8255692445534005525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2011/01/21-menunggu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/8255692445534005525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/8255692445534005525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2011/01/21-menunggu.html' title='(21) Menunggu'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-7297966141420134670</id><published>2009-12-06T03:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T03:06:56.302-08:00</updated><title type='text'>(20) Pintu masa depan</title><content type='html'>Esok harinya jam delapan tepat Bram sudah sampai di Pejambon, kantor Departemen Luar Negeri. Pagi yang cerah. Langit membiru tanpa awan. Tak tertutup kabut asap. Dia langsung menuju ke Biro Personalia. Masih sepi. Hanya ada beberapa pegawai yang sudah datang.  Sebagian mungkin masih terjebak kemacetan di jalan. Lalu lintas Jakarta memang tak pernah ramah. Selalu menjadi penghambat bagi mereka yang setiap pagi harus berangkat kerja. Sebagian mungkin memang terbiasa datang terlambat. Toh tak ada sangsi jika terlambat. Juga tak ada penghargaan jika rajin datang pagi. Mau rajin atau mau  malas tak memberikan banyak perbedaan. Semua bersatu dalam dinamika birokrasi kepegawaian yang rumit. Hanya sikap dan etos kerja  yang membedakan  perilaku kerja masing masing. Bukan karena sistem. Tak ada habisnya menggerutu jika memikirkan dinamika kepegawaian di tanah air. Seperti lingkaran setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram duduk di ruang tunggu. Rosa tak  ikut pagi itu. Ada urusan ke Pasar Rumput, menemui pelanggan pelanggannya. Mereka janji akan bertemu siang nanti di penginapan. Bram termenung diam. Badannya terasa segar, tak seperti kemarin letih kurang tidur. Semalam tidur enak. Mimpi indah bersama Rosa. Semuanya memang hanya terasa indah dan nikmat saat berkasih dengan orang yang dicintai. Semua beban dan rasa sesal hanya datang kemudian. Tetapi dia tak pernah menyesal. Dia melakukan dengan penuh kesadaran dan penuh cinta. Dia mencintai Rosa, wanita yang dikenalnya beberapa bulan lalu. Mencintainya dengan sepenuh hati. Hanya bagaimana memberitahu orang tuanya, itu saja yang masih menghantui pikirannya. Tiba tiba seorang pegawai berseragam datang mendekat. Bram sedikit kaget. Pasti ini petugas yang menguurusi berkas berkas lamaran, pikirnya. Ternyata salah.&lt;br /&gt;"Bung punya korek? Boleh minta apinya?" Petugas itu bertanya sambil lalu. Ternyata dia hanya butuh pinjam korek api untuk merokok.&lt;br /&gt;" Maaf saya tidak merokok" Bram menjawabnya singkat. "Apakah Bapak  Kepala  sudah datang?"&lt;br /&gt;"Apakah ada janji sama Bapak? Ada keperluan khusus?"&lt;br /&gt;" Saya diminta menemui beliau. Ada surat dari pak Rinto".&lt;br /&gt;" O begitu. Pak Rinto pejabat eselon satu di depan ya?"&lt;br /&gt;" Kemarin saya menghadap beliau. Lalu saya dianjurkan ke sini menghadap Kepala Biro".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perubahan sikap dari petugas itu ketika Bram mengatakan bahwa dia membawa surat dari pak Rinto. Jam sembilan tepat dia dipersilahkan masuk. Menghadap  Drs.Parmono MA, Kepala Biro Kepegawaian. Orangnya nampak berwibawa. Berwajah ramah dan pembawaan tenang. Bram menyampaikan surat dari pak Rinto. Langsung dibuka dan dibaca.&lt;br /&gt;"Anda fresh graduate ya? Punya pengalaman kerja?"&lt;br /&gt;" Baru saja lulus pak. Belum pernah bekerja kecuali di organisasi mahasiswa".&lt;br /&gt;" Apakah berkas lamaran sudah dilengkapi?"&lt;br /&gt;" Sudah, semuanya lengkap pak".&lt;br /&gt;"Bagus. Nanti selesaikan prosedur lamaran dan tunggu panggilan sewaktu waktu".&lt;br /&gt;" Apakah prosesnya panjang pak ?"&lt;br /&gt;" Ada beberapa ujian yang harus dilalui. Tak usah takut. Anda pasti bisa melaluinya. Jangan sampai lupa baca materi Wawasan Nusantara dan Panca Sila".&lt;br /&gt;" Terima kasih pak. Kapan ujiannya?".&lt;br /&gt;" Lupa kapan persisnya, nanti bisa ditanyakan di administrasi. Mungkin beberapa minggu lagi. Yang penting semua prosedur dan persyaratan harus dipenuhi".&lt;br /&gt;" Begitu pak.Terima kasih nasehatnya"&lt;br /&gt;Bram sebentar kemudian minta diri dan menyelesaikan proses lamaran di bagian administrasi.Tak terlalu lama. Pegawai yang menerima tak banyak bertanya. Bram diminta mengisi beberapa formulir.&lt;br /&gt;" Nanti tunggu panggilan untuk test . Mungkin tiga minggu lagi"&lt;br /&gt;"Terima kasih Bu".&lt;br /&gt;Bram meninggalkan kantor Biro Kepegawaian dengan perasaan tenang. Tak ada beban lagi. Berkas lamaran sudah masuk. Tinggal menunggu proses lebih lanjut, test. Moga moga semua berjalan lancar sampai selesai. Ini adalah langkah pertama ke pintu masuk perjalanan kariernya.  Dia buru buru kembali ke penginapan di kompleks TIM. Rosa belum datang. Bram tiduran sambil baca majalah. Jam setengah dua belas siang. Dia pikir sebentar lagi Rosa pasti datang. Dia menunggu untuk makan siang. Bram ketiduran ketika ada ketukan di pintu. Jam setengah satu. Rosa berdiri di muka pintu. Wajahnya memerah kepanasan. Tetapi matanya berbinar begitu melihat Bram membukakan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sudah lama?. Saya cepat cepat menyelesaikan urusan. Takut mas Bram menunggu terlalu lama"&lt;br /&gt;" Sejam yang lalu. Tak terasa tertidur".&lt;br /&gt;Bram menjawab pelan sambil menggamit tangan Rosa. Tangan yang halus. Wajah yang lembut. Hatinya berdesir keras. Pikirannya melayang, ingin menemani dan melindungi wanita cantik yang lembut ini selamanya.&lt;br /&gt;" Jangan melamun mas. Kita makan siang dulu. Saya cuci tangan dan membersihkan muka dulu".&lt;br /&gt;" Habis makan siang nanti rencana kita kemana Rosa?"&lt;br /&gt;" Apakah urusan lamaran telah selesai?"&lt;br /&gt;" Semua berkas dan persyaratan sudah saya serahkan. Tinggal tunggu panggilan test beberapa minggu lagi".&lt;br /&gt;" Jika urusan selesai, apa kita terus ke Bandung sore nanti ? Nanti malam nginap di Bandung".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram terdiam. Pikirannya semula dia akan terus pulang ke Yogya tanpa lewat Bandung. Tetapi dia sadar datang ke Jakarta bersama Rosa. Dia harus menemaninya pulang ke Bandung dulu. Tak mungkin dia biarkan Rosa sendirian ke Bandung, walau sudah terbiasa pulang pergi Jakarta Bandung.&lt;br /&gt;" Tetapi saya belum bilang kalau mau nginap di Bandung sama Budhe atau Pakdhe".&lt;br /&gt;" Tak apalah. Nginap di tempat saya. Ada kamar tamu yang selalu kosong. Nanti saya bilang mama sama papa".&lt;br /&gt;Bram terdiam sesaat. Tak pernah terencanakan sebelumnya akan menginap di rumah Rosa. Ini terlalu cepat di luar rencana.&lt;br /&gt;" Iya lah. Besok pagi saya ke Yogya dengan kereta. Jam tujuh ada kereta ke Yogya."&lt;br /&gt;" Ambil kereta sore saja mas jika tak tergesa gesa. Kita bisa lihat lihat Bandung dulu".&lt;br /&gt;" Saya pikir dulu dan kita putuskan setelah sampai di Bandung nanti. Jam berapa berangkat  ke Bandung?".&lt;br /&gt;" Kita naik suburban saja nanti. Paling tidak berangkat setiap jam. Mungkin kita bisa ikut berangkat jam tiga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantin tak terlalu ramai siang itu. Mungkin tak ada rombongan dari daerah. Hanya tamu perseorangan. Mereka menikmati makan siang bersama. Sayur asam Jakarta dan daging sapi  empal. Kegemaran Bram.  &lt;br /&gt;" Gimana urusanmu Rosa?"&lt;br /&gt;" Lumayan bagus banyak pesanan baru masuk. Harus meningkatkan jumlah produksi".&lt;br /&gt;" Tak bisa setengah setengah. Lakukanlah sepenuhnya. Jangan hanya sebagai sambilan mengisi waktu luang".&lt;br /&gt;" Iya pikiran saya memang akan saya kembangkan. Cuma saya sendirian. Iwan mengurus pabrik sama mama".&lt;br /&gt;" Pasti ada saja jalan jika kita berusaha serius. Sayang saya tak bisa membantu. Bukan bidang saya"&lt;br /&gt;" Tak apa apa. Tak perlu dipikirkan. Kita punya jalan dan karier berbeda. Asal saling mengerti dan mendukung".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan mereka berkemas kemas. Tak terlalu lama oleh karena memang tak banyak bawaan. Masing masing hanya bawa satu travelling bag. Ketika menyelesaikan pembayaran di kasir depan, seorang pegawai wanita menyapa Rosa.&lt;br /&gt;" Cik tas tangannya ketinggalan di kantin tadi"&lt;br /&gt;" Terima kasih sekali. Malah nggak sadar saya kalau ketinggalan tas".&lt;br /&gt;" Kok keburu buru sih tacik?".&lt;br /&gt;" Urusan sudah selesai, kami terus pulang Bandung".&lt;br /&gt;" Anda berdua pengantin baru? Kelihatan masih muda sekali anda berdua".&lt;br /&gt;Bram terkejut mendengar pertanyaan sambil lalu itu. Dia menjawab pelan sekenanya.&lt;br /&gt;" Iya, kami tinggal di Bandung".&lt;br /&gt;"Mas Bram asli Yogya. Saya asli Bandung" Rosa menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tiga kurang seperempat mereka sudah sampai di tempat pemberangkatan taksi suburban di daerah Senen. Masih ada tempat, tetapi pemberangkatan kemudian baru jam setengah empat nanti. Perjalanan  Jakarta Bandung lancar tanpa hambatan. Bukan seperti perjalanan di akhir pekan. Hawa mulai terasa dingin setelah melewati Bogor. Rosa bersandar ke bahu Bram sepanjang perjalanan. Sementara  lengan Bram memeluk tubuh Rosa. Tak banyak bicara. Kecuali kadang kadang penumpang di samping sopir bertanya tentang temat tempat yang dilewati. Mungkin belum pernah menempun jalur itu. Suatu saat dia bertanya ke arah Bram.&lt;br /&gt;" Dik sampeyan asli Jakarta?"&lt;br /&gt;" Bukan. Saya dari Yogya. Ini akan ke Bandung dulu".&lt;br /&gt;" Apakah anda berdua pengantin baru?"&lt;br /&gt;" Belum lagi. Mungkin sebentar lagi. Nama saya Bram. Ini tunangan saya Rosa, tinggal di Bandung. Bapak tinggal di mana?".&lt;br /&gt;" Saya dari Medan. Mau lihat anak saya mondok di Bandung. Dia kuliah di UNPAD".&lt;br /&gt;" Di jurusan apa pak di UNPAD?".&lt;br /&gt;" Ambil pertanian. Baru tahun ketiga. Agak khawatir saya, dia aktif di organisasi mahasiswa". Tanpa diminta orang itu bercerita terus tentang anaknya.&lt;br /&gt;" Mengapa pak? Asalkan kuliahnya lancar lancar saja kan nggak apa apa".&lt;br /&gt;" Maunya begitu. Tetapi saya sama ibunya sering khawatir kalau terjadi apa apa. Kondisi tak menentu. Protes sedikit disekap dan dipukuli tentara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram ingat bapak dan ibunya yang selalu merasa khawatir setiap ada demo mahasiswa di kampus. Tak jarang memang banyak aktivis yang keluar masuk markas KOREM dan dipermak habis habisan.&lt;br /&gt;" Jangan terlalu khawatir Bapak. Keadaan pasti akan membaik. Sebagai aktivis mahasiswa putra bapak tak bisa diam melihat penyelewengan kekuasaan saat ini. Di mana mana".&lt;br /&gt;" Kami sebagai orang tua tak mungkin tak memikirkannya, apalagi jika menyangkut keselamatan anak. Siapa yang mau disalahkan jika sampai jadi korban seperti mahasiswa ITB tempo hari?".&lt;br /&gt;" Bapak dinasnya di mana ? Bram mencoba mengalihkan pokok pembicaraan.&lt;br /&gt;" Saya pengusaha perkebunan. Teutama kopi dan kelapa sawit. Tak luas sekali tetapi cukuplah. Ada di luar kota, satu jam perjalanan dari Medan".&lt;br /&gt;" Sering ke Bandung pak?'.&lt;br /&gt;" Sudah lama sekali tak ke Bandung. Tahun lima puluhan saya kuliah pertanian di  Bogor. Begitu selesai terus mulai usaha di Sumatra Utara. Saya memang asli Medan".&lt;br /&gt;Mungkin orang itu seumur bapaknya. Namanya pak Simon. Simon Simamora. Kelihatannya suka cerita. Bram hanya banyak mendengar.&lt;br /&gt;"Anak muda sekarang setiap selesai kuliah rata rata pengin ke Jakarta. Siapa yang mau membangun daerah?".&lt;br /&gt;" Kesempatan mengembangkan karier di daerah terbatas  pak. Saya juga baru lulus jurusan sosial politik. Baru saja melamar di Deplu".&lt;br /&gt;" Wah pengin jadi diplomat ya?'&lt;br /&gt;" Moga moga pak. Masih jauh. Karier saya belum  jelas mau mulai dari mana".&lt;br /&gt;" Anda sendiri yang memutuskan. Jangan menunggu nasib. Dan jangan hanya membuat satu pilihan.  Dulu saya pengin jadi pejabat. Bapak saya dulu residen'.&lt;br /&gt;" Mengapa pindah jalur pak?".&lt;br /&gt;"Saya sempat bekerja di kantor pemerintah propinsi selama tiga  tahun. Tak betah saya terus mulai usaha swasta sendiri".&lt;br /&gt;"Bapak saya dinas di pemerintah propinsi DIY pak. Sudah hampir tiga puluh tahun. Sebentar lagi pensiun".&lt;br /&gt;" Hanya orang orang yang sabar dan ulet yang bisa bertahan. Birokrasi pemerintahan sangat rumit".&lt;br /&gt;" Bapak saya juga sering cerita pak. Saya tak pernah tertarik bekerja di kantor pemerintahan daerah. Penginnya kalau bisa pengin dinas di departemen luar negeri. Sokur bisa bertugas di perwakilan RI di luar negri".&lt;br /&gt;" Asal tekun dan sabar pasti ada jalan. Jangan mudah bosan. Moga moga cita cita anda terpenuhi. Bapak ibumu pasti bahagia sekali".&lt;br /&gt;" Terima kasih pak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra pak Simon menyewa rumah di daerah utara Bandung. Saat turun dari mobil, pak Simon agak tertatih. Maklum usia menjelang enampuluh tahun. Bram iba melihatnya. Begitu besar harapannya sebagai bapak terhadap anaknya. Bram ingat Bapaknya. Mungkin dia juga demikian, walau tak banyak diungkapkan.&lt;br /&gt;" Salam untuk putra Bapak. Mungkin satu saat nanti kita ketemu lagi pak Simon"&lt;br /&gt;" Selamat jalan Bram. Semoga tercapai ciita citamu bersama Rosa. Pasangan serasi. Keep that way forever".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang jam delapan malam mereka sampai di rumah Rosa. Papa mama Rosa agak terkejut melihat Rosa datang bersama Bram.&lt;br /&gt;" Semuanya baik baik Rosa?"&lt;br /&gt;" Baik baik ma. Mas Bram menginap semalam di sini ma. Besok pulang ke yogya naik kereta".&lt;br /&gt;" Silahkan ada kamar tamu didepan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram menyalami papa mama Rosa. Dia menjelaskan kalau perjalanan agak lambat. Berangkat dari Jakarta sebelum pukul empat sore.  Bram kemudian mandi setelah menempatkan tasnya di dalam kamar. Sementara Rosa buru buru melihat anaknya Tita yang telah tertidur di kamar pavillion samping rumah. Rosa sejenak memeluk Tita yang tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tadi sebelum tidur menanyakan kapan kau pulang Rosa", Mama memberitahu. "Saya bilang besok pagi".&lt;br /&gt;" Aturan memang baru besok pagi ma. Cuma karena urusan telah selesai maka kami cepat cepat pulang, walau telah sore. Saya beli boneka kecil untuk Tita".&lt;br /&gt;" Dia baik baik saja dua hari ini. Tak rewel sama sekali".&lt;br /&gt;" Biar terbiasa ma. Toh saya tak pernah pergi lama".&lt;br /&gt;" Ajak Bram makan malam dulu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis mandi Bram duduk sebentar omong omong sama papa. Iwan masih belum pulang sejak sore tadi turun ke bawah. Mungkin masih banyak urusan kerjaan. Makin banyak pesanan akhir akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram makan malam dulu. Papa sama mama sudah makan sejak tadi. Iwan biar nanti sendirian".&lt;br /&gt;" Bagaimana Tita?"&lt;br /&gt;" Sudah tidur sejak tadi. Kata mama dia menanyakan kapan saya pulang".&lt;br /&gt;" Besok pagi pasti gembira sekali bangun tidur lihat mamanya".&lt;br /&gt;" Barusan saya peluk dan saya ciumi, tak terbangun sama sekali. Pulas sekali tidurnya".&lt;br /&gt;" Silahkan makan malam seadanya Bram. Biar ditemani Rosa. Saya sama papa sudah makan sejak tadi", mama menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa dan mama kemudian pamit masuk kamar. Mereka selalu tidur awal. Tak biasa tidur larut.Tak banyak yang dibicarakan Bram sama Rosa. Mereka makan dengan tenang. Hati masing masing melayang membayangkan masa masa yang akan datang. Lewat jam sepuluh Bram pamit akan masuk kamar, istirahat. Dia peluk Rosa dengan lembut. " Selamat tidur mas Bram. Mimpi indah"&lt;br /&gt;" Bukan hanya mimpi. Kenyataan yang indah dan membahagiakan. Pengin mengulangi dan melakukan selamanya bersamamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram tiduran di kamar. Badan terasa letih. Tetapi pikiran melayang kemana mana. Tak bisa memincingkan mata. Selalu mengingat peristiwa semalam. Terbang melayang bersama Rosa. Dalam kenikmatan dan kedamaian yang dalam. Dalam desiran desiran rasa yang aneh. Akhirnya terlena dia bersama impian impian indahnya. Tidur pulas dalam buaian mimpi indah. Ada tangan lembut meraba dan membelai mukanya dengan mesra. Ada irama napas lembut memburu. Ada degub jantung bernada riang terdengar dekat sekali. Ada bau harum semerbak yang dia telah hapal sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram menggapai tangan lembut itu. Dia genggam dan dia belai tangan itu. Dia peluk tubuh yang indah itu. Aaah ternyata bukan mimpi semata. Rosa telah tergolek mesra disampingnya. Bram menyambutnya dengan seluruh perasaan. Dengan seluruh jiwa. Suara napas  mereka yang tersengal memburu berubah hening. Tak ada napsu yang berkobar  membara. Yang ada hanyalah keheningan dan kedamaian yang dalam. Perasaan mereka melayang bersama gerakan gerakan ritmis dua tubuh yang berpadu dalam asmara. Melayang dalam kedamaian dan keheningan yang dalam. Seolah melayang menari bersama di antara bintang. Tarian asmara yang lembut, hening dan membuai. Bram dan Rosa bersatu dalam raga, dalam rasa dan jiwa. Akhirnya mereka terjaga ke dunia nyata.  Peluh membasahi tubuh tubuh yang indah. Mereka terlelap tidur dalam kedamaian. Tergolek di atas kain seprei putih dengan renda warna warni. Menjelang pagi Rosa terbangun. Tangis Tita telah membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram saya kembali ya. Tita mencari saya"&lt;br /&gt;" Silahkan, besok masih ada waktu"&lt;br /&gt;" Apakah anda kecewa ?"&lt;br /&gt;" Tak ada kata kecewa. Kita melakukannya dengan sadar. Saya juga tahu segala konsekuenaisnya".&lt;br /&gt;" Terima kasih mas Bram".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram bangun agak siang. Jam setengah tujuh baru bangun. Matahari sudah meninggi. Rosa sibuk di pavillion memandikan Tita. Tak ada rencana apa apa hari itu. Hanya pengin bersama Rosa menghabiskan hari. Sore nanti kembali ke Yogya.  Bersama Iwan, Rosa dan Tita, Bram ikut melihat tempat pabrik tekstil yang dikelola Iwan dan mama. Juga melihat workshop tempat produksi pakain anak anak yang dikelola Rosa. Tak begitu besar tetapi nampak sibuk. Tak kurang lima belas orang bekerja di sana. Rosa hanya sebentar melihat pesanan pesanan yang sudah jadi. Minta asistennya untuk bersama sama mengecek kembali mutu pakaian jadi sebelum dikirim ke pemesan. Bram terkesan akan kecekatan kakak beradik Rosa dan Iwan. Dalam usia yang begitu muda sudah mengendalikan laju perusahaan. Menjamin kelangsungan pendapatan puluhan karyawan.&lt;br /&gt;Setelah melihat lihat kota sejenak, mereka kembali ke rumah. Makan siang bersama papa dan mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah lima sore, Bram berangkat ke stasiun kereta. Hanya di antar Rosa. Tak banyak pembicaraan dalam perjalanan. Rosa membisu. Terasa berat melepas Bram. Jangan jangan dia hanya main main. Dan tak akan kembali ke Bandung lagi.&lt;br /&gt;Di stasiun sempat minum kopi di salah satu rumah makan di dalam stasiun. Hanya bicara seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram jangan menyesal ya mas"&lt;br /&gt;" Tak ada yang perlu disesali. Saya dan kau bersama  telah berada di pintu  masa depan. Masa depan kita bersama".&lt;br /&gt;" Moga moga semua lancar mas. Kita berdoa bersama".&lt;br /&gt;" Kita tidak akan berpisah lagi Rosa"&lt;br /&gt;" Kapan saya bisa ke Yogya?"&lt;br /&gt;" Berikan saya sedikit waktu"&lt;br /&gt;Bram memeluk Rosa dengan hangat. Dikecupnya kening yang indah itu. Dia cium tangan Rosa sebelum naik kereta. Kereta malam menuju Yogya. Salam damai Rosa. Salam bahagia. Berjalan bersama menuju pintu masa depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-7297966141420134670?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/7297966141420134670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/12/20-pintu-masa-depan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/7297966141420134670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/7297966141420134670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/12/20-pintu-masa-depan.html' title='(20) Pintu masa depan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-152869474967921439</id><published>2009-11-09T05:33:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T05:36:40.205-08:00</updated><title type='text'>(19) Perjalanan menembus kabut</title><content type='html'>Masih terang tanah ketika kereta bergerak meninggalkan stasiun Bandung. . Belum lewat setengah enam. Kereta Parahiyangan bergerak pelan meninggalkan kota yang baru bangun. Terlambat beberapa menit. Tidak apa, tak ada yang harus dikejar kejar hari ini. Pikir Bram menenangkan diri. Walau hatinya bergejolak keras. Belum pernah seumur hidup dia bepergian berdua dengan seorang wanita. Belum ada janji dan keterikatan. Kenapa terlalu jauh begini? Badannya terasa tak segar. Semalam mata sulit dipincingkan. Jam satu masih terjaga. Bangun jam empat langsung cuci muka dan lari ke stasiun naik taksi. Rosa sudah datang duluan, menunggu di ruang tunggu bersama Iwan. Dia datang diantar Iwan. Bergegas mereka naik ke gerbong. Tak begitu sesak di kelas eksekutif. Pagi yang hening. Bram tertidur dalam goyangan gerbong. Belum sempat ngobrol sama Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa duduk tenang. Matanya memandang ke luar jendela. Kabut pagi masih menyaput samar. Terasa tenang dan damai. Hatinya kadang berdesir saat menyadari pergi bersama dengan Bram. Pria yang dia kagumi. Sekejap dia kerling Bram yang tertidur lelap. Bersandar disampingnya. Kabut pagi yang indah. Walaupun pandangan samar samar, manusia selalu yakin bahwa matahari pasti akan datang. Perjalanan telah dimulai. . Antara Bandung Jakarta. Dalam kabut pagi. Moga moga perjalanan bersama Bram akan berlanjut selamanya. Perjalanan ;panjang ke depan. Saat lewat jembatan Cimeta, tiba tiba Bram terbangun. Masih setengah sadar ketika mengetahui tangannya menggamit tangan Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Maaf tertidur. Semalam nggak bisa tidur'. Bram memulai percakapan.&lt;br /&gt;''Tak apa apa. Silahkan istirahat mas Bram. Pemandangan di luar indah sekali. Sejuk dan damai'.&lt;br /&gt;' Udara berkabut di luar'&lt;br /&gt;' Saya selalu menikmati kabut pagi. Awal hari yang cerah'.&lt;br /&gt;' Iya tapi kabut juga sering menyebabkan kecelakaan pesawat kan. Yang nampak indah belum tentu selalu aman ?'&lt;br /&gt;'Tak usah dikaitkan. Biar saya menikmati keindahan pagi ini'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat di luar lembah hijau yang indah penuh pesona. Jalur kereta Bandung Jakarta memang selalu mempesona. Sejak dulu penumpang di buat takjub.saat lewat di sana. Di akhir tahun lima puluhan di balik keindahan alam itu kadang kadang terjadi penghadangan oleh para pemberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Mengapa diam mas Bram?'&lt;br /&gt;' Pemandangan di bawah sana begitu cantik mempesona. Damai sekali rasanya. Tak bisa dipercaya konon dulu sering terjadi penghadangan berdarah di dini. Sering makan korban'&lt;br /&gt;'Saya jarang sekali bepergian ke Jakarta. Tak tahu apa apa tentang cerita itu'&lt;br /&gt;' Saya pikir kau dulu sering bolak balik'.&lt;br /&gt;'Apa maksudmu?. Hanya akhir akhir ini saja karena pekerjaan. Biasanya naik suburban.&lt;br /&gt;Bram tak mengira kalau pertanyaannya mungkin diterima terlalu jauh. Dia tak berkeinginan mengorek masa lalu Rosa. Masa lalu bersama Dedi sang mantan suami. Pertanyaan itu tak bermaksud ke sana. Dia memindahkan percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Jam berapa kita akan sampai ke Jakarta ?.&lt;br /&gt;'Mungkin sekitar pukul sembilan'.&lt;br /&gt;'Kita terus ke penginapan saja nanti. Akan tilpon ke kantor Pak Rinto dulu. Kalau nggak bisa ketemu hari ini ya besok.&lt;br /&gt;'Saya masih malas mau ngurusin dagangan. Boleh ikut mas Bram?. Saya nanti menunggu di luar.&lt;br /&gt;Bram terdiam sejenak. Mengapa mesti berduaan terus ? Ini masalah karier dan pekerjaan.&lt;br /&gt;'Mengapa kau nggak menemui langganan langganan mu dulu?.&lt;br /&gt;'Masih ragu. Malah dikira mau nagih bayaran. Biar saja saya menunggu di penginapan kalau mas Bram keberatan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah sembilan lewat sedikit kereta telah memasuki Jakarta. Stasiun Gambir. Mereka langsung naik taksi menuju ke komplek TIM (Taman Ismail Mardjuki). Kebetulan penginapan penuh. Hanya ada satu kamar yang kosong. Petugas menanyakan apakah mereka suami isteri ? Bram berkata singkat ' Sebentar lagi kawin'. Jawaban sekenanya agar tak ditanya surat kawin. Dia ingat temannya, Budi, yang kuliah di kedokteran dan ngurusi penginapan di jalan Pajeksan Yogyakarta. Ceritanya dia selalu debat dengan pasangan yang datang cari kamar tetapi tak bisa menunjukkan surat kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar itu sederhana tetapi bersih. Sayang kamar mandi di luar. Ramai karena hari itu banyak tamu datang. Setelah istirahat sebentar Bram pamit tilpon kantor pak Rinto di Deplu. Ternyata beliau baru bisa ditemui siang jam setengah tiga. Bram bermaksud istirahat dulu. Hanya ada satu tempat tidur besar. Dari kayu jati dengan warna plitur gelap. Kain seprei warna putih bersih berbau harum segar. Dia merebahkan diri di tempat tidur. Sementara Rosa pamit mencari minum. Bram masih tidur tidur ayam ketika Rosa kembali membawa minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Mas Bram ada minuman'&lt;br /&gt;'Terima kasih, saya juga belum sarapan tadi'&lt;br /&gt;'Mungkin makan pagi dulu di kantin ya? Masih siang nanti kan janjinya'&lt;br /&gt;'Biasanya saya hanya minum jus segar pagi hari. Tetapi tak apa kita makan dulu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa ganti baju sebentar. Memakai kaos T shirt dan celana jin. Nampak cantik dan segar. Mereka makan pagi di kantin. Tak banyak pilihan. Ada pecel sama rawon. Berdua mereka pesan rawon. Tak lama berada di kantin. Banyak orang ngobrol di sana. Tidak tahu rombongan dari mana. Keras benar suaranya. Pandangan mereka penuh selidik menatap Bram dan Rosa. Tak enak lama lama di kantin. Selesai sarapan mereka kembali ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Saya akan meneliti berkas berkas saya sebentar, Rosa. Takut kalau nanti ada yang kurang".&lt;br /&gt;"Mengapa kau nampak gelisah?"&lt;br /&gt;"Tak tahulah, hati saya was was terus. Seperti ada yang nggak beres".&lt;br /&gt;"Apanya yang nggak beres? Tenanglah mas Bram, yang penting ketemu pak Rinto, dan dengarkan nasehatnya nanti. Gelisah sendiri tak akan menyelesaikan masalah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa tak mengerti bahwa Bram galau pikirannya karena dia. Karena pergi bersamanya. Habis meneliti berkas berkas surat, Bram duduk di samping Rosa. Bau harum bunga melati menyentuh lembut. Mereka bicara sekenanya. Tak ada arah pembicaraan yang jelas. Ketika tangan Bram menyentuh jari jari Rosa, mata mereka beradu. Penuh arti. Saling menggenggam.. Tahu tahu Rosa sudah bersandar dalam dekapan Bram. Darah mengalir cepat dan napas napas mereka berdesah memanas. Ketika bibir mereka saling bertaut, berbagai perasaan bercampur jadi satu. Tangan Bram merayap ke berbagai bagian tubuh Rosa yang halus. Dan pakaian mereka terlepas tak terasa. Rosa berbisik lirih. "Jangan tergesa mas. Masih banyak waktu ke depan". Bram tak menyahut. Hanya mendesah perlahan. Ketika terdengar suara mobil berhenti di halaman, mereka juga berhenti bercumbu. Rombongan yang ramai tadi berangkat meninggalkan penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam satu mereka berdua naik taksi ke Pejambon. Bram tak berani meninggalkan Rosa sendirian di penginapan itu. Banyak laki laki bermata liar di sana. Lebih baik Rosa bersamanya. Gedung Departemen Luar Negeri itu nampak megah. Bercat putih. Tak terlalu sulit mencari kantor pak Rinto. Petugas satpam di depan juga tahu siapa pak Rinto. Dia pejabat tingkat Direktur Jendral. Harus menunggu sejam lagi kira kira. Mereka memutuskan menunggu di kantin. Tempatnya nampak bersih dan rapi Sepi karena jam makan siang sudah hampir habis. Bram pesan sayur asem dan Rosa soto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram, kantornya bagus sekali. Anda pasti senang kerja di sisni'.&lt;br /&gt;' Diterima saja belum. Tak perlu berpikir macam macam lah".&lt;br /&gt;' Orang harus selalu berharap. Optimis. Jangan kecil hati di depan".&lt;br /&gt;' Kecil hati sih enggak. Tapi semuanya datang bersamaan sepertinya. Perlu mengambil keputusan penting dalam hidup dalam waktu yang bersamaan'.&lt;br /&gt;' Mas Bram, ada waktu waktu dimana orang harus mengambil keputusan yang tepat yang menentukan hidup ke depan'. Bram tercenung sejenak, 'Moga moga saya bisa mendapat jalan terbaik'.&lt;br /&gt;' Apapun yang anda pilih, anggaplah itu yang terbaik. Jalani dengan tekun dan semangat'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah tiga tepat Bram sudah datang di kantor pak Rinto. Rosa menunggu di ruang tunggu di bawah.&lt;br /&gt;'Tunggu sebentar mas, bapak masih ada tamu. Apakah anda masih famili dengan Bapak? Tanya sekretaris menyelidik.&lt;br /&gt;' Pakdhe saya teman baik beliau sejak jaman gerilya'.&lt;br /&gt;' Boleh tahu namanya ?. Bapak juga sering cerita jaman gerilya dulu'.&lt;br /&gt;' Dewanto. Nama lengkapnya Kusumo Dewanto"&lt;br /&gt;' Aduh, pak Dewanto. Tahu banget kami. Beliau mantan duta besar di Budapest. Baik baik kan beliau di Bandung ?'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tamu sudah pergi, sekretaris yang ramah itu masuk ke kamar pak Rianto. Mungkin meberi tahu siapa tamunya. Sesaat kemudian dia keluar dan minta Bram masuk.&lt;br /&gt;' Selamat datang mas. Anda keponakan mas Dewanto ya?. Siapa namanya '&lt;br /&gt;' Saya Bram. Bramantyo. Salam dari pakdhe'.&lt;br /&gt;' Bagaimana keadaan beliau?. Baik baik kan'&lt;br /&gt;' Sokur pak. Sehat sehat selalu. Saya sendiri dari Yogya'&lt;br /&gt;' Dari Yogya?. Putranya adiknya pak Dewanto kalau gitu?'&lt;br /&gt;'Iya, bapak saya tugas di pemda'.&lt;br /&gt;'Banyak kenangan saya di Yogya, bersama pakdhemu. Kami bergerilya bersama di daerah Yogya lalu di Banaran, Ambarawa'.&lt;br /&gt;' Saya tidak banyak tahu tentang cerita itu'.&lt;br /&gt;' Teman karib kami sekelompok tewas di Banaran. Namanya Kresno. Dimakamkan di sana".&lt;br /&gt;'Saya dengar sepintas dari pak dhe cerita itu'&lt;br /&gt;' Kisah masa lalu yang tragis. Kapan kapan jika saya pensiun akan datang ke sana dengan mas Dewanto. Bagaimana anda? Minat bekerja di Deplu?'.&lt;br /&gt;' Harapan saya demikian jika mungkin pak. Saya lulus jurusan hubungan internasional di Gama'.&lt;br /&gt;' Gini, langsung saja besok ke bagian personalia. Masukkan berkas lamaran lengkap. Saya kasih catatan kecil'.&lt;br /&gt;' Terima kasih sekali pak'.&lt;br /&gt;' Nanti ceritanya disambung lagi. Yang penting selesaikan proses lamaranmu dulu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rianto memberikan satu catatan singkat yang ditulis tangan dalam amplop kecil. Bram minta diri dan mengucapkan terima kasih sebesar besarnya. Besok akan memasukkan lamarannya. Sekarang pegawainya sebagian besar sudah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Setelah makan malam di kantin, Bram dan Rosa segera kembali ke kamar. Pengin cepat istirahat. Semalam mereka kurang tidur, harus bangun pagi. Bram agak sungkan tidur bersama satu tempat tidur. Dia bermaksud tidur di kursi.&lt;br /&gt;' Jangan tidur di kursi. Badanmu tak bisa istirahat mas. Di tempat tidur saja berdua. Tak apa apa'.&lt;br /&gt;'Tak enak dilihat orang kita tidur bersama'.&lt;br /&gt;' Mana orang tahu. Yang penting kita nggak ngapa ngapa kan'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram ingat cerita Reni, saat tugas praktek juga sering terpaksa tidur bersama ramai ramai. Apa salahnya asal tak melakukan apa apa? Dia langsung tertidur pulas. Sementara Rosa masih duduk di kursi membaca koran yang dibeli tadi siang. Jam setengah sebelas dia menyusul tidur. Berdampingan dengan Bram. Tak ada rasa takut atau was was. Dia percaya sepenuhnya kepada Bram. Mimpi indah seolah berjalan menembus kabut pagi. Bergandengan tangan dengan orang yang dicintai. Semakin erat tangan tangan mereka saling menggenggam. Semakin melayang perasaan mereka di antara kabut yang indah dan sejuk. Napas mereka mendesah berkepanjangan bersama irama detak jantung yang memburu, Ternyata bukan hanya mimpi semata. Tangan tangan mereka saling memeluk dan meraba. Merambat di antara lekuk lekuk tubuh yang indah. Bibir mereka bertautan di antara suara suara lembut. Saling memanggil nama. Dua jiwa dan raga beradu dan bersatu dalam nikmat tak terhingga. Seolah melayang bersama. Terbang bersama mengarungi lautan cinta tak berbatas. Ketika nikmat itu berlalu mereka sadar akan perbuatan yang baru saja dilakukan. Ada perasaan kecewa di dalam hati. Bram merasa mungkin belum saatnya itu.&lt;br /&gt;' Maaf Rosa kita terlalu jauh sudah'.&lt;br /&gt;' Tak perlu kecewa mas Bram. Saya melakukannya dengan iklas dan sadar. Saya pasrah'.&lt;br /&gt;' Rosa, tak mungkin kita balik kembali. Perjalanan sudah mulai. Mungkin sangat panjang jalan itu'.&lt;br /&gt;' Mas Bram, saya akan senantiasa bersamamu. Berjalan disampingmu apapun yang akan terjadi. Ingat perjalanan awal kita tadi pagi. Menembus kabut pagi yang indah'.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-152869474967921439?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/152869474967921439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/11/perjalanan-menembus-kabut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/152869474967921439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/152869474967921439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/11/perjalanan-menembus-kabut.html' title='(19) Perjalanan menembus kabut'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-1472851212397679315</id><published>2009-11-02T18:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T18:26:06.747-08:00</updated><title type='text'>(18). Siapakah anda?</title><content type='html'>Sore itu Rosa pulang awal. Ingin mempersiapkan diri. Bertemu keluarga Dewanto. Bram memberitahu lewat tilpon pagi tadi kalau pak Dhe dan Budhenya sore itu tak ada acara. Mereka hanya di rumah saja. Bram akan datang menjemput sekitar jam setengah lima nanti. Udara agak mendung. Awan tipis menutup kota Bandung. Tak ada angin bertiup. Namun udara tetap terasa dingin. Rosa memilih pakaian yang paling serasi. Beberapa kali berganti di depan kaca. Hatinya sedikit berdebar. Apa yang akan diceritakan nanti dimuka keluarga Bram? Mungkin pertemuan ini terlalu dini. Rasa khawatir itu ditepis sendiri. Biarlah, apa pun yang terjadi, terjadilah. Manusia tak bisa mengubah masa lalu. Semua telah lewat. Beginilah saya adanya. Akhirnya Rosa memilih gaun panjang warna ungu lembut. Dengan scarf sutera pemberian papanya dulu. Dia selalu menyenangi kombinasi warna lembut. Merasa lebih percaya diri dengan warna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah lima kurang sedikit, Bram telah datang. Wajahnya nampak tak tenang. Namun dia mencoba menyembunyikan perasaan. Rosa menyambut dengan tenang. Ada rasa damai di dalam sana melihat wajah Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silahkan tunggu dulu mas Bram. Saya belum selesai"&lt;br /&gt;" Saya datang terlalu cepat. Tadi pagi kak Mia datang dari Jakarta. Sempat berbincang sebentar habis makan siang tadi".&lt;br /&gt;"Siapa itu kak Mia?"&lt;br /&gt;" Putra kedua pakdhe Dewanto. Adiknya kak Rio".&lt;br /&gt;" Mas Bram belum pernah cerita"&lt;br /&gt;" Nanti saya kenalkan. Pasti cocok kau. Kak Mia sangat ramah".&lt;br /&gt;" Mungkin saya tak bisa lama. Tita agak rewel sejak pagi. Dia masih tidur sekarang".&lt;br /&gt;" Tak apa apa. Yang penting kau katanya pengin kenal sama pakdheku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Bram dan Rosa telah berjalan bersama.Berdampingan melewati jalan di tepi pemukiman. Jalan bersih dengan bunga bunga kana di sisi jalan. Bau semerbak melati parfum Rosa kadang menghampiri dengan kembut. Mereka berdua berdiam diri. Tak banyak pembicaraan. Berjalan bersama berdampingan. Hanya hati masing masing yang bergejolak. Apakah ini awal perjalanan bersama ke masa depan ? Tak ada yang tahu dan tak ada yang bisa menjamin. Manusia hanya menjalani garis perjalanan hidup masing masing. Mungkin saja jika hati masing masing mantap dan menghendaki, mereka akan berjalan bersama terus mengarungi perjalanan hidup yang panjang. Berdua seperti sore itu. Berjalan bersama di bawah naungan pohon2 cemara yang berjajar rapi. Kemudian mereka naik opelet ke arah Dago Bukit. Dengan hati hati sekali Bram menggamit tangan Tita. Khawatir Tita yang begitu lembut dan halus akan terjatuh dan tergores di dalam opelet. Penumpang opelet hanya diam memandang. Sopir menatap lewat kaca. Kernet berteriak lepas. Dago, Dago, Dago. Semua mengerti, nampak sejoli yang sedang dimabuk cinta. Tak ada yang tahu, ada keraguan di dalam sana. Di dalam hati sang pria, Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dhe Dewanto baru bangun tidur sore ketika mereka sampai. Bu Dhe masih duduk di kebun belakang rumah. Membersihkan tanaman bunga kesayangannya. Tak banyak acara mereka dari hari ke hari. Masa pensiun adalah masa istirahat. Mereka nikmati masa istirahat itu dengan melakukan apa yang mereka senangi dari hari ke hari. Tak ada istilah post power syndrome. Masa tugas telah lewat. Tak mau pusing dengan urusan macam macam. Mengikuti berita hanya lewat koran atau TV. Tak ada acara ngrumpi dengan kelompok. Sekarang banyak acara sosial. Pertemuan rutin akar rumput. Namun isinya hanya dipenuhi dengan acara ngrumpi. Mana ada tetangga yang beli mobil baru. Mana yang punya wanita atau pria idaman lain. Semua berita bisa jadi acara menarik untuk ngrumpi. Pasangan Pakdhe Dewanto sama Budhe Larasati, tak kenal itu ngrumpi. Pensiun ya pensiun, titik. Masa istirahat. Tak ada kamus ngrumpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bram, kok sudah gagah benar kamu. Tak tahu kapan kamu pergi tadi".&lt;br /&gt;" Budhe sama pak Dhe baru istirahat ketika saya pergi. Perkenalkan teman saya Budhe. Rosa".&lt;br /&gt;Rosa mengulurkan tangan dengan sopan. Menyebut namanya lirih Hatinya bergetar.&lt;br /&gt;" Saya Rosa. Pipit Rosalina"&lt;br /&gt;" Nama yang bagus. Silahkan duduk di ruang tengah saja. Biar tak ada angin. Sudah lama berteman dengan Bram nak?.&lt;br /&gt;" Sudah beberapa bulan ini Ibu"&lt;br /&gt;"Mengapa kamu nggak cerita Bram ?. Pakdhe mu baru mandi nampaknya. Tunggu ya. Mia, kesini lah. Ini Bram sama Rosa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia menghambur dari kamar depan. Bercelana jean dengan kaos warna hijau. Kelihatan sangat santai. Dia memang selalu menikmati masa libur di rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemana Bram? Habis ngobrol makan siang tadi terus menghilang?"&lt;br /&gt;" Saya kira kak Mia tidur tadi. Saya tidak pamitan. Menjemput Rosa. Kenalkan, ini Rosa".&lt;br /&gt;"Rosa ?. Bram tak pernah cerita tentang kau Rosa. Saya Mia, sepupu Bram? Sudah kenal lama dengan Bram?&lt;br /&gt;"Baru beberapa bulan belakang ini. Kami berkenalan dalam perjalanan Yogya Bandung". Rosa menjawab tersipu.&lt;br /&gt;"Kenalan terus dekat ya? Biasalah anak muda. Ngapain tunggu tunggu segala"&lt;br /&gt;"Kak Mia tinggal di mana?"&lt;br /&gt;"Saya di Jakarta. Saya kerja di salah satu bank asing. Saya pulang Bandung tiap dua bulan. Sudah lama nggak ketemu Bram".&lt;br /&gt;"Beberapa kali saya ke Bandung, kak Mia nggak ada di Bandung", sela Bram.&lt;br /&gt;"Sering sering datang ke Bandung Bram sekarang. Ada teman dekat lagi. Lama nggak ketemu tahu tahu sudah bawa pasangan".&lt;br /&gt;" Kangen saya sama obrolan kak Mia". Bram tak banyak berkutik. Merasa tersindir.&lt;br /&gt;" Rosa. Bener ya Pipit Rosalina?. Namamu indah sekali seperti parasmu yang cantik. Hati hati sama lelaki. Jaman sekarang banyak hidung belang. Mau enaknya saja. Tetapi boleh jamin Bram, pemuda anteng. Nggak macam macam. Ada rencana berdua yang serius?"&lt;br /&gt;Kata kata Mia memberondong ke arah Rosa. Mia tak menyadari kata kata gurauannya menyentuh luka Rosa yang paling dalam. Muka Rosa memerah.&lt;br /&gt;"Kami hanya berteman dekat kak Mia. Baru beberapa bulan berkenalan. Iya kan mas Bram?."&lt;br /&gt;" Bram kau mau ke Jakarta, melamar kerja kan? Tolong hubungi saya di Jakarta nanti ya? Kita bisa makan malam. Masih pengin ngobrol sama kau".&lt;br /&gt;Bram terkejut menerima tawaran itu. Dia akan ke Jakarta bersama Rosa. Bagaimana mungkin mau mampir ke tempat Mia.&lt;br /&gt;"Saya kumpul sama teman teman dari Yogya kak Mia".&lt;br /&gt;"Di mana nginapnya? Masih sering nginap di dalam kompleks Taman Ismail Mardjuki ?&lt;br /&gt;"Kadang kadang, makanannya enak di situ. Sayur asem sama daging empal. Paling enak yang pernah saya rasakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram memang sering menginap di penginapan dalam kompleks TIM. Penginapan sederhana untuk para sastrawan dari daerah jika ada acara di Jakarta. Yang istimewa memang makanannya, terutama sayur asem dan daging empal dengan sambal pedas sekali. Dia selalu makan malam di kantin itu. Hanya ramainya nggak karuan. Seniman seniman yang sering nginap di sana, suka ngobrol sampai larut malam. Seolah tak ada lagi waktu esok hari untuk ngobrol. Bukan selalu obrolan berat tentang kebebasan mimbar atau kebebasan berkreasi. Salah seorang dari mereka mimpi aneh saja bisa jadi bahan diskusi berjam jam. Yang penting diskusi. Apapun isi dan maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba Budhe dan Pakdhe keluar dari kamar. Mereka duduk di kursi panjang di seberang ruangan. Wajah Pakdhe begitu tenang dan berwibawa. Bram dan Rosa tak bisa mengeluarkan kata sepatah pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Siapakah anda? Teman Bram ya?" Tiba tiba Pakdhe bertanya.&lt;br /&gt;"Panjenengan ini gimana sih pak. Tadi kan saya sudah bilang, ada Rosa temannya Bram".&lt;br /&gt;Budhe mencoba mencairkan suasana. Rosa terhenyak dengan pertanyaan langsung itu.&lt;br /&gt;" Perkenalkan saya Rosa, Pakdhe. Pipit Rosalina. Temannya mas Bram".&lt;br /&gt;"Bram tidak pernah cerita tentang anda. Tinggal di Bandung?"&lt;br /&gt;" Iya dekat sini. Di Cisitu sama papa dan mama. Mas Bram banyak cerita tentang Pakdhe dan Budhe".&lt;br /&gt;" Gimana Bram, kau cerita tentang Pakdhe ke Rosa. Tetapi tak cerita tentang Rosa ke pakdhe?". Bram semakin bingung dengan pertanyaan yang menghunjam itu.&lt;br /&gt;"Belum sempat cerita Pakdhe. Baru kenalan beberapa bulan".Jawabnya sekenanya.&lt;br /&gt;" Gimana rencana kamu ke Jakarta? Jadi kan? Saya sudah tulis surat ke Rinto di Deplu. Besok jangan lupa di bawa suratnya"&lt;br /&gt;"Iya Pakdhe. Kami akan berangkat besok pagi pagi".&lt;br /&gt;"Lho memangnya kau ke Jakarta berdua?". Tiba tiba Budhe Larasati menyela. Bram tak sengaja bilang kami tadi. Ini mengungkap rencana mereka pergi ke Jakarta bersama. Rosa memerah mukanya. Bram terdiam sesaat.&lt;br /&gt;"Rosa juga ada acara di Jakarta Budhe. Sekalian sama sama".&lt;br /&gt;" Nak Rosa kuliah di Bandung atau Jakarta?"&lt;br /&gt;"Dulu saya kuliah di Bandung Budhe. Sekarang sudah berhenti. Usaha pakaian anak. Kami pasarkan sampai ke Jakarta juga. Tak berapa besar".&lt;br /&gt;" Jika ke Jakarta dengan Bram. Kita ketemu nanti ya. Bram berikan alamat tempat nginapmu. Saya dua hari lagi pulang Jakarta" Mia menyela. Tak berpikir kalau Bram gelisah luar biasa.&lt;br /&gt;"Iya kak nanti saya tilpon. Tetapi jika urusan selesai saya langsung pulang Yogya".&lt;br /&gt;"Lantas Rosa juga ikut ke Yogya?'&lt;br /&gt;"Tidak kak. Dia kembali ke Bandung".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram begitu terperangah dengan pertanyaan tak terduga itu. Dia juga belum punya rencana sesudah acara di Jakarta selesai. Sementara Rosa hanya diam mendengarkan. Pakdhe dan Budhe mengajak mereka berdua duduk di halaman belakang. Mia kembali masuk ke kamar. Dia tahu Bapaknya akan memberikan wejangan. Tak ingin dia terlibat. Mereka berbincang sejenak sambil menikmati angin sore hari. Pakdhe dan Budhe menanyakan secara singkat akan keluarga Rosa. Tak banyak yang bisa dia ceritakan. Juga tak diungkapkan kisah masa lalunya. Belum saatnya. Toh nanti mereka akan tahu dengan berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Pernah ke Yogya Rosa?"&lt;br /&gt;" Belum pernah. Nanti kapan kapan akan khusus ke Yogya jika urusan mas Bram sudah selesai Budhe".&lt;br /&gt;"Belum pernah bertemu bapak ibunya Bram?"&lt;br /&gt;"Belum pernah. Kami bersama mas Bram baru merencanakannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram terlihat berdiam diri. Dia merasa bingung bagaimana akan memberitahu Bapak ibunya tentang Rosa. Tentang hubungannya dengan Rosa. Tentang kisah masa lalu Rosa. Dia merasa bersalah. Tetapi dia tak punya kekuatan untuk mundur meninggalkan Rosa yang sudah begitu lekat di hatinya. Dia merenung melihat langit memerah di ufuk Barat. Hatinya terbawa gundah. Tarikan napasnya mendesah galau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bram dan Tita. Saya nggak tahu apa rencanamu ke depan. Pikirkan baik baik semuanya. Apapun yang kau putuskan dan rencanakan, kami orang tua hanya bisa ikut berdoa. Moga moga keinginan kalian bisa terkabul". Pakdhe berkata pelan dan berat.&lt;br /&gt;"Iya Pakdhe. Terima kasih". Suara Bram hampir tak terdengar.&lt;br /&gt;" Beritahu bapak ibumu, jika sudah ada rencana ke depan. Jangan membuat mereka menabak nebak. Susah nanti bapak dan ibumu. Biar mereka menikmati masa tua dengan tenang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa menunduk diam. Hatinya tergetar mendengar kata kata Pakdhe. Mengapa begitu jauh? Kami belum berencana apa apa ke depan. Belum ada rencana bilang ke orang tua segala. Tetapi dalam batin dia bersyukur mendengar wejangan Pakdhe. Mulanya begitu getir mendengar pertanyaan yang begitu berat, siapakah anda. Tetapi dia lega di akhir pembicaraan, Pakdhe mengatakan kalau orang tua hanya bisa ikut berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jam enam, Bram mengantar Rosa pulang. Pagi2 besok harus berangkat. Naik kereta jam lima pagi. Sekembali mengantar Rosa, Bram berpamitan ke Pakdhe dan Budhenya, jika besok akan berangkat pagi pagi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingat pesan saya Bram. Sampaikan pesan saya untuk pak Rinto ya di Deplu. Moga moga kau berhasil"&lt;br /&gt;"Terima kasih Pakdhe dan Budhe. Mohon doa restunya selalu"&lt;br /&gt;" Saya doakan moga moga perjalananmu ke Pejambon, mengawali perjalanan kariermu ke depan sebagai diplomat. Berdoalah anak muda"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa Bram menemui Mia sebelum masuk kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak Mia, saya akan kontak kau nanti di Jakarta ya. Tapi jangan bilang sama Bapak ibu di Yogya kalau saya sama Rosa. Biar saya yang memberitahu dulu".&lt;br /&gt;" Tilpon saya ya nanti. Kita sempatkan bertemu. Melihat kau bersama Rosa, saya berpikir masa muda kita akan berakhir. Tak sebebas dulu lagi. Main bersama dalam setiap kesempatan ".&lt;br /&gt;"Untung kau Bram, bisa menggandeng Rosa. Dia cantik dan ramah. Dia sayang banget sama kamu"&lt;br /&gt;"Terima kasih kak Mia. Sampai ketemu lusa.".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-1472851212397679315?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/1472851212397679315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/11/18-siapakah-anda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/1472851212397679315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/1472851212397679315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/11/18-siapakah-anda.html' title='(18). Siapakah anda?'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-577420060895737831</id><published>2009-06-23T06:45:00.001-07:00</published><updated>2009-06-23T06:49:03.959-07:00</updated><title type='text'>(17)Impian di antara bintang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SkDdPoG6lZI/AAAAAAAAAJA/Hh4LQqs1bzc/s1600-h/star5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350519617850348946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SkDdPoG6lZI/AAAAAAAAAJA/Hh4LQqs1bzc/s200/star5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Langit bertabur bintang. Tak terlihat bulan di atas sana. Belum saatnya bulan purnama.. Namun tetap saja langit terlihat indah bertabur kelap kelip warna perak. Pikiran manusia sering melayang membayangkan ada apa jauh di sana, di antara bintang di balik tata surya. Bram dalam perjalanan ke Bandung malam itu. Tak mampu memincingkan mata. Pikirannya melayang diantara bintang malam. Perasaan terasa aneh. Sejak kecil sampai lulus universitas dia tak pernah hidup berpisah dengan bapak ibunya. Bapaknya, Raden Mas Rianto Kusumoyudho, dan ibunya Raden Rara Ambarwati, keduanya berdarah biru. Bram dibesarkan dalam lingkungan keluarga Jawa tradisional. Dia selalu merasakan kehangatan dan kasih sayang kedua orang tuanya selama ini. Meski dengan segala tata cara dan kebiasaan yang ketat dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pendadaran beberapa minggu lalu, hatinya selalu gelisah. Waktunya telah tiba untuk meninggalkan rumah. Meninggalkan kehangatan ayah ibunya, demi mengarungi perjalanan karier ke depan. Sore tadi sewaktu pamitan, ayahnya memeluk erat dan berkata. "Bram hati hati selalu di jalan ya. Perjalanan sangat panjang ke depan. Ambillah jalan yang terbaik buat masa depanmu". Ibunya memeluknya sambil berkaca kaca. "Hati hati ya nak". Memang benar, walau baru hanya akan mencari pekerjaan di Departemen Luar Negeri, dia sudah membayangkan pasti akan harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Waktunya telah tiba. Tak mungkin ngendon di Yogya terus. Walau ayahnya bisa mencarikan pekerjaan di kantor pemerintah daerah. Keinginan menjadi diplomat sejak kecil sudah membara. Tak mungkin tawar menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram sengaja ke Bandung dulu. Minta rekomendasi dari pakdhe Dewanto, pensiunan diplomat RI di Hongaria. Di manapun harus pakai surat rekomendasi untuk memperlancar lamaran. Tetapi dia mampir Bandung juga puya tujuan lain. Menemui Rosa. Pipit Rosalina. Hatinya begitu lekat walau baru kenal beberapa bulan. Wajahnya yang lembut dan selalu ceria seolah memberinya semangat dan harapan. Hatinya berdesir setiap mengingat Rosa. Ingat malam malam dalam perjalanan bis ke Bandung. Pertemuan dan perkenalan secara kebetulan dalam bis waktu itu. Ingat bagaimana Rosa bersandar mesra di pundaknya sepanjang jalan. Tangannya saling menggenggam mesra. Desiran hatinya membawa perasaannya melayang. "Ya Tuhan biarlah kami bergandengan tangan selamanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram tinggal dua malam di rumah pakdhe Dewanto. Kebetulan Rio, putra sulung pakdhenya sedang liburan di bandung. Dia seorang pilot. Orangnya pendiam. Tak banyak ngomong. Sesekali dia ngobrol di ruang tengah dengannya. Orangnya serius sekali.&lt;br /&gt;Sehabis sarapan pagi itu, Rio banyak bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah mantap kau rupanya jadi pegawai pemerintah dik Bram?"&lt;br /&gt;" Saya belajar hubungan internasional. Kesempatan untuk mempraktekkan apa yang saya pelajari ya dunia diplomasi mas".&lt;br /&gt;"Apa anda siap memperjuangkan kepentingan Indonesia yang kadang bertentangan dengan suara dunia internasional"?&lt;br /&gt;" Jika diterima di Departemen Luar Negeri, saya hanyalah bagian kecil dari mesin diplomasi Indonesia. Tak mungkin seseorang mampu mengubahnya dalam sesaat. Diplomasi di dunia internasional juga tergantung situasi di dalam negeri. Tak mungkin memperjuangkan citra Indonesia tanpa memperbaiki situasi dalam negeri an?"&lt;br /&gt;"Sokurlah jika anda sudah menyadari sejak awal. Saya selalu kasian dengan diplomat Indonesia di luar negeri. Mereka memperjuangkan citra Indonesia mati matian, sementara di dalam negeri banyak sekali penyimpangan"&lt;br /&gt;" Ya itulah tantangannya. Penyimpangan selalu terjadi di mana mana. Hanya bagaimana kita menekan seminimal mungkin. Diplomasi tidak bisa menutup nutupi berbagai pelanggaran hak azasi di indonesia. Hanya memperkecil dampak negatifnya saja dalam pergaulan internasional".&lt;br /&gt;" Bapak selalu menghadapi berbagai tekanan dan pertanyaan setiap ada kasus di tanah air, sewaktu kami di Budapest. Sedikit banyak juga mengusik kehidupan pribadi kami".&lt;br /&gt;"Itulah yang saya kagumi dari pak dhe. Bagaimana mambawakan citra Indonesia di dunia internasional, meski kita sendiri kadang juga tak bisa mengerti dengan gelompang politik Orde baru di tanah air".&lt;br /&gt;" Bapak adalah mantan pejuang. Dia gampang menyesuaikan. Right or wrong is my country. Sedang kita mengalami pendidikan dan terpapar dengan dunia luar begitu luas. Banyak yang tidak bisa kita mengerti. Seolah negara ini menjadi milik para penguasa itu".&lt;br /&gt;" Cepat atau lambat pasti aka nada perubahan ke perbaikan. Mungkin konstelasi politik saat ini yang terbaik buat negara ini. Tak tahu saya".&lt;br /&gt;" Apakah anda sudah ada rencana berkeluarga Bram?"&lt;br /&gt;" Rencana pasti belum ada. Tetapi ada teman wanita yang dekat sekali".&lt;br /&gt;" Saya ragu untuk cepat berkeluarga karena pekerjaan saya. Saya hanya punya waktu yang sangat terbatas untuk kehidupan keluarga. Makanya saya sampai sekarang masih ingin sendiri".&lt;br /&gt;" Karier dan pekerjaan adalan satu hal. Kehidupan pribadi tak mungkin dikorbankan. Berjalan imbang. Toh pakdhe dan bapak saya juga mampu mempunyai kehidupan yang seimbang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan Bram melayang ke Rosa. Tak mungkin dia melupakannya meskipun dia sangat menekuni kariernya. Kehidupan karier dan pribadi harus berjalan imbang. Dua duanya harus jalan bersamaan. Tak ada yang perlu disisihkan dan dimenangkan. Perjalanan masih jauh. Malam nanti rencana akan bicara dengan pak dhenya secara rinci tentang rencananya ke Jakarta. Ke kantor Departemen Luar Negri. Sore penginnya berkunjung ke rumah Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan lewat setengah lima ketika Bram sampai di rumah Rosa. Rosa telah menunggu dengan hati ceria. Dia memakai rok panjang warna ungu dengan selendang warna lila. Sore hari angin terasa dingin di Bandung. Selendang itu berfungsi untuk menahan hawa dingin sore hari. Tetapi Rosa nampak begitu anggun memakainya.&lt;br /&gt;Ketika Bram mengetuk pintu depan, dia menghambur ke ruang depan.&lt;br /&gt;"Selamat Bung Bram. Gimana pesta lulusnya meriah di Yogya?"&lt;br /&gt;"Tak ada pesta, tak ada apa apa. Saya hanya sungkem ke bapak ibu. Itu saja".&lt;br /&gt;"Yang penting Bung telah lulus. Patut disyukuri. Tak gampang lho. Nyatanya saya juga tak sempat lulus"&lt;br /&gt;" Saya selalu bersykur Rosa. Juga bersyukur bisa berkenalan denganmu".&lt;br /&gt;"Mari duduk Bung. Berapa hari di Bandung?"&lt;br /&gt;"Hanya dua hari. Lusa mau terus ke Jakarta. Melamar pekerjaan ke Deplu"&lt;br /&gt;" Mengapa begitu singkat. Kita belum sempat cerita panjang lebar. Tak ada kesempatan jalan ke luar".&lt;br /&gt;"Maaf memang rencananya begitu tergesa. Akan memasukkan lamaran. Nanti keburu tutup. Sekalian minta surat rekomendasi pakdhe Dewanto".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas Rosa berdesah. Mungkin kecewa karena tak banyak waktu untuk cerita. Tak banyak waktu untuk mengenal Bram lebih dekat. Dia ingin mengenalnya lebih dekat. Tak ingin mengulang kesalahan menjatuhkan pilihan hanya karena rasa kagum semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Berapa hari rencana di Jakarta Bung Bram?".&lt;br /&gt;" Makin cepat makin baik. Mungkin tiga hari. Mungkin lebih. Tergantung selesainya pendaftaran".&lt;br /&gt;" Jika begitu aku ikut saja ke Jakarta. Sekalian lihat langganan saya di Pasar Rumput".&lt;br /&gt;" Ahh, tak apa apa pergi berdua? Sudah bilang papa sama mama?.&lt;br /&gt;"Mas Bram saya sudah dewasa. Papa sama Mama tak mengontrol saya. Yang penting adalah menyerahkan pekerjaan saya ke Iwan, agar dia bisa ikut mengawasi selama saya tak ditempat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram terhenyak sesaat. Tak bisa berkata ya atau tidak. Dia terkejut dengan keputusan mendadak Rosa untuk ikut ke Jakarta. Dalam hati dia marasa senang. Tetapi juga agak gundah karena berarti hubungan sudah selangkah ke arah serius. Bagaimana harus mengungkapkan ke bapak ibunya. Mereka bicara berdua di ruang depan sampai beberapa jam. Jam delapan malam Bram pamitan. Tetapi Rosa masih menahannya. "Makan malam disni sekalian ya mas Bram. Kita tak sempat makan bersama merayakan kelulusan anda". Bram hanya terperangah menerima tawaran itu. Tak terbiasa dia dengan tawaran seperti itu. Tiba tiba saja mama Rosa ikut keluar dan ikut menimpali. " Iya mas Bram. Tidak setiap hari kan ? Biar Rosa masak sebentar. Tak akan lebih setengah jam. Kami ikut senang mendengar anda sudah lulus. Selamat ya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Kusuma ikut membantu menyiapkan masakan di dapur bersama Rosa. Tak lewat setengah jam makanan sudah siap. Mereka berdua makan malam. Papa dan mama Kusuma sengaja tak ikut makan malam. Mungkin tak enak akan mengganggu percakapan Rosa dan Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram kenalkan dong aku sama pakdhe Dewanto. Dengar ceritamu saya ingin melihat dan berkenalan dengan beliau. Pasti orangnya penuh percaya diri"&lt;br /&gt;" Saya lihat dulu, apakah besok sore beliau di rumah ya. Biasanya sih banyak di rumah beliau. Acaranya hanya memelihara bunga di kebun sama membaca".&lt;br /&gt;" Aneh jika ditanya mau ngomong apa tentang kita?"&lt;br /&gt;"Ya ngomong apa adanya. Kita berteman. Teman dekat. Sangat dekat".&lt;br /&gt;"Iya mas Bram, tak perlu berjanji terlalu muluk, jika kita belum bisa meyakinkan hati kita masing masing".&lt;br /&gt;"Perjalanan masih panjang. Pacuan belum selesai. Hidup adalah berpacu. Berpacu dengan waktu dan kesempatan"&lt;br /&gt;"Percaya mas Bram. Hanya orang yang mampu berpacu dan mengambil kesempatan di saat yang tepat akan berhasil ke garis finish".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semakin larut dalam percakapan yang dalam. Tentang masa depan. Tentang perjalanan hidup dan karier. .Begitu tenggelam dan asyik dengan bayangan masing masing . Sementara tangan mereka saling menggemgam. Rosa duduk bersandar di bahu Bram. Pikirannya melayang jauh ke depan. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik. Semoga kedekatan malam ini akan berlanjut selamanya. Ketika napas mereka mendesah dalam keheningan malam, bibir mereka bertaut dalam impian, Impian masa depan. Impian tentang kebahagiaan. Melayang di antara bintang bintang malam. Hati berdesir bersama perasaan melayang di antara impian.&lt;br /&gt;"Mas Bram, apa makna semuanya ini?&lt;br /&gt;" Rosa, kita mencoba membangun perjalanan bersama. Ke masa depan. Tak ada janji. Tak ada sumpah. Hanya keteguhan hati.".&lt;br /&gt;"Semoga keteguhan hati kita akan membimbing ke masa depan mas Bram. Saya tak menuntut apa apa. Tak menagih apa apa.&lt;br /&gt;"Lihatlah langit dan bintang2 itu Rosa. Semoga kita bisa mengarungi perjalanan ke depan. Bersamamu selamanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah sepuluh malam Bram berpamitan. Terasa proses sejak perkenalannya dengan Rosa, berjalan begitu cepat. Tak tertahankan. Seolah perjalanan air menuruni bukit dan lembah. Hidup memang kadang seperti arus air. Tak bisa mengelak dan menahannya. Asalkan menuju tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-577420060895737831?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/577420060895737831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/06/17impian-di-antara-bintang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/577420060895737831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/577420060895737831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/06/17impian-di-antara-bintang.html' title='(17)Impian di antara bintang'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SkDdPoG6lZI/AAAAAAAAAJA/Hh4LQqs1bzc/s72-c/star5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-2685679508073535665</id><published>2009-05-21T06:57:00.001-07:00</published><updated>2009-06-23T06:51:16.105-07:00</updated><title type='text'>(16) Jakarta menanti</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mari bung mari kemari&lt;br /&gt;Jakarta menanti nanti&lt;br /&gt;Jangan bung janganlah lari&lt;br /&gt;Ke Jakarta kembali&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mari mari&lt;br /&gt;Sama sama pergi&lt;br /&gt;Ke Jakarta kembali&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lagu tempo dulu. Syair itu mengingatkan daya tarik Jakarta bagi para lulusan baru.Jakarta seolah gerbang masa depan. Pintu ke dunia luar. Tak mungkin meniti karier tanpa lewat Jakarta. Bram tenang di kamar mendengar lagu keroncong itu mengalun pelan. Lamunannya melanglang bebas. Hari Minggu sore. Mau jalan ke luar malas. Dia ingat kelakar teman teman saat pendadaran " Sampai ketemu di stasiun Senen". Bahkan ada tulisan seorang teman, jika nggak salah dari Fakultas Sastra, dengan judul itu di harian Kompas. Menggambarkan betapa sempit pilihan bagi para lulusan. Mereka harus memilih dan bersaing secara ketat. Pilihan terbatas Sebagian ada yang punya semangat besar membuka usaha. Dunia usaha, penuh spekulasi dan ekonomi beaya tinggi. Semua aturan menjadi alat permainan mengeduk uang bagi para pemegang birokrasi. Kebobrokan birokrasi, tercampur korupsi dan penyalahgunaan kewenangan dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parasto, tokoh pers mahasiswa. Pengin jadi dosen sekalian menerbitkan surat kabar. Minta ampun perijinan begitu mahal dan rumit setengah mati. Ada Surat Ijin Terbit, ada Surat Ijin Cetak. Dua duanya penuh liku liku dan beaya mahal. Tak mudah mendapatkan keduanya. Selain uang yang bisa sampai puluhan juta, juga harus ada koneksi orang dalam. Koneksi dengan penguasa. Semalam Bram sempat ngobrol dengan Parasto dan Sinambela akan rencana masing masing. Mereka lulus bersamaan. Tetapi tujuan lebih lanjut berbeda. Sinambela ingin pulang ke Medan, membantu usaha orang tua. Perkebunan dan perdagangan hasil bumi. Usahanya memang berkembang luas. Tetapi Sinambela punya keinginan lain disamping bisnis. Dia ingin terjun ke dunia politik. Paling tidak nantinya ke Senayan. Anggota DPR. Bapaknya dekat dengan tokoh tokoh partai penguasa di kota kelahirannya. Semua kenal pribadi dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari Senin Bram harus mengesahkan salinan salinan ijazah di kampus. Hari itu juga ada janji dengan Parasto dan Sinambela. Bertemu dan makan bersama di SGPC ( sega pecel) di kompleks Bulaksumur. SGPC hanya warung makan di kampus. Menjadi ajang berkumpulnya berbagai kalangan kampus, pegawai, dosen dan mahasiswa. Para aktivis kampus biasanya menghindari tempat ini. Alasannya mudah ditebak. Banyak intel berkeliaran di sana. Motifnya nggak jelas. Makan pecel atau mengintai gerakan mahasiswa. Mungkin keduanya. Intel juga manusia biasa. Mintanya ijin dari atasan, ingin memonitor gerakan anti pemerintah, anti orde baru di kampus. Tetapi sebenarnya hanya sekedar ingin makan nasi pecel sama tahu bacem. Kadang memang sulit membedakan tugas intelijen dengan tugas mengisi perut. Apalagi ada nasi pecel tahu bacem. Inilah hidup. Kadang juga lebih tertarik lihat mahasiswa pacaran di warung. Ini juga termasuk dalam tugas intel. Demi stabilitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan berangkat ke Jakarta Bram?". Parasto membuka percakapan sambil menikmati nasi pecel sama kerupuk gendar.&lt;br /&gt;"Mungkin seminggu dua minggu lagi Mas. Lagi ngurus surat surat. Ternyata syaratnya banyak benar.&lt;br /&gt;"Aneh memang. Semua serba sulit. Pelayanan publik sangat jelek. Saya mengurus ijin terbit dan ijin cetak koran, seperti tak pernah ada akhirnya".&lt;br /&gt;" Untuk melengkapi lamaran pegawai ternyata rumit banget syaratnya. Surat kelakuan baik. Surat bebas G30S. Keterangan lit sus".&lt;br /&gt;"Apa itu lit sus?"&lt;br /&gt;" Penelitian khusus. Bahwa tak ada keluarga dekat yang terlibat G30S/PKI atau simpatisannya".&lt;br /&gt;"Gila, mau dibawa kemana negara ini?. Kita sebagai warganegara diperlakukan sebagai warga asing di negeri sendiri. Kau masih mantap ke Jakarta, Bram?.&lt;br /&gt;"Cita cita saya hanya ingin jadi diplomat. Tak ada jalan lain, meskipun begitu sulit dan penuh kompromi. Saya tetap akan ke Jakarta".&lt;br /&gt;" Iya penuh kompromi. Harus punya koneksi di dalam juga. Tetapi kau punya Oom yang bisa bantu kan?"&lt;br /&gt;" Saya minta rekomendasi Oom saya. Gimana lagi, sistemnya memang begitu. Kita tak bisa mengubahnya dalam sesaat".&lt;br /&gt;" Baca enggak tulisan Peter di Kompas? Jakarta memang selalu menanti nanti. Sampai jumpa di stasiun Senin. Saya sedih membacanya. Idealisme kebebasan kalah dengan upaya mencari masa depan ".&lt;br /&gt;"Iya saya baca beberapa hari lalu. Benar adanya. Jakarta seolah magnit. Semua yang berkaitan dengan administrasi publik di Indonesia, harus ke Jakarta. Omong omong, mana si Sinambela?".&lt;br /&gt;"Pasti dia akan datang. Tadi saya lihat di fakultas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Sinambela muncul. Banyak map di tangannya. Dia memang selalu gampang bergaul. Pasti ngobrol dulu di fakultas. Selalu ada saja yang diomongkan. Dengan siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sori terlambat kawan. Saya menemui beberapa dosen. Pak Siagian dari Kehutanan kenal baik sama bapak saya. Beliau titip surat".&lt;br /&gt;" Mantap benar kau bung. Mau masuk partai yang mana?"&lt;br /&gt;" Mas To, hidup di dunia nyata tak selalu seperti yang kita impikan. Saya tak ada masalah masuk ke partai penguasa. Itu jalan yang terbaik untuk ikut dalam arus politik".&lt;br /&gt;" Apakah tak bertentangan dengan suara hatimu. Idealisme kita luntur begitu pegang ijazah ?".&lt;br /&gt;" Selama partai dan penguasa tak melakukan hal hal di luar batas kewajaran, bagi saya tak ada masalah. Bukankah jika saya ikut masuk, nantinya juga ikut memperbaiki dari dalam. Bagaimana menurutmu Bram?".&lt;br /&gt;" Setuju saya. Kadang hidup harus kompromi. Selama tak mengorbankan nilai nilai prinsip. Nilai kemanusiaan". Bram menukas singkat.&lt;br /&gt;"Tak enak bicara politik di sini. Banyak telinga. Lebih baik bicara tentang kerjaan. Salah salah bisa ditangkap kita.".&lt;br /&gt;"Bram dan mas To. Sebentar lagi kita akan berpencar. Dalam perjalanan panjang karier masing masing. Moga moga ini bukan pertemuan terakhir. Saya yakin kita masih akan banyak bertemu dan berdiskusi. Idealisme tak akan pernah mati".&lt;br /&gt;"Kenapa anda jadi sentimental La? Tak mungkin kita bersama terus. Kita bersama menekuni idealisme kebebasan kampus selama beberapa tahun terakhir. Perjalanan harus terus. Hidup memang sebuah perjalanan panjang. Suatu saat kita bertemu dan bersama. Suatu saat kita berpisah meneruskan perjalanan masing masing".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram ikut terbawa emosional. Dia berpikir memang akan sulit kumpul kumpul kembali seperti waktu waktu kemarin. Masing masing akan sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan barunya. Hanya kenangan yang bisa dibawa. Kenangan indah kehidupan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika anda pengin kumpul dan bertemu kembali. Datanglah ke Yogya. Saya akan tetap tinggal di Yogya. Saya akan tetap hidup di lingkungan kampus. Sampai kapanpun. Selamat jalan dan semoga selalu sukses".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parasto menutup obrolan. Mereka berpisah. Semua hening. Tak akan sempat lagi bersama sama dalam hingar bingar kehidupan mahasiswa sepert kemarin kemarin. Mereka telah menjalani bersama sama dalam beberapa tahun terakhir. Dengan selamat. Tak ada yang terlumpuhkan. Hariman, kawan mereka dari Universitas Indonesia meringkuk di penjara selama beberapa tahun karena peristiwa Malari. Saat itu mahasiswa bergerak kejalan menantang kekuasaan rejim Suharto. Yogyakarta tetap tenang. Para aktivis sadar belum waktunya melawan rejim yang sedang menikmati puncak kekuasaan. Pasti terlumpuhkan.Bram, Sinambela dan Parasto, mewakili gambaran lulusan perguruan tinggi saat itu. Jika akan mengukir karier, jangan memusuhi penguasa. Berjuang dari bawah. Dalam sistem yang serba tidak trasparan. Tak berarti melupakan idealisme kebebasan. Hidup harus kompromi. Jakarta menanti nanti. M&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-2685679508073535665?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/2685679508073535665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/05/jakarta-menanti.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/2685679508073535665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/2685679508073535665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/05/jakarta-menanti.html' title='(16) Jakarta menanti'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-6430791633199185726</id><published>2009-04-23T07:51:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T07:54:22.438-07:00</updated><title type='text'>(15) Pacuan belum selesai</title><content type='html'>Ada rasa jenuh menyesak kalbu. Bulan bulan terakhir seolah berpacu  menyelesaikan tugas akhir. Berlari resana kemari sebelum pendadaran. Sekarang Bram ingin istirahat sejenak. Begitu jenuh  membayangkan  kembali kegiatan kuliah selama lima tahun terakhir. Lima tahun lebih dari cukup untuk menyelesaikan pendidikan sarjana. Di berbagai universitas di luar negeri, pendidikan sarjana biasanya diselesaikan dalam waktu empat tahun. Di kampus kampus di Indonesia, berkembang kepercayaan keliru. Kalau tak lulus paling tidak tujuh sampai sembilan tahun atau lebih, tidaklah afdol sebagai sarjana. Masih mentah istilahnya. Bahkan ada dosen yang pernah bilang, ulangi setiap tahun dua kali. Gila. Berarti kan lulus sarjana harus sepuluh tahun. Keburu tua sebelum mengamalkan ilmu yang didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram tak percaya. Nilai lebih apa yang diperoleh dengan mengulang kuliah dan menunda kelulusan bertahun tahun ? Bahannya juga itu itu saja. Diktat kumal dengan referensi dari buku buku bahasa Belanda puluhan tahun lewat.  Sering para dosen  memitoskan diri seolah merekalah sumber ilmu satu satunya. Banyak dosen  tak meningkatkan diri dengan pengetahuan terkini. Bram sejak awal berketetapan ingin menyelesaikan secepat mungkin kuliahnya. Masih bisa belajar terus setelah lulus nanti. Manusia harus mampu belajar dan meningkatkan pengetahuan sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan tugas akhir dan ujian telah menyita semua waktunya. Ingin istirahat sementara minggu minggu ini. Merasa bersalah tak pernah sempat menulis ke Rosa. Baru minggu kemarin  setelah pendadaran, dia bisa tulis surat ke Rosa. Bukan surat cinta. Belum berani bilang cinta. Ada rasa bahagia yang dalam setiap mengingat Rosa. Tak ragu lagi kalau dia sudah jatuh cinta. Tetapi belum berani memutuskan.  Sikapnya masih menunggu, mengikuti arus air yang mengalir. Apapun yang terjadi terjadilah.  Perjalanan masih jauh. Masih banyak hal yang harus dipikirkan dan dilakukan. Pacuan belum selesai. Baru saja lulus sarjana. Sarjana sosial politik, hubungan internasional. Keren judulnya. Tetapi perjalanan karier masa depan masih kabur. Dia tak ingin klontang klantung melamar dari kanor ke kantor. Ingin bekerja di departemen luar negeri. Tokoh idolanya adalah pakdhe Dewanto. Mantan diplomat senior. Tak ingin jadi pamong praja seperti bapaknya. Sabtu siang Bram masih berkurung diri di kamar membaca  koran ketika Reni  menilponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat  mas Bram. Saya tahu dari ibu, mas Bram pendadaran minggu kemarin".&lt;br /&gt;"Terima kasih Reni. Tak ada yang istimewa rasanya. Hanya lega setelah  semuanya selesai. Jenuh sekali rasanya bulan bulan terakhir kemarin".&lt;br /&gt;" Iya mas, tetapi anda lulus cepat benar. Lima tahun pas. Orang lain kan bisa sembilan tahun".&lt;br /&gt;" Tak ada yang sulit. Hanya salah pandangan saja.  Seolah semakin lama di kampus akan semakin matang".&lt;br /&gt;" Banyak yang kerasan dan dapat titel paska sarjana MA*" ( *mahasiswa abadi).&lt;br /&gt;" Gimana keadaanmu Reni? Baik baik  kan?".&lt;br /&gt;" Semuanya lancar. Baru saja tugas di Klaten. Minggu ini di Yogya. Dua minggu lagi ke Solo".&lt;br /&gt;" Sokur kalau begitu. Moga moga lancar terus".&lt;br /&gt;"Mas Bram  apakah anda ada waktu? Saya pengin ikut merayakan pendadaran anda. Saya traktir jika anda ada waktu".&lt;br /&gt;" Terima kasih sekali. Kau begitu perhatian. Petang ini atau besok boleh lah. Hari hari lain kau sibuk di rumah sakit".&lt;br /&gt;" Sore ini samperin saya di rumah ya. Kira kira jam setengah lima. Daag".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Reni terdengar merdu. Memang empuk suaranya. Dia telah terbiasa mendengarnya bertahun tahun, sejak kanak kanak. Persahabatan jangka panjang. Bram meneruskan baca koran. Dia bilang sama ibunya kalau akan di traktir Reni nanti sore. Ibunya hanya mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jangan ngendon di kamar saja kau Bram. Tak baik laki laki ngendon di kamar. Jadi pemalas. Kehilangan banyak kesempatan".&lt;br /&gt;" Makanya pengin keluar sekalian ada yang nraktir Bu. Minggu depan akan ke Jakarta. Melamar pekerjaan. Mampir ke Bandung dulu. Minta surat pengantar  pak dhe".&lt;br /&gt;"Bapakmu juga menanyakan apa rencanamu sesudah lulus. Jangan terlalu lama berdiam diri".&lt;br /&gt;" Saya juga ingin cepat dapat pijakan. Prioritas pertama mau melamar di Deplu. Juga melamar ke instansi yang lain tetapi nanti belakangan".&lt;br /&gt;" Saya doakan moga moga terkabulkan impianmu. Tak ingin melamar di pemerintahan daerah ?"&lt;br /&gt;" Nggak tahu Bu nanti belakangan lah. Saya pengin Deplu dulu".&lt;br /&gt;"Bagaimana kabarnya Reni?. Sudah hampir lulus dokter?".&lt;br /&gt;"Baik baik kelihatannya. Dia masih sibuk kepaniteraan klinik di luar kota. Ini baru giliran di Yogya. Masih setahun lagi katanya. Pacarnya keburu nunggu".&lt;br /&gt;" Kau kenal pacarnya? Siapa namanya Bram?"&lt;br /&gt;" Namanya Herman, Saya  belum pernah ketemu. Tapi Reni janji mau dikenalkan ke saya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Bram dan ibu Reni bersahabat sejak muda. Sering bergurau ingin besanan.  Bram tak begitu memperhatikan pertanyaan ibunya. Dia selalu enggan jika ditanya tentang Reni. Tak ada hubungan apa apa. Persahabatan semata.  Jam empat Bram pamitan sama ibunya. Bapaknya masih istirahat di kamar. Dia mengemudikan mobil dengan hati hati. Fiat 1100, mobil kesayangan bapaknya. Pelan pelan merayap dari Suryodiningratan ke utara, lewat alun alun selatan belok kanan. Rumah orang tua Reni dikelilingi tembok dengan gapura besar di depan. Reni telah menunggu di pendopo. Nampak cantik, luwes sekali dengan pakaian  warna ungu. Ada pita di rambut yang hitam mengkilat. Nampak ceria sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Maaf kalau kau lama menunggu Reni."&lt;br /&gt;" Nggak mas. Memang pengin duduk di sini. Angin semilir jam jam segini".&lt;br /&gt;" Sudah pamitan bapak sama ibu?"&lt;br /&gt;" Sudah mas. Mereka mungkin masih istirahat di kamar. Kita langsung berangkat saja. Kecuali kalau mau omong omong dulu".&lt;br /&gt;"Terima kasih. Terus berangkat. Ngobrol sambil jalan".&lt;br /&gt;" Kemana mas Bram? Masih terlalu sore untuk makan malam. Saya pengin ke pantai".&lt;br /&gt;" Boleh kita ke Samas atau ke Parangtritis ?".&lt;br /&gt;" Enak ke Parangtritis. Ada bukit di sana bisa melihat laut dengan lepas"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati plengkung Gading belok ke kiri, sampai pojok beteng membelok ke kanan. Menyusuri jalan ke arah Parangtritis. Suasana sore jalan sudah sepi. Hanya sering terlihat iringan sepeda atau andong ke arah luar kota. Kembali ke tempat masing masing sesudah mencari nafkah di kota. Kiri kanan jalan penuh pepohonan yang rindang. Melindungi para pemakai jalan dari terik matahari. Tiba tiba Reni bicara memecah kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bagaimana kabar teman barumu di Bandung mas? Masih terus berhubungan kan?&lt;br /&gt;" Mungkin baik baik. Hanya sempat ketemu sekali setelah perkenalan itu. Dia tulis surat sekali setelah itu. Baru sempat membalasnya minggu kemarin sesudah pendadaran".&lt;br /&gt;" Katanya jatuh cinta kok nggak menggebu gebu. Seperti jaman Siti Nurbaya".&lt;br /&gt;"Tak ada yang harus kukejar. Saya baru saja lulus. Dia juga sudah menjanda. Lebih baik saling menyelami dan saling mengenal dulu".&lt;br /&gt;"Apa mas Bram tak merasa tergesa gesa?"&lt;br /&gt;"Saya baru akan berpikir kawin jira sudah mapan. Paling tidak karier sudah jelas. Di jalan yang benar".&lt;br /&gt;"Tetapi kan mas Bram cinta betul sama dia. Siapa namanya? Lupa saya".&lt;br /&gt;"Namanya Rosa. Pipit Rosalina. Saya yakin mencintainya. Hanya belum berani memastikan sekarang. Hanya masalah waktu".&lt;br /&gt;: Baru pertama kali bertemu langsung jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertamakah?".&lt;br /&gt;” Dalam bis itu gelap gulita Reni. Gimana mau jatuh cinta pada pandangan pertama?".&lt;br /&gt;" Kok mas Bram yakin betul kalau jatuh cinta sama Rosa".&lt;br /&gt;" Secara instink, tanpa sengaja, kami melakukan perbuatan diluar batas. Saya begitu terpana melihat dia pasrah di pelukan saya. Menikmati belaian saya. Mencapai puncak kenikmatan dalam pelukan saya. Perasaan saya terbawa. Seolah kami berdua berjalan dalam kegelapan malam menyongsong esok pagi".&lt;br /&gt;" Hiih kok bisa sampai sejauh itu. Kita bergaul rapat. Bergurau hangat. Kadang kadang berdua sendirian dalam kamar. Tak pernah sampai meremas jari jemari. Semua berjalan wajar. Normal normal saja".&lt;br /&gt;" Kita bersahabat layaknya saudara dekat. Hubungan kita sangat platoonis. Tak pernah ada asmara dan nafsu birahi menggelora. Reni saya selalu menganggap kau layaknya adikku".&lt;br /&gt;" Asmara memang aneh mas Bram. Saya tak tahu apakah saya mencintai mas Herman sepenuhnya. Hanya merasa dekat. Tetapi hubungan kami rasanya sangat formal".&lt;br /&gt;" Perjalanan hidup memang penuh warna. Banyak hal tak terduga. Banyak pilihan. Kita harus mampu menetukan pilihan terbaik ke depan Reni".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sampai di pantai menjelang matahari terbenam. Langit memerah di cakrawala. Permukaan lautan yang luas dan tenang. Indah dan damai. Hening mereka tenggelam dalam alunan pikiran masing masing. Bram menggandeng tangan Reni dengan limpahan rasa sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram, jira kita sudah terikat dengan pasangan masing masing apa bisa menikmati kedekatan seperti ini ya?".&lt;br /&gt;" Kita akan tetap bersahabat. Bahkan bersaudara. Persaudaraan yang abadi. Tetapi kita mungkin sudah terikat dengan pasangan dan keluarga masing masing".&lt;br /&gt;" Mungkin tak sempat memikirkan apa yang pernah kita lalui bersama ya?".&lt;br /&gt;" Kita masing masing akan punya babak baru dalam hidup kita Reni. Kau tahu saya tak punya teman putri yang lain. Hanya kau sahabatku. Saudaraku".&lt;br /&gt;"Terima kasih. Semoga anda selalu bahagia. Terkabul cita citamu mas. Mantapkan hatimu dengan orang yang kau cintai. Saya akan selalu berdoa untukmu. "&lt;br /&gt;" Reni persahabatan kita akan berjalan sepanjang masa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram mengakhiri percakapan dengan memeluk Reni. Berpelukan dalam keheningan masing masing. Persahabatan yang intens.  Lewat jam enam Bram dan Reni masuk salah satu rumah makan di pantai. Angin malam bertiup sepoi. Mnghantar hawa sejuk dari laut. Sesejuk dan sedamai pasangan sahabat. Sahabat dalam arti yang sebenarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-6430791633199185726?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/6430791633199185726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/15-pacuan-belum-selesai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/6430791633199185726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/6430791633199185726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/15-pacuan-belum-selesai.html' title='(15) Pacuan belum selesai'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-6777531296066320839</id><published>2009-04-17T15:54:00.001-07:00</published><updated>2009-04-17T15:57:03.161-07:00</updated><title type='text'>(14) Surat dari Yogya</title><content type='html'>Enam bulan telah lewat sejak pertemuan terakhir dengan Bram. Paling tidak dua tiga bulan sekali, Rosa ke Yogya untuk mengurus pemasaran pakaian jadinya. Dengan Barm, dia belum menceritakan kisah masa lalunya bersama Dedi. Asmara yang menggebu yang akhirnya kandas dalam perkawinan yang gagal. Tetapi lega rasanya telah menyampaikan kondisi yang sebenarnya tentang dirinya. Tentang Tita. Bahwa dia seorang janda. Terhempas dalam perjalanan perkawinan. Tak ada beban lagi. Apapun yang terjadi akan dihadapi dengan tenang. Tak ada yang perlu ditutupi. Inilah saya. Inilah Rosa bersama Tita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang terbersit kegetiran, mengapa tak ada kabar dari Bram? Mungkin dia kecewa mengetahui dirinya seorang janda ? Tak tahulah. Mungkin juga sedang sibuk menyelesaikan ujian akhirnya. Secara tak sadar dia mengharap sesuatu. Menanti kabar dari Bram. Menunggu sepucuk suratnya. Ingin rasanya menulis sesuatu. Tetapi nalurinya mengingatkan untuk menahan diri. Biarlah, apa yang terjadi, terjadilah. Apapun  yang akan datang akan diterima dengan sabar. Mencoba sabar setelah menyadari dia terburu buru dalam kisah asmara menggebu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan rumah tangga Rosa tak hanya berdampak terhadap kehidupan pribadinya. Juga ke keluarganya. Bapak Kusuma, ayahnya seolah tak lagi bersemangat mengembangkan usahanya. Pabrik tekstil yang dirintis bertahun tahun dan mulai berkembang, lebih banyak dikendalikan oleh  isteri bersama anak lelakinya Iwan. Iwan sebenarnya masih kuliah. Tetapi dia juga kurangi kegiatan akademiknya dan lebih banyak terlibat dalam pengelolaan perusahaan. Membantu mamanya. Sementara Rosa semakin menekuni produksi pakaian anak. Membutuhkan perhatian khusus. Dalam sebulan paling tidak selama seminggu dia harus mengunjungi toko toko pelanggannya di berbagai kota. Tita sudah terbiasa ditinggal sang mama. Dia dekat dengan bibik Irah, dengan Oom Iwan dan dengan oma dan opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore rosa dan mamanya duduk duduk di depan pavillion. Menikmati udara sore hari sambil minum teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Rosa, Dedi  tak pernah menanyakan kabar anaknya?'&lt;br /&gt;" Tidak ma. Saya senang tak ada komunikasi. Status sudah jelas. Dia tak ingin diganggu dan memutuskan hubungan"&lt;br /&gt;"Apakah kau tak bermaksud  kontak dengan orang tua Dedi di Jakarta ?"&lt;br /&gt;"Biarlah ma. Saya memang tak berminat sama sekali. Tak ada kata kata sewaktu saya melahirkan Tita. Tak ada berita sewaktu ayah Tita pergi ke Australia. Ini semua sudah menjadi garis perjalanan hidup saya bersama Tita"&lt;br /&gt;" Hati hati selalu nak. Saya dan ayahmu masih sedih melihat semua ini. Lihatlah papamu jadi begitu pendiam sekarang".&lt;br /&gt;"Papa sama mama tak perlu terlalu sedih memikirkan saya. Bukankah saya telah bangkit? Usaha saya sangat berkembang. Dan saya sangat bahagia. Semua untuk Tita".&lt;br /&gt;"Teman baru mu dari Yogya, Bram, gimana kabarnya?"&lt;br /&gt;Rosa terkejut mendengar pertanyaan itu. Tak menyangka mamanya menanyakan  masalah itu. Dalam hatinya yang dalam, terbersit harapan bertemu kembali dengan Bram. Dalam suasana yang lebih tenang. Ingin bicara dan membuka semuanya. Semua tentang masa lalunya.&lt;br /&gt;"Bung Bram sedang sibuk ma. Menyelesaikan ujian akhirnya. Saya juga menunggu berita darinya. Moga moga telah beres semuanya".&lt;br /&gt;"Hati hati nak. Jangan terlalu menaruh harapan. Dunia tak selalu seperti yang kita harapkan".&lt;br /&gt;"Papa sekarang kok diam sekali ya ma. Kasihan dia"&lt;br /&gt;"Dia terpukul benar dengan kegagalanmu. Kamu anak kesayangannya. Kebanggaannya. Dia akan bahagia melihatmu bahagia. Jangan mengeluh ke papamu".&lt;br /&gt;"Enggak ma. Saya telah menerima semuanya. Melupakan semuanya. Hanya melihat ke depan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan sekilas dengan mamanya memberi kesadaran yang dalam buat Rosa. Dia tak ingin melihat apa dan mamanya terbebani karena dia. Dia mantap ingin menunjukkan kalau dirinya kuat. Menjalani perjalanan hidup yang berat ke depan. Esok hari sesudah percakapan itu, sepucuk surat datang dari Yogya. Dari Bram. Kabar yang ditunggu tunggu selama ini. Dia berdebar. Gembira menerima surat itu. Dia baca dengan tenang di  malam hari setelah Tita tidur. Dengan tenang. Apapun isinya.  Tulisan tangan yang indah tertuang dalam  kertas warna jambon lembut. Hatinya berdesir membaca kata demi kata dalam surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Salam hangat buat  Rosa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku ingin menulis sesuatu buatmu. Namur maaf saya selalu ragu untuk mengirimnya. Ragu  bagaimana mengungkapkan pikiran dan perasaan saya dalam surat. Inilah surat saya yang pertama. Moga moga kau membacanya dalam suasana yang tenang. Terima kasih sekali atas surat yang kau kirimkan beberapa bulan lalu. Saya masih baca berulang kali. Sambil membayangkan wajahmu yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana saya harus mulai surat ini ?  Saya ingin sejak dari awal. Sejak kita berkenalan. Saya merasa begitu bahagia ketika berjumpa dan berkenalan denganmu. Dalam perjalanan malam ke Bandung. Banyak harapan dan impian datang dalam benak saya. Mengenai hubungan kita selanjutnya. Ingin berjalan bersamamu menatap masa depan. Melintasi kegelapan malam menatap esok hari yang indah. Seolah perjalanan malam itu menggambarkan kelanjutan persahabatan kita. Saya berharap dan berimaginasi. Impian dan harapan ini yang membawa saya melakukan sesuatu yang tak patut malam itu. Mohon maaf sekali lagi. Saya melakukannya bukan karena iseng. Saya lakukan itu dengan impian indah dan harapan perjalanan ke depan. Dengan penuh rasa hormat dan penghargaan buatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa,&lt;br /&gt;Tak banyak waktu kita untuk saling mengenal lebih dalam. Juga tak banyak kesempatan untuk memikirkan masa depan persahabatan kita. Tetapi rasa kekaguman dan kedekatan saya tak terusik sedikitpun saat kau menceritakan tentang Tita. Tentang dirimu. Kekaguman saya tak akan lekang oleh panas. Tak akan lapuk oleh hujan. Abadi sepanjang masa. Hanya keraguan bagaimana melewati banyak pertanyaan dan ketidak mengertian. Dari keluarga. Dari kerabat dan sahabat. Saya akan mencobanya dan akan  datang padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja menyelesaikan pendidikan saya. Minggu kemarin baru saja pendadaran. Seolah mengharapkan kau menemani saat pendadaran itu. Walau kita hanya sahabat. Persahabatan yang moga moga berkembang abadi untuk hidup kita bersama. Saya akan segera mencari pekerjaan. Minggu minggu ke depan akan ke Jakarta. Saya akan sempatkan ke Bandung dan menemuimu. Banyak hal yang perlu kita bicarakan. Mungkin belum bisa kita putuskan. Tak perlu tergesa kan ? Tak ada yang mengejar. Kita bicara tentang perjalanan panjang. Perjalanan hidup menyusur waktu ke masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hangat dari Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-6777531296066320839?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/6777531296066320839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/14-surat-dari-yogya.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/6777531296066320839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/6777531296066320839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/14-surat-dari-yogya.html' title='(14) Surat dari Yogya'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-5498925309473031663</id><published>2009-04-09T23:47:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T23:50:09.355-07:00</updated><title type='text'>(13) Selamat tinggal kesunyian</title><content type='html'>Dari hari ke hari, Rosa hanya menanti. Menanti kedatangan Dedi sebelum berangkat ke Australia. Ingin mendengar kata kata dan  selamat tinggal. Dia ingin memeluknya dan membisikkan kata kata mesra perpisahan. Dia akan menunggu. Dia akan mendoakan keberhasilan Dedi demi kebahagiaan mereka bertiga. Namun sampai hari keberangkatannya. Dedi tak pernah  muncul. Tak ada kata perpisahan. Tak juga lewat telepon. Rosa tetap menunggu dalam kesunyian yang dalam. .Namun dia terhibur karena  Tita. Hanya bersama Tita dia menyelami hari hari yang sunyi. Kira kira sebulan kemudian, dia menerima kiriman warkat pos. Alamat pengirim tak jelas. Dari NewCastle, Australia. Ternyata dari Dedi. Isinya singkat dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Rosa sayang,&lt;br /&gt;Maaf jika saya tak sempat datang ke Bandung sebelum berangkat. Sampai detik detik terakhir sebelum keberangkatan, saya masih begitu sibuk menyelesaikan dokumen dokumen kontrak di kantor. Bahkan saya tak sempat pamitan dengan mama dan papa. Mereka sedang keluar kota. Hanya bicara lewat tilpon. Moga moga anda dan Tita selalu sehat sehat saja. Sampaikan maaf saya ke papa dan mamamu. Juga ke Iwan. Mohon maaf jika saya tak sempat pamitan ke mereka. Perpisahan ini hanya sementara. Walau mungkin akan lama. Paling tidak dua tahun. Saya akan mencoba pulang menengokmu setelah setahun menjalani program. Saya harap Rosa bisa mengerti situasi yang saya hadapi. Semua demi kebahagiaan kita bersama.&lt;br /&gt;Sayang selalu untukmu dan untuk Tita,&lt;br /&gt;Salam dari Newcastle,&lt;br /&gt; Dedi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rosa membaca pesan itu dengan tenang. Ada kekecewaan yang dalam. Namur perasaan itu diredamnya dalam dalam. Dia tak lagi menangis dan merasa sedih. Rasa jengkel dan marah mulai marayap dalam hatinya. "Tega benar dia meninggalkan saya dan Tita tanpa  kata perpisahan". Semua  kekecewaan, jengkel dan marah diredam dalam hati. Dia hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok Dedi tak datang datang lagi Rosa? Baik baik kan semuanya?" Mamanya  suatu sore  bertanya.&lt;br /&gt;" Iya ma mungkin saja sedang sibuk pekerjaan"&lt;br /&gt;"Sibuk sih bisa saja. Tetapi masak nggak kasih kabar sedikitpun?"&lt;br /&gt;Rosa tak bisa  berucap apa apa. Hanya membisu. Matanya berkaca kaca. Tak bisa mengendalikan.&lt;br /&gt;"Ada apa nak? Ada sesuatu yang nggak beres? Katakan apa adanya".&lt;br /&gt;"Ma, kak Dedi ke Australia sudah sebulan ini. Mungkin lama karena ambil program paska di sana"&lt;br /&gt;"Apa katamu? Dia ke Australia? Mengapa nggak  pamitan sama mama dan papamu?. Dia bilang sama kau?"&lt;br /&gt;"Iya ma, waktu ke sini bulan lalu, dia bilang singkat. Saya pikir dia masih akan datang ke sini untuk pamitan".&lt;br /&gt;"Moga moga semuanya baik baik saja nak. Tetapi keterlaluan. Tak ada kata sepatahpun untuk papa dan mamamu"&lt;br /&gt;"Dia mohon maaf ma untuk mama dan papa. Katanya tak sempat pamitan. Juga tak sempat pamit sama papa dan mamanya. Sangat sibuk sampai menjelang berangkat".&lt;br /&gt;"Pekerjaan memang tak akan ada habisnya kalau dituruti. Tetapi tak harus melupakan keluarga, tak harus melupakan anak isteri".&lt;br /&gt;'Saya baru terima suratnya dari NewCastle hari ini ma. Saya siap sendirian dalam waktu yang lama. Bersama Tita".&lt;br /&gt;"Saya akan bilang sama papamu. Kau harus tegar dan tabah nak. Jangan gampang menyerah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan berganti bulan. Irama hidup sehari hari berjalan seperti sedia kala. Rosa masih sempat mengikuti kegiatan perkuliahan. Tidak teratur seperti dulu. Dia harus meluangkan waktu untuk Tita.  Kadang kadang berita datang dari Dedi. Cuma singkat mengabarkan bahwa semuanya berjalan baik. Tak banyak menanyakan keadaan Tita. Kadang berbulan bulan tak ada berita. Rosa juga tak berminat mencari tahu atau menghubungi. Juga tak mencoba menghubungi papa dan mama Dedi di Jakarta. Bulan bulan pertama Rosa kadang kadang mencoba tilpon orang tua Dedi. Tetapi pembicaraan terasa kaku. Sama sekali tak akrab. Mungkin dia sendiri yang merasa tak bisa akrab. Tak tahulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa menyadari kalau dia tak bisa sekedar mengharapkan hidup dari papa dan mama. Dia ingin mandiri, paling tidak mempunyai sesuatu sendiri. Meski sebenarnya papa dan mamanya tak mengharapkannya. Mereka tak kekurangan materi sedikitpun. Mama dan papanya punya pabrik tekstil yang sudah berjalan. Rosa akhirnya memutuskan memulai usaha sendiri. Usaha pakaian jadi. Membuat pakaian anak anak. Mungkin karena dia selalu memikirkan pakaian untuk Tita. Dia berpikir, kalau bisa memproduksi sendiri pakaian anak. Mulai usaha kecil kecilan. Dia mulai menggaji beberapa pegawai dan menggunakan ruang pavillion samping untuk tempat usaha. Papa dan mamanya sangat mendukung dan selalu memberikan pendapat bagaimana meningkatkan mutu dan memasarkan pakaian jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir terlupakan kesunyian yang selama ini membayangi. Lewat setahun setelah kepergian Dedi, tiba tiba saja di satu siang sehabis makan siang dia menerima suratnya. Isinya singkat tetapi  mengubah jalan hidupnya ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Rosa yang baik,&lt;br /&gt;Semoga kau dan Tita selalu dalam keadaan baik  di Bandung. Saya di NewCastle juga selalu dalam keadaan baik. Lama saya tak memberi kabar. Memang  sangat sibuk menghadapi kuliah. Tetapi ada sesuatu yang membuatku lama tak menulis. Semakin lama saya semakin menyadari jika kita mungkin tak bisa berjalan bersama. Selama ini saya hanya mengejar cita cita masa depan saya sendiri. Tak banyak memperhatikanmu dan Tita. Saya merasa tak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami dan seorang ayah. Biarlah saya pasrah menerima keadaan ini. Rosa, semoga kau bisa memperoleh kebahagiaan walau tanpa aku. Kerjarlah cita cita dan kebahagiaanmu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu dalam keadaan yang leih baik.&lt;br /&gt;Salam dari New Castle, Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Surat itu dibacanya dengan tenang.. Tak ada kesedihan karenanya. Tak ada dendam dan kemarahan. Dia semakin mantap untuk bekerja keras mengembangkan usahanya demi anaknya . Demi Tita. Dia sudah duduk di tahun ketiga fakultas ekonomi ketika harus memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah. Demi anak dan demi kelancaran usahanya. Tak bisa semuany dijangkau pada saat yang sama. Harus mengambil keputusan mana yang perlu diprioritaskan.  Proses perpisahan dengan Dedi berjalan lancar walau makan waktu lama. Dia juga tak banyak menuntut. Dia merasa mampu sendiri melakukan segalanya demi masa depan Tita. Tak perlu mengharapkan uluran Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya menjadi cerita masa lalu Dia ingin melupakannya. Dia hanya ingin melihat ke depan. Apapun jadinya. Usaha pakaian jadinya dia kembangkan. Dia buka workshop untuk memproduksi pakaian jadi khusus pakaian anak. Dia beri merk produknya  Titania. Semuanya demi Tita. Selamat tinggal kesunyian. Selamat tinggal kepedihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-5498925309473031663?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/5498925309473031663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/13-selamat-tinggal-kesunyian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/5498925309473031663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/5498925309473031663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/13-selamat-tinggal-kesunyian.html' title='(13) Selamat tinggal kesunyian'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-1830726331103976426</id><published>2009-04-09T19:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T19:21:04.184-07:00</updated><title type='text'>(12)  Akhir sebuah impian</title><content type='html'>Beberapa bulan setelah melangsungkan pernikahan, Dedi lulus dan menyandang gelar sarjana ekonomi. Rosa sangat bangga dengan keberhasilan sang suami. Dia yakin benar, cita cita masa depannya menjadi wanita karier atau pengusaha sukses bisa tetap di kejar walaupun dia telah berkeluarga. Dia menaruh harapan bahwa Dedi akan mendorong dan memberikan bimbingan baginya berjalan ke depan. Suatu sore Dedi mengutarakan rencana mengejutkan. Dia akan kembali ke Jakarta. Bergabung dengan perusahaan papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rosa, kesempatan untuk bergerak di Bandung sangat terbatas. Saya tak berani memulai dari nol di sini"&lt;br /&gt;"Kak semuanya harus sabar. Tak ada yang turun dari langit. Kita mulai sedikit demi sedikit di sini. Kita berdua berusaha".&lt;br /&gt;"Papa sama mama penginnya saya bergabung dengan perusahaan papa. Sedang investasi besar besaran untuk perluasan"&lt;br /&gt;Papa Dedi punya banyak perusahaan. Bergerak di berbagai bidang. Import ekspor, distributor, supplier barang barang kebutuhan kantor beberapa departemen pemerintah.&lt;br /&gt;"Jika begitu apa saya berhenti kuliah dan pindah Jakarta?".&lt;br /&gt;" Lebih baik kau meneruskan kuliah di Bandung Rosa. Saya akan balik tiap dua minggu. Nanti kalau semua sudah mapan. Jika anak kita lahir pindah ke Jakarta".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tak ada pertanda jelek pada awalnya. Dedi selalu menengok datang ke Bandung setiap dua minggu. Jum'at malam sampai Bandung, Senin pagi berangkat Jakarta. Kehidupan mereka normal normal saja. Biasa banyak pasangan penganten baru yang harus hidup terpisah beberapa saat. Menunggu sampai pekerjaan stabil. Rosa masih terus mengikuti perkuliahan meskipun perutnya semakin membesar. Hanya kegiatan diskusi dan kelompok belajar dia tak bisa ikut. Sore hari penginnya istirahat di rumah. Dia rajin membaca bahan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang umur kehamilan ke tujuh, Dedi agak jarang datang ke Bandung. Alasannya sibuk, pekerjaan tak bisa ditinggalkan. Sering harus pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan. Rosa tak begitu merisaukan walau kadang sering merasa sepi. Dia hanya bicara dengan suaminya lewat tilpon, kalau tidak sedang bepergian. Rasanya pengin sekali dia ikut ke Jakarta. Tetapi Dedi selalu bilang, kalau di Jakarta suasana nggak enak. Lari ke sana kemari. Dia akan kesepian jika ikut ke Jakarta. Memang sejak pernikahan itu, Rosa belum sekalipun diajak ke Jakarta. Pengin dia bertemu dengan mertua, papa dan mama Dedi serta adik adiknya. Rosa hanya bisa mengiyakan meskipun dia sebenarnya pengin sekali ikut hijrah ke Jakarta. Dia pupus harapannya, inilah pengorbanan demi kebahagiaan bersama, demi masa depan dan demi anak yang dikandungnya. Semua pasangan baru pasti mengalami masa masa sulit untuk meniti perjalanan ke depan. Belum mapan. Semuanya masih berjuang untuk menata kehidupan berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saat menjelang kelahiran bayinya, Rosa semakin rajin menilpun Dedi. Dua minggu sebelum hari perhitungan lahir, dia ingatkan agar siap siap menunggu kelahiran bayi mereka. Dedi memang mengiyakan akan datang ke Bandung waktu itu. Tetapi kemudian dia bilang bahwa ada jadual pekerjaan yang tak bisa ditinggal'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Minggu depan saya harus ke Medan dan Pekan Baru. Ada kontrak yang harus dibicarakan tuntas sebelum ditanda tangani".&lt;br /&gt;"Apakah tidak ada orang lain yang bisa mewakili perusahaan kak. Saya butuh kau bersama di sini?"&lt;br /&gt;"Saya usahakan semaksimal mungkin Rosa. Hanya papa, mama atau saya yang bisa menuntaskan urusan ini. Papa ada janji dengan mitra investor Korea. Mereka juga akan datang dalam waktu bersamaan".&lt;br /&gt;"Gimana saya mesti bilang sama mama dan papa jira kak Dedi nggak menunggu saya melahirkan? Rosa hampir terisak dalam tilpon. Dia tak bisa percaya kalau pekerjaan bisa demikian menyita kehidupan suazi isteri.&lt;br /&gt;"Sampaikan maaf saya untuk papa dan mama. Saya akan datang secepat mungkin sesudah urusan selesai semuanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak semuanya dikatakan ke papa dan mamanya. Semua dipendam dan dirasakan sendiri. Hanya dia bilang sambil lalu kalau Dedi sedang sibuk luar biasa karena pekerjaannya. Agar papa dan mamanya tidak terkejut betul jika Dedi tak menunggu saat dia melahirkan nanti. Ketika waktu melahirkan datang, hanya adiknya Iwan yang ada di dekatnya. Rosa diantar Iwan ke rumah sakit bersalin. Mama dan papanya menyusul kemudian. Mereka baru membereskan urusan pabrik textil yang tengah mulai berproduksi di daerah Bandung selatan. Rosa minta Iwan menghubungi Dedi, namur tak pernah berhasil bicara langsung dengan dia. Iwan hanya meninggalkan pesan kalau kakaknya Rosa di rumah sakit akan melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu sore, Rosa akhirnya melahirkan dengan selamat. Semua lancar. Semua cerah secerah hawa Bandung sore hari. Seolah semua bahagia menyambut kedatangan bayi yang dikandung. Tetapi hati Rosa tetap gundah. Dedi tak juga muncul. Tak ada tilpun. Tak ada pesan. Iwan ikut merasakan kesenduan kakaknya. Tetapi dia hanya berdiam diri. Ketika kedua orang tuanya hadir di rumah sakit, Rosa tak mengungkapkan gejolak hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada berita dari suamimu?" papanya bertanya.&lt;br /&gt;"Mungkin masih di Medan pa. Tetapi Iwan sudah meninggalkan pesan lewat tilpon di rumahnya".&lt;br /&gt;"Moga moga dia cepat menghubungimu'.&lt;br /&gt;"Tak apa, tak ada yang perlu tergesa gesa. Moga moga saja kak Dedi cepat datang dan lihat anaknya".&lt;br /&gt;"Tak semua ayah bisa menunggu kelahiran anak pertama. Banyak peristiwa terjadi bersamaan. Tetapi moga moga dia cepat datang Rosa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama hanya berdiam diri. Dia memendam kekecewaan yang dalam. Tak suka dia memperlihatkannya. Hanya berdiam diri. Mencoba menghibur Rosa sebaik mungkin. Hari Senin pagi, Rosa kembali ke rumah bersama bayinya. Dia sudah siap dan merasa mantap menimang dan membesarkan bayinya sendirian. Jika memang harus demikian. apa boleh buat. Tak bisa berandai andai menunggu. Mungkin saja Dedi memang belum siap menerima kenyataan menjadi seorang ayah. Dengan persetujuan papa dan mamanya dia beri nama anaknya Titania Puspasari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu sore, Dedi akhirnya datang.. Naik suburban 4848. Wajahnya nampak lelah dan kuyu. Tak menyiratkan kegembiraan.&lt;br /&gt;" Maaf saya tak bisa tilpon dari Pekan Baru Rosa. Hubungan telepon tak lancar. Saya terima pesan Iwan waktu tiba di Jakarta. Langsung ke sini".&lt;br /&gt;"Semuanya lancar kak. Hanya papa sama mama yang menanyakan kak Dedi. Saya beri nama Tita. Titania Puspasari"&lt;br /&gt;"Nama yang indah. Dia cantik seperti kau" Dedi memandang sekilas bayi di ranjang.&lt;br /&gt;"Kak kapan saya bisa ikut pindah ke Jakarta?. Kan sesudah melahirkan, kita rencana pindah Jakarta".&lt;br /&gt;"Tak usah tergesa Rosa. Biar Tita agak besar sedikit. Supaya nggak repot nanti"&lt;br /&gt;"Kita akan tinggal bersama keluarga papa dan mama atau mau kontrak rumah sendiri nanti?'&lt;br /&gt;"Mungkin tinggal bersama papa dan mama sementara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya semalam Dedi menunggu Rosa. Hari Minggu siang dia harus kembali ke Jakarta. Hari Senin ada acara rapat di kantor. Rosa mencoba menahannya untuk tinggal beberapa hari lagi. Tak bisa meninggalkan pekerjaan katanya. Tak ada orang yang bisa menggantikannya di kantor. Dedi lebih banyak merenung selama di bandung. Tak sempat ke luar kemana mana. Hanya diam di kamar bertiga dengan bayi Tita. Semalam sempat bicara sebentar dengan papa dan mama. Mereka menanyakan gimana rencana lebih lanjut. Dedi menjawab jika belum punya rencana pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi menjelang keberangkatan ke Jakarta Dedi ingin membicarakan sesuatu dengan Rosa.&lt;br /&gt;"Rosa, ada sesuatu yang musti saya beritahukan padamu."&lt;br /&gt;"Apakah menyangkut kita bertiga?"&lt;br /&gt;"Ya sedikit banyak menyangkut kita sekeluarga. Masa depan kita bersama"&lt;br /&gt;"Katakan jira saya bisa membantumu kak"&lt;br /&gt;"Sebenarnya sudah rencana lama. Tetapi saya tak pernah mengungkapkannya padamu. Saya ingin menempuh program paska sarjana di Australia"&lt;br /&gt;"Berarti harus pisah jauh beberapa tahun kak. Paling tidak kan dua atau tiga tahun. Ada kemungkinan kami ikut nanti?".&lt;br /&gt;"Iya paling tidak dua tahun. Saya tak tahu nanti mungkin kamu bisa menyusul bersama Tita. Tetapi bukan saat saat awal ini".&lt;br /&gt;"Kapan rencana berangkat ?"&lt;br /&gt;" Kira kira dua minggu lagi. Surat panggilannya baru saya terima saat kembali dari Pekan Baru kemarin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa tak bisa menutupi rasa sedihnya. Dia hanya menangis lirih. Dia ingin hidup seperti kebanyakan keluarga baru. Hudp bersama dan menikmati kebahagiaan. Bukan masalah uang semata. Dia tak pernah merasa kekurangan. Tetapi ketersendirian tanpa kebersamaan dengan suami itulah yang menyiksanya. Dia peluk suaminya dan menangis lirio di dada Dedi. Kesunyian yang mencekam. Keduanya tenggelam dalam perasaan masing masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum berangkat, usahakan ke sini dulu ya kak. Juga pamit sama papa dan mama".&lt;br /&gt;"Saya belum mengatakannya ke papa dan mamamu. Mungkin besok saja kalau mau berangkat ya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu dia mengantar Dedi sampai pintu halaman. Dia seolah merasakan kehilangan orang yang diicintainya. Untuk masa yang lama.&lt;br /&gt;"Ah moga moga ada jalan. Mungkin juga ini jalan terbaik untuk kami bertiga".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-1830726331103976426?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/1830726331103976426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/12-akhir-sebuah-impian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/1830726331103976426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/1830726331103976426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/04/12-akhir-sebuah-impian.html' title='(12)  Akhir sebuah impian'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-5626826147959812148</id><published>2009-03-01T02:47:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T03:15:10.586-08:00</updated><title type='text'>(11) Terhempas</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/Saps3SqLhcI/AAAAAAAAAI4/RSnV7zvFKSQ/s1600-h/GNVDSC01241.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308174807966909890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/Saps3SqLhcI/AAAAAAAAAI4/RSnV7zvFKSQ/s200/GNVDSC01241.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari hari ceria bagi Rosa dan Dedi seolah berjalan dalam mimpi. Dunia menjadi milik mereka berdua. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tenggelam dalam kesibukan kuliah. Dalam waktu senggang, dia nikmati waktu bersama Dedi. Dedi orangnya pendiam, serius, penuh cita cita masa depan. Dia harus menjadi penerus ayahnya menjalankan roda perusahaan yang semakin membesar. Dia ingin belajar dan menggali pengalaman sebanyak mungkin. Ingin meneruskan studi ke luar negeri. Semua rencana diberitahukan ke Rosa. Mereka sama sama yakin akan hidup bersama meraih impian masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Rosa, cita citanya terukir indah. Bersama Dedi yang dinamis. Seolah tak ada jalan ke depan tanpa Dedi. Semua pilihan tertumpu pada keterikatannya dengan Dedi. Mengukir masa depan yang gemilang. Untuk itu dia serahkan segalanya. Dia nikmati segalanya. Keheningan yang membara saat menikmati kebersamaan badan bersama Dedi selalu melayang dalam lamunan yang indah. Melayang di awang awang di antara irama napas yang memburu. Tak peduli resiko. Tak peduli kejadian sekitar. Hanya mimpi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, bangun tidur Rosa merasa tidak enak badan. Malas mau berangkat kuliah. Sudah berhari hari tak merasa enak badan. Juga beberapa hari ini tak sempat bertemu dengan Dedi. Dia ke kamar mandi. Ingin mandi biar badan terasa segar. Tiba tiba saja merasa mual di kamar mandi. Muntah muntah ketika membau odol saat sikat gigi. Badannya lemas tak keruan. Ada ketakutan. Kekhawatiran yang wajar. Dia belum datang bulan. Biasanya sekitar awal bulan. Ini sudah tiga minggu belum datang juga. Tiba tiba rasa takut menyelinap. Dia cepat cepat tilpun Dedi.&lt;br /&gt;"Kak Dedi, saya ingin ketemu hari ini juga. Ada yang ingin saya bicarakan".&lt;br /&gt;" Jika anda ada waktu sore ini lihat sinema di Braga. Saya kebetulan tak sibuk".&lt;br /&gt;" Iyalah. Yang penting saya pengin ketemu". Rosa menegaskan.&lt;br /&gt;"Sampai ketemu sore nanti ya. Pakai baju warna lila itu. Kau cantik sekali".&lt;br /&gt;Rosa tak menyahut. Pikirannya kalut. Rasa takut membayanginya. Jangan jangan. "Ah tak mungkin. Saya selalu hati hati menghindari masa subur"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Rosa tak berangkat ke kampus. Dia hanya tiduran di kamar. Ibunya bertanya kenapa nggak kuliah. "Tak ada pelajaran mami. Dosennya ke luar kota". Ibunya tak bertanya lebih jauh. Mama Kusuma selalu sibuk dengan industri tekstil yang dirintis bersama suaminya beberapa tahun lalu. Kebijakan pasar terbuka, membuka peluang untuk usaha swasta. Jam empat sore Dedi datang menjemput. Rosa tak sempat berbasa basi. Mereka cepat cepat berangkat. Mau nonton film di Braga. Rosa tak banyak bicara seperti biasanya.&lt;br /&gt;"Mengapa kamu diam saja Rosa?"&lt;br /&gt;"Saya takut. Saya belum datang bulan. Sudah terlambat 3 minggu".&lt;br /&gt;"Nggak usah takut. Nanti kita bicarakan. Bukan masalah besar".&lt;br /&gt;Mereka berdua diam saja dalam sinema. Rosa tak bisa konsentrasi menikmati film itu. Pikirannya melayang. Bayangan ketakutan menyelinap. Jika dia harus meninggalkan kuliah. Jika dia harus kehilangan impian impiannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu Rosa periksa dokter. Dokter Agung, praktek di jalan Purnawarman. Dia diantar Dedi. Dengan sabar dokter memberi nasehat agar tidak panik. Tidak perlu bingung. Setelah melakukan pemeriksaan dan test, dokter memberitahu Rosa dengan sabar.&lt;br /&gt;"Rosa, berbahagialah. Anda hamil delapan minggu. Jaga benar benar kesehatanmu"&lt;br /&gt;Rosa tertegun. Matanya menerawang basah. Tak tahu apa yang harus dikatakan.&lt;br /&gt;"Dok, saya masih kuliah. Saya mungkin tak siap".&lt;br /&gt;"Jangan kecil hati nyonya muda. Saya punya anak pertama sewaktu masih kuliah di tahun ke empat. Isteri saya masih di tahun kedua. Kami bisa menjalankan tugas orang tua sembari kuliah".&lt;br /&gt;"Iya dok. Mohon doa restu saja".&lt;br /&gt;Rosa meninggalkan tempat praktek dokter dengan gundah. Dia diam membisu. Di dalam mobil dia katakan dengan singkat ke Dedi.&lt;br /&gt;"Kak Dedi, saya hamil delapan minggu". Dedi nampak terkejut. Wajahnya memucat. Dia mencoba tenang dan tak banyak berkata.&lt;br /&gt;" Kita berdua belum siap Rosa. Apa yang akan kita lakukan? Nggak bisa dihentikan?&lt;br /&gt;"Dihentikan berarti digugurkan kak. Saya nggak sampai hati. Ini anak kita".&lt;br /&gt;" Iya Rosa. Cuma bagaimana dengan rencana studi kita? Apakah dapat tercapai jika kita berkeluarga dan beranak?"&lt;br /&gt;" Rencana terpaksa berubah. Masih banyak jalan dan pilihan lain. Biarlah janin ini hidup. Saya ingin membesarkannya. Apapun yang terjadi. At any price".&lt;br /&gt;Dedi hanya diam. Tak ada gunanya berdebat atau saling menyalahkan. Dia menyadari, ini kesalahannya dan kesalahan mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mama begitu terkejut ketika Rosa dengan tangis tertahan mengatakan bahwa dia hamil. Dia begitu terpukul karena dia percaya sepenuhnya jika Rosa selalu taat dan mampu menjalankan petuah petuahnya. Penyesalan tak ada artinya. Selama ini mama Kusuma selalu sibuk dengan bisnisnya. Tak banyak waktu bersama dengan kedua anaknya. Iwan dan Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, Dedi dan Rosa dipanggil dan diajak bicara bersama. Papa Rosa nampak begitu terguncang menghadapi kejadian yang menimpa putri kesayangannya. Dia juga tak banyak bicara. Dengan singkat dia berkata.&lt;br /&gt;"Dedi, kejadian ini sangat memukul kami. Sangat mengecewakan. Tetapi semuanya telah terjadi. Kami hanya menginginkan agar semua diselesaikan secara bertanggung jawab. Tolong bilang sama papi dan mami. Bilang apa adanya, Kami harap mereka bisa menemui kami secepat mungkin untuk menyelesaikan ini"&lt;br /&gt;" Iya oom. Saya minta maaf sebesar besarnya. Saya akan minta papi sama mami datang ke Bandung".&lt;br /&gt;" Rosa, ini petaka yang berat untuk kita semua. Untuk papa dan mamamu. Tetapi saya minta kamu tetap tabah. Jangan sampai kandas. Perjalanan masih panjang. Jangan menyerah. Banyak jalan ke depan". Papa Kusuma berkata dengan pelan. Wajahnya sedih. Nampak lebih tua dari usia sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Perkawinan Rosa dan Dedi berjalan sederhana. Menjelang akhir tahun. Pesta sederhana di rumah. Dihadiri oleh sanak saudara dari kedua belak pihak. Pesta kebun di halaman yang teduh itu. Hanya Rosa, Dedi dan kedua orang tuanya yang tahu alasan perkawinan itu diadakan secara mendadak. Buat para kerabat yang hadir, hanya kebahagiaan saja yang terpancar dari kedua pengantin, juga dari kedua orang tua. Mereka punya alasan tepat untuk tidak merayakannya secara besar besaran. Suasana lagi tak menentu. Tak tepat bermewah mewah sementara situasi ekonomi sedang surut. Di mana mana mahasiswa sering demontrasi anti korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman yang teduh itu menjadi saksi perjalanan gadis Rosa. Sejak kecil dia selalu bermain di halaman itu. Begitu dekat dihati Rosa. Juga saat pesta pernikahan yang terpaksa diadakan mendadak. Saat itu dia hanya berdoa semoga masih diberi kesempatan untuk meraih cita citanya di masa depan. Impian untuk hidup berbahagia. Sebagai wanita karier seperti mamanya. Rosa mencoba menimati suasana pesta. Ceria bersama Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa terhempas. Tetapi Rosa yakin kalau belum kandas. Dia masih ingin memburu cita cita menjadi wanita karier. Apapun jalan yang harus ditempuh. Demi masa depannya. Dia ingin seperti mamanya. Pengusaha wanita yang sukses. Menjadi isteri dan mempunyai anak bukan hambatan menjadi wanita sukses. Dia pernah bercita cita jadi bankir. Mana mungkin sekarang?. Tak putus asa. Masih ada banyak jalan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Kenangan masa lalunya seolah diputar begitu jelas dalam ingatan Rosa. Dia selalu duduk di halaman itu setiap sore. Menjelang matahari tenggelam. Bersama anaknya Tita. Mengenang kejadian kejadian yang telah dilaluinya. Perkenalan dengan Bram, seolah mengingatkan kembali peristiwa peristiwa yang menimpanya. Dia tak pernah putus asa karena peristiwa peristiwa itu. Dia merasa berhak meraih kebahagiaan. Meskipun dia terhempas. Menjadi janda di usia belia. Tetapi dia yakin tidak kandas dalam perjalanan hidupnya. "Saya terhempas, tetapi tidak terkandas". Dia peluk Tita. Dia ingat Bram kenalan barunya yang dia kagumi. Ingatan akan masa lalu tidak mengecilkan hatinya. Untuk mengagumi dan dekat dengan Bram. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-5626826147959812148?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/5626826147959812148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/03/terhempas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/5626826147959812148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/5626826147959812148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/03/terhempas.html' title='(11) Terhempas'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/Saps3SqLhcI/AAAAAAAAAI4/RSnV7zvFKSQ/s72-c/GNVDSC01241.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-3842974865558668239</id><published>2009-02-21T22:46:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T23:00:50.592-08:00</updated><title type='text'>(10) Hidup bukan impian</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaD3_x8r-PI/AAAAAAAAAIY/ZWXUgCMR2nU/s1600-h/gse_multipart68743.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305513036154140914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaD3_x8r-PI/AAAAAAAAAIY/ZWXUgCMR2nU/s200/gse_multipart68743.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaD3_3jQQqI/AAAAAAAAAIg/D5VxShGvMLg/s1600-h/gse_multipart68743.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari Minggu sore, Rosa bermain bersama Tita, putri tercinta. Di halaman depan di mana dia beberapa minggu lalu duduk bersama Bram di sana. Titania Puspasari, panggilannya Tita, baru berumur dua tahun lebih. Beberapa bulan lalu baru merayakan ulang tahun ke dua. Ulang tahun hanya bersama mama, opa, oma dan oomnya Iwan. Tak ada orang lain. Merekalah orang orang yang hadir dekat dalam kehidupan Tita. Juga bibik Irah. Tak ada papa. Dia masih polos dan belum mengenal papa. Belum juga punya naluri untuk bertanya. Suatu saat pasti dia akan bertanya. Dan Rosa harus siap memberikan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang Rosa merasa getir, bagaimana menghadapi situasi itu. Bagaimana saat Tita masuk sekolah dan melihat teman temannya bersama papa dan mamanya. Dia pasti akan bertanya. "Mama Rosa, teman teman saya selalu diantar papa sama mamanya. Dimana papa Tita?" . Kadang merasa takut membayangkan pertanyaan itu. Hidup memang bukan impian. Banyak peristiwa di luar kendali manusia. Sewaktu gadis dulu, dia selalu menatap kehidupan dengan penuh harapan akan kebahagian. Dunia seolah sorga penuh impian indah. Sayang tak selamanya impian bisa terwujud. Dia pernah terhempas dari impian impian itu. Dia pernah jatuh karena asmara. Tetapi dia merasa yakin untuk bangkit kembali. Hidup adalah pilihan. Kebahagiaam adalah hak setiap manusia. "Tita, mama akan berjuang untukmu dan untuk kita". Rosa selalu berpikir, karena Tita, dia berjuang untuk meraih kembali kebahagiaan dalam hidupnya. Dia belum terkandas, dia belum terhempas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu Rosa merasa punya rasa percaya diri kembali untuk menghadapinya. Ingat saat duduk bersama Bram di tempat itu. Perkenalan dengan Bram sangat berarti buat Rosa. Selama ini hatinya dingin membeku terhadap pria. Hatinya begitu sakit dan terhunjam jika mengingat peristiwa masa lalu. Seolah kebahagiaan dan masa depannya telah direnggut secara paksa. Oleh situasi yang tak terkendali. Oleh seseorang yang telah mengkianati cintanya yang polos. Bertemu dengan Bram, dia merasa punya semangat kembali untuk mengarungi perjalanan ke depan. Jika itu mungkin. Jika Bram tak menjauh lagi. Tak ada keterikatan di antara mereka. Hanya rasa sesaat yang baru muncul. Rasa saling ingin melindungi dan membahagiakan. Rosa tak merasa rendah diri, walau dia sudah menjanda. Dia merasa lega setelah memberitahukannya ke Bram. Whatever happens, this is me. Pikirannya melayang ke masa masa lalu. Jangan lagi terkecoh impian indah. Jika toh Bram kecewa akan keadaan dirinya, Rosa tak akan berkecil hati menghadapi. Apapun yang terjadi terjadilah. Akan dihadapi dan diterima apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Masih jelas benar pertemuan pertama dengan Dedi empat tahun lalu. Senja yang indah. Penutupan masa perploncoan. Semua mahasiswa dan mahasiswi selesai menjalani perploncoan berpakaian normal layaknya mahasiswa. Dalam dua minggu ini mereka mengalami tekanan mental dan fisik yang sangat. Harga diri dan kebanggaan sebagai mahasiswa seolah dirampas dan dicerca. Pakaian tak pernah layak. Selalu dengan atribut atribut brengsek, simbol perploncoan yang tak jelas maknanya. Sore itu Rosa berpakaian normal kembali. Warna gelap. Masa konyol perploncoan telah selesai. Malam penutupan menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendirian menghadiri malam penutupan. Belum banyak teman yang dia kenal. Semua pakai nama brengsek selama plonco. Rosa diantar Iwan, adiknya ketempat pesta di kampus. Iwan janji akan menjemput setelah pesta usai. Pesta begitu meriah dan mengasyikkan. Lepas dari tekanan dan kekangan selama dua minggu. Puncaknya pesta dansa. Mula mula irama musik keras menghentak. Semua peserta bergerak bebas menggoyangkan tubuh. Suara musik begitu memekakkan telinga. Tubuh asal bergerak berjingkat jingkat mengikuti irama musik. Semakin malam alunan musik semakin menghanyutkan. Lewat jam sepuluh musik beralih ke irama ballroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa senang ballroom. Dia begitu menikmati dansa dengan irama tenang. Wallz, tango, rhumba, foxtrot. Ketika lagu "Raindrop keeps falling on my head", seseorang mendekat dan mengajaknya turun. Tak ada yang istimewa. Orang itu bukan teman plonconya. Mungkin seniornya. Dia menuruti ajakannya karena Rosa memang gemar foxtrot. Berdua bergerak mengikuti irama musik. Seolah melayang bersama. "Nama saya Dedi. Dedi Karnadi", pria itu memperkenalkan diri dengan sopan sembari membimbingnya di lantai dansa.&lt;br /&gt;"Saya Rosa. Apakah anda kuliah di sini ?&lt;br /&gt;"Di jurusan ekonomi. Tahun terakhir. Baru menyusun skripsi akhir"&lt;br /&gt;"Enak dhong, nggak usak ikut plonco".&lt;br /&gt;"Rosa, rupanya anda gemar dansa. Sudah luwes dan pas sekali gerakannya".&lt;br /&gt;"Papa sama mama selalu dansa di rumah. Saya belajar dari mereka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak mereka bisa bicara. Suara musik menjadi penghalang untuk bicara banyak. Mau bisik bisik tak kedengaran. Mau bicara keras, dibilang anak kampung sedang ronda. Ketika musik berganti lagu Amor, berdua mereka menari rhumba dengan gemulai dan seksi. Papa selalu memuji Rosa, jika dia menari rhumba. Meliuk liuk ritmis mengikuti irama musik. Dedi teman barunya juga tak banyak bercerita. Bicara seperlunya. Sepertinya selalu serius. Ceritanya dia tinggal di Bandung sendirian. Asli Jakarta. Hampir tiap dua minggu pasti balik ke Jakarta di akhir pekan. Tinggal di daerah sekitar Dago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam Rosa mulai gelisah. Iwan belum juga datang menjemput. Dia pesan tadi agar Iwan menjemputnya sebelum tengah malam.&lt;br /&gt;"Jika tak keberatan, saya bisa antar. Saya tinggal di Dago".&lt;br /&gt;"Enggak apa apa? Saya tinggal di Cisitu. Mestinya adik saya akan menjemput. Papa pasti sudah menunggu".&lt;br /&gt;"Nggak usah kuatir, kita satu jurusan. Saya antar sebentar"&lt;br /&gt;Mereka berdua pulang naik mobil Dedi. Rosa terkesan sikap Dedi yang sopan. Membukakan pintu mobil dan membimbingnya masuk. Pelan pelan mereka menyusur jalan Dago. Angin malam dingin kadang menerpa masuk lewat kaca jendela. Sampai rumah ternyata Iwan sudah berangkat sejak jam sebelas tadi. Papa Rosa heran ketika anak gadisnya datang diantar pria yang belum dikenalnya.&lt;br /&gt;"Mana adikmu, Iwan?"&lt;br /&gt;"Pah saya nunggu nunggu dia kok nggak muncul muncul. Lalu saya diantar oleh kak Dedi".&lt;br /&gt;Dedi cepat cepat pamitan setelah menyerahkan. Masih sempat memberikan kartu nama sebelum pergi. "Bisa hubungi saya jika ada butuh informasi tentang kampus".&lt;br /&gt;"Terima kasih kak Dedi, mau ngantar saya. Kapan kapan ketemu lagi".&lt;br /&gt;Hari hari berlangsung normal kemudian. Dedi semakin sering menemui Rosa. Menjemput dan mengajak jalan jalan di akhir pekan. Mulanya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun Rosa menikmati hubungan mereka. Mungkin lebih dari sekedar teman dekat. Ada getaran selalu muncul di balik senyuman mesra. Tak bisa diingkari. Keduanya masih sama sama muda. Masih penuh dengan impian dan gairah asmara yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bulan bulan berlalu dengan nyaman. Rosa teratur mengikuti kegiatan akademis perkuliahan di fakultas ekonomi. Tak banyak kesulitan ditemui. Karena dia memang menyenangi. Juga karena bantuan Dedi, yang empat tahun lebih senior darinya. Dedi sangat membantu dan membimbing Rosa menyesuaikan dengan disiplin dan kehidupan akademis. Mereka juga mengakui ada hubungan istimewa. Antara pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi tak lagi sering pulang Jakarta. Akhir pekan dimanfaatkan mengunjungi Rosa. Mereka memanfaatkan waktu akhir pekan berduaan. Selalu saja ada acara. Entah di rumah, entah ke tempat teman, entah ke Lembang, entah dansa di klub mahasiswa Bandung. Seolah tak bisa dipisahkan lagi. Cinta pertama bagi Rosa. Perasaannya melambung setinggi langit. Papa dan mama Rosa juga memberi lampu hijau. Dedi berasal dari kalangan atas di Jakarta. Dari keluarga kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu siang. Dedi seperti biasanya menjemput Rosa untuk jalan jalan. Menjelang jam makan siang. Mereka makan siang di dekat Braga. Habis makan rencananya mau cari buku di toko buku sekitar daerah itu. Ada beberapa buku teks yang harus dibeli. Rosa serius sekali mengikuti pelajaran. Setiap kuliah selalu disertai dengan penugasan yang harus dikumpulkan sebagai bahan penilaian semester. Mereka telah selesai makan ketika tiba tiba hujan deras mengguyur. Rencana ke toko buku batal. "Masih banyak kesempatan besok " pikir Rosa. Pelan pelan mereka menuju utara lewat jalan Dago.&lt;br /&gt;"Baru jam satu Rosa. Tak usah tergesa pulang. Gimana kalau mampir ke tempat saya. Ada musik baru, busanova. Bisa mendengar suara musik"&lt;br /&gt;Rosa agak ragu. Dia sudah beberapa kali mampir ke rumah Dedi, tetapi selalu diantar Iwan.&lt;br /&gt;"Iyalah, di rumah paling saya tidur. Minggu siang acaranya tidur". Hari hari biasa tak pernah sempat tidur siang. Ada saja acara di kampus.&lt;br /&gt;Akhirnya mereka singgah di rumah Dedi. Rumah dengan halaman luas. Dedi ditemani oleh pembantu suami isteri yang sudah di sana bertahun tahun. Pak Ading dan Bik Onah, asal Pengalengan. Mereka ikut keluarga Karnadi sejak sebelum membeli rumah di Dago itu. Di halaman banyak bunga terpelihara rapi. Kebanyakan bunga mawar dengan bau yang semerbak.&lt;br /&gt;"Kok rumah sepi sekali kak?"&lt;br /&gt;" Pak Ading sama bik Onah baru pulang ke Pengalengan. Katanya sih besok akan pulang. Nggak apa apa, kita berdua saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk di ruang depan sambil mendengarkan musik lembut. Busanova mengalun tenang menghanyutkan. Sementara hujan di luar tak juga reda. Musik membawa khayalan mereka melayang layang. Tak banyak percakapan. Hanya kadang kadang Rosa bicara lirih. Tangan mereka saling menggenggam dan rabaan raban halus membawa mereka berdua ke alam asmara yang serba indah. Sementara napas mereka semakin memburu. Ketika bibir bibir panas mereka saling memagut dan tangan tangan mereka saling meraba, keinginan datang menderu tak terbendung. Keinginan untuk menikmati kebersamaan fisik sampai tuntas. Pelan pelan mereka pindah ke dalam. Ke kamar tidur. Rosa tak mampu menahannya. Keinginan menghindar tersisih jauh di sudut hatinya. Tersapu gelora asmara yang membara. Seluruh tubuhnya bergetar disertai rasa nikmat melambung tiada tara. Dia menyambut mesra ketika Dedi mulai melepas pakaiannya satu persatu dan mencium dengan gairah lekuk lekuk tubuhnya yang indah. Semua berjalan alamiah. Melayang dengan ringan, Dan napas mereka memburu. Ketika puncak itu datang, napas mereka mengendur dan dan ada rasa puas luar biasa. Jam setengah lima sore ketika mereka bangun. Cepat cepat memakai pakain mereka kembali. Ada rasa kecewa muncul dari dalam hati. Dan Rosa terisak sejenak.&lt;br /&gt;"Tak apa apa Rosa. Telah berlalu. Kita akan tanggung bersama".&lt;br /&gt;Ketika sampai rumah mama Kusuma agak terkejut melihat anak gadis pulang dengan wajah murung dan lusuh. "Apakah kau sakit nak?". Rosa tak menjawab. Pertanyaan itu tak perlu jawaban khusus. Pertanyaan rutin seorang ibu yang penuh perhatian terhadap putri satu satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari hari berikutnya berlalu secara normal. Dedi dan Rosa semakin akrab dan mesra. Apa yang mereka lakukan di rumah Dedi hari minggu itu terulang berkali kali. Entah di rumah, entah di tampat peristirahatan, entah di rumah Rosa jika papa sama mama nggak ada dirumah. Hidup begitu indah bergairah. Papa dan mama Kusuma, orang tua Rosa ikut senang melihat putri mereka begitu bergairah. Hidup seolah dalam impian. Dua anak manusia saling terbuai dalam dalam asmara. Terbuai kenikmatan dan keindahan. Mereka tak yakin akan berjalan selamanya. Hanya mengikuti naluri semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rosa tersentak dari lamunan ketika Tita menghambur menghampiri. Dia nampak sangat gembira berlari lari di atas rerumputan. Ketika rasa gatal menyentuh kulitnya karena rerumputan itu, Tita berlari menghampiri mamanya.&lt;br /&gt;"Mama, sakit ma"&lt;br /&gt;"Jangan berguling di rumput. Kulitmu nggak tahan. Minum dulu ya nak" Rosa mengelus tangan Tita sejenak.&lt;br /&gt;"Mama saya pengin terbang seperti burung. Bernyanyi sepanjang hari"&lt;br /&gt;" Tita bisa nyanyi. Tapi nggak bisa terbang. Besok naik pesawat kalau sudah besar".&lt;br /&gt;"Sama siapa ma. Sama papa?"&lt;br /&gt;"Iya sama mama nak. Saya janji".&lt;br /&gt;Matahari telah hilang dibalik cakrawala. Rosa menghela napas mengingat peristiwa yang lalu. Hatinya bertekat ingin melupakannya. Hanya melihat ke depan. Masa depan bersama Tita. Hidup memang bukan impian.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-3842974865558668239?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/3842974865558668239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/02/10-hidup-bukan-impian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/3842974865558668239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/3842974865558668239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/02/10-hidup-bukan-impian.html' title='(10) Hidup bukan impian'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SaD3_x8r-PI/AAAAAAAAAIY/ZWXUgCMR2nU/s72-c/gse_multipart68743.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-4184143122234584084</id><published>2009-02-08T06:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T06:27:32.974-08:00</updated><title type='text'>(9)Termangu Di Simpang Jalan</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Mereka bertiga tiba di stasiun Tugu masih pagi benar. Kebetulan kereta tak terlambat. Menjelang jam empat sudah masuk Yogya. Tak ada suara hiruk pikuk. Tak ada jeritan penjaja makanan. Tak ada nyanyian burung. Nyanyian yang menggambarkan kedatangan kereta di Yogya, adalah lagu Sepasang Mata Bola. Tetapi lagu itu menngambarkan kedatangan kereta di sore hari. Hampir malam di Yogya. Ketika keretaku tiba. Remang remang cuaca. Terkejut aku tiba tiba. Tak enaklah mendendangkan lagu itu di pagi hari, pikir Bram. Irama refrainnya juga seperti kereta langsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar penumpang lelap tidur sepanjang perjalanan Hanya Bram yang tak mengejapkan mata. Pikirannya kalut. Hatinya gundah. Bingung apa yang harus dilakukan dengan Rosa. Hati sudah terlanjur lekat. Tak membayangkan sebelumnya jika Rosa sudah mempunyai anak. Sudah menjanda. Bagaimana dia harus mengatakan pada ibu dan bapaknya? Bagaimana dia harus membukanya di hadapan teman teman di kampus. Dia dikenal sebagai aktivis di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari stasiun berjalan menuju pemberhentian becak. Parasto dan Sinambela, beranjak pergi, sambil mengingatkan Bram " Ketemu di kampus jam sepuluh". Dia hampir tak mendengar. Masih merenung termangu di simpang jalan di depan stasiun. Hawa dingin menusuk, menembus sweeter rajutan warna merah ungu yang dibelinya di Bandung beberapa waktu lalu. Akhirnya dia menghempaskan diri di kursi becak dan minta diantar ke alamat rumahnya di selatan. Terlena di atas becak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Matahari sudah tinggi ketika Barm terbangun. Hampir jam delapan. Cepat cepat mandi. Kemudian minta pak Djo membuatkan kopi. Bapaknya sudah berangkat ke kantor diantar sopir, pak Mardi. Sejenak Bram membaca koran Kedaulatan Rakyat. Sambil minm kopi. Perhatiannya tertuju ke berita utama yang memuat pernyataaan Gubernur AKABRI. "Insiden terbunuhnya Rene adalah kemunduran besar dalam pembangunan generasi muda dan demokrasi". Bram tak punya minat untuk membacanya. Pernyataan tak akan mengembalikan nyawa korban.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Kenapa sudah necis, mau ke kampus ?"&lt;/strong&gt; Ibunya bertanya menyelidik.&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt; Hasil misi kami di Bandung harus dilaporkan Bu. Hari ini akan dibuat kebulatan tekat".&lt;br /&gt;"Sempat mampir ke rumah Pakdhe Dewanto?"&lt;br /&gt;"Tak sempat sayangnya. Habis dari kampus menemui keluarga Rene. Kami sempat bertemu dengan saudara saudaranya. Tantenya yang menemui kami. Saya sampaian duka sedalam dalamnya."&lt;br /&gt;" Jika selesai acara rapat, cepat pulang ya Bram. Keadaan sedang panas. Berita di televisi, selalu mengabarkan bentrok mahasiswa dengan polisi. Selalu was was saya. Bapakmu juga selalu menanyakan kau dimana. Rupanya nggak tenang dia di kantor"&lt;br /&gt;"Tenang saja Ibu. Memang suasana sedang panas. Kami nggak akan memancing kerusuhan".&lt;br /&gt;" Biar diantar pak Mardi. Dia harus njemput bapakmu jam dua nanti. Jangan naik motor".&lt;br /&gt;"Nanti Parasto mau nyamperin Bu. Sekalian mau bicara dulu tentang hasil misi ke Bandung. Bagaimana harus melaporkan".&lt;br /&gt;"Kapan kalau nggak sibuk, hubungi nak Reni ya. Setiap ketemu selalu kirim salam untukmu".&lt;br /&gt;" Nggak enak Bu dekat dekat sama Reni. Dia sudah punya calon. Seorang dokter. Sedang ambil spesialis kandungan".&lt;br /&gt;"Apa? Yang bener kamu Bram. Saya kok nggak dengar apa apa dari ibunya ya?.&lt;/strong&gt; Ibu Bram nampak terkejut sekali mendengar ucapan putranya. Bagaimana mungkin Reni sudah punya calon? Ibu Reni sobat karibnya selalu menanyakan tentang Bram dan tak pernah cerita apa apa. Dulu sih pernah bergurau, "Gimana kalau kita menjadi besan?". Tak perlu dirisaukan. Perjodohan hanya Tuhan yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dalam rapat di Pagelaran, Bram tak banyak bicara. Parasto melaporkan secara tuntas hasil pembicaraan dengan DEMA ITB. Tak perlu ditutup tutupi. Rene memang dibunuh. Tidak menjadi korban huru hara. Dia tak terlibat huru hara. Jelas dia dicegat, ditembak. Tubuhnya diseret ke atas truk yang mengangkut para calon polisi itu. Yang lebih membuat panas suasana karena versi polisi sangat berat sebelah. Mereka menutup nutupi keterlibatan para taruna calon polisi. Ketika mayatnya ditemukan di gudang kantor polisi, bukan mencari siapa yang mencampakkan tubuh malang itu di sana. Tetapi yang ditangkap dan ditahan adalah petugas polisi yang sedang jaga. Polisi pangkat rendah yang tak mampu berbuat apa apa melihat para taruna beringas itu menyeret tubun Rene yang penuh darah. Petugas jaga itupun telah lari menyelamatkan diri ketika mahasiswa ramai ramai masuk ke kantor polisi mencari korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi debat ramai oleh karena sebagian besar wakil mahasiswa menginginkan agar mahasiswa turun ke jalan. Akhirnya disepakati untuk membentuk panitia adhoc yang senantiasa akan memantau perkembangan situasi lebih lanjut. Khusunya bagaimana tindak lanjut secara hukum. Kekerasan telah menjadi dogma dan alat untuk mencapai segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir Bram, entah sampai kapan kekerasan akan menjadi alat untuk menakut nakuti masyarakat demi kelangsungan kekuasaan. Apapun retorikanya. Entah itu demi stabilitas. Demi kelangsungan pembangunan manusia Indoinesia seutuhnya. Demi pertumbuhan ekonomi dan tinggal landas. Intinya sama saja. Kekuasaan dan penyelewengan. Moga moga tidak akan jatuh korban sia sial agi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pulang dari rapat Bram ragu ragu untuk terus pulang. Pikiran kalut. Mau kemana hari ini. Mau kemana masa depannya. Dengan siapa dia akan menjalani perjalanan ke depan? Dengan Rosakah? Tanpa rencana dia mnuju rumah Reni di Jeron Beteng. Moga moga dia nggak jaga di rumah sakit. Kemarin dulu dia bilang katanya sedang asistensi di THT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hai mas Bram. Tumben mau datang ke sini? Katanya ke Bandung?"&lt;/strong&gt; Reni menyambutnya ramah. Mereka duduk di belakang di bawah pohon jambu yang rindang. Bram dulu semasa kanak kanak sering sekali memanjat pohon itu, sementara Reni menunggu dibawah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Bapak sama ibu baru ke Solo, pulang besok. Saya sendirian sama simbok mas"&lt;br /&gt;"Baru tadi pagi saya tiba dari Bandung. Hanya sehari di sana. Ke ITB kemudian mengunjungi keluarga Rene, mahasiswa ITB yang dibunuh taruna polisi beberapa hari lalu".&lt;br /&gt;"Iya ceritanya gimana sih. Kejam amat dia disiksa ramai ramai kabarnya. Sampai badannya hancur. Benarkah itu mas Bram?"&lt;br /&gt;"Sebagian besar ceritanya benar. Bagaimana kabarmu Reni ? Bagaimana kabar calonmu, dokter siapa?".&lt;br /&gt;"Mas Herman? Dia baik baik saja. Tetapi serius sekali. Nggak pernah ngobrol hangat. Saya segan sama dia, tetapi kok rasanya begitu formal dan kaku ya"&lt;br /&gt;"Reni, jangan menyesal. Anda sudah memutuskan. Jangan ragu. Keraguan akan membuat kita tak berjalan ke depan".&lt;br /&gt;"Enggak ah. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Moga moga hanya butuh waktu untuk saling mengerti dan menyesuaikan. Omong omong, memangnya ada apa kok hari gini mau datang ke sini, mas Bram".&lt;br /&gt;"Cuma pengin ngobrol saja. Rasanya kok kita nggak seperti dulu begitu bebas bercerita dan bercanda ya".&lt;br /&gt;"Ya emangnya suruh seperti masa kanak kanak terus. Waktu kan terus berjalan".&lt;br /&gt;"Reni, ada sesuatu yang akan saya ceritakan. Saya juga ingin dengar saranmu. Saya sedang kalut".&lt;br /&gt;"Dengan senang hati saya akan membantu. Kita sudah saling membantu sejak kanak kanak mas Bram"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bram menceritakan kisahnya dengan Rosa. Sejak perkenalan di bis malam sampai ke pertemuan di rumah. Lengkap dan lugas. Dia mengaku kalau benar benar jatuh hati dengan wanita yang dikenalnya di bis malam itu. Sudah begitu lekat dalam hatinya. Kemudian pertemuannya yang kedua kemarin. Hatinya begitu berbunga bunga ketemu Rosa kembali walau hanya sejenak. Namun tak disangka. Pengakuan Rosa telah membuatnya kalut dan gelap. Pengakuan bahwa dia seorang janda. Pengakuan tentang anaknya bernama Tita. Rosa belum menceritakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Mas Bram,sulit saya memberikan saran. Bagi saya bukan masalah janda atau gadis. Masalahnya Mas Bram benar benar mencintai dia enggak. Kalau cinta dan mantap, berjalanlah terus. Kalau ragu, berhentilah sejenak. Lihatlah perjalanan anda ke belakang dan kedepannya.".&lt;br /&gt;" Saya yakin mencintainya Reni. Keraguan saya bukan karena cinta atau tidak. Tetapi bagaimana menghadapi kenyataan. Kenyataan yang tidak selamanya bisa diterima".&lt;br /&gt;Bram membayangkan bagaiman.a dia akan memberitahu bapak ibunya. Teman temannya mengenai Rosa.&lt;br /&gt;"Mas Bram, berhentilah sejenak&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Lihatlah sekeliling anda. Lihatlah ke belakang dan ke depan. Perjalanan masih panjang. Tak perlu membuat keputusan terburu buru".&lt;/strong&gt; Reni berkata lirih, sementara matanya berkaca kaca. Dia dengan Bram sejak kecil selalu dekat. Dalam canda. Tetapi dalam situasi sulit seperti ini rasanya dia merasa dekat sekali. Dia memeluk erat Bram tanpa ragu. &lt;strong&gt;"Berhentilah sejenak mas Bram. Jangan terburu&lt;/strong&gt;". Bram tak berkata sepatahpun. Pikirannya melayang. Reni memang dekat di hatinya sejak kanak kanak. Hubungan kerabat yang kental. Tetapi ada getaran lirih yang dalam kali ini. Getaran yang tak pernah terasakan sebelumnya. Pikirannya bingung membayangkan Rosa. "&lt;strong&gt;Rosa, Rosa mengapa kita harus ketemu?".&lt;/strong&gt; Termangu di simpang jalan. Antara jalan bersama Rosa atau Reni.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-4184143122234584084?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/4184143122234584084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/02/termangu-di-simpang-jalan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4184143122234584084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4184143122234584084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/02/termangu-di-simpang-jalan.html' title='(9)Termangu Di Simpang Jalan'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-4712498939582804459</id><published>2009-02-01T05:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:38:58.058-08:00</updated><title type='text'>(8) Bouginvila ungu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SYWgh3pt3SI/AAAAAAAAAIQ/9nBcGjz2zvc/s1600-h/bouginvila.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297817040406306082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 143px; CURSOR: hand; HEIGHT: 107px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SYWgh3pt3SI/AAAAAAAAAIQ/9nBcGjz2zvc/s200/bouginvila.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kereta seolah merambat. Berjalan terengah. Kadang menjerit kelelahan. Orang naik kereta malam selalu pengin cepat sampai ke tujuan. Tak ada yang bisa dilihat dari jendela. Hanya kegelapan malam. Mungkin bintang bintang di langit. Jjika tak ada awan menutup medan. Masih terang tanah ketika mereka sampai di stasiun Bandung. Masih terlalu pagi untuk terus menuju kampus. Bertiga mereka naik taksi menuju jalan Dago. Kakak Parasto seorang dosen di ITB dan tinggal di kompleks Sangkuriang. Bisa ikut mandi atau cuci muka sebelum ke kampus. Bram merasa sangat gerah karena semalam hampir tidak bisa memincingkan mata. Hanya tertidur sebentar saat kereta mendekati Bandung. Pikirannya galau, mungkin enggak menemui Rosa? Dia tak sempat memberi kabar. Tetapi rumahnya dekat Sangkuriang. Lihat saja nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Tok, kenapa nggak memberi kabar?"&lt;/strong&gt; Kakak Parasto menyambut dengan nada terkejut. &lt;strong&gt;"Bapak ibu baik baik kan?"&lt;/strong&gt; Permadi, kakak Parasto menjadi dosen di ITB. Seorang insinyur sipil, lulus doktor dari Perancis.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ada kepentingan mendadak. Kami akan menemui DEMA ITB. Mencari fakta sebenarnya mengenai meninggalnya Rene"&lt;/strong&gt; Parasto menjawab singkat dan memperkenalkan Bram dan Sinambela.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Kami hanya mampir, sore ini akan kembali ke Yogya. Bisa ikut mandi dan ganti pakaian ya?".&lt;/strong&gt; Mereka duduk di kamar tamu sambil minum teh. Permadi selanjutnya memberikan penjelasan tanpa diminta.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Nggak tahu kenapa mesti pertandingan segala. Maunya sih untuk persahabatan. Tetapi nyatanya orang nggak siap secara psikologis. Terlalu dipaksakan. Kesebelasan ITB selamanya nggak pernah menang, kok sekali ini menang. Anak anak keliahatannya menumpahkan rasa gembira dengan meledek taruna taruna itu"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt;Apapun penjelasannya pembunuhan berdarah dingin itu nggak bisa diterima mas. Kami akan bergerak. Rejim ini sudah keterlaluan. Arogan dan korup".&lt;/strong&gt; Sinambela menukas.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Semua generasi muda pasti nggak senang dengan penguasa militer sekarang. Tetapi pendekatan konfrontatif, tak akan efektif dan makan korban. Mereka selalu heavy handed. Mahasiswa dan kalangan kampus selalu dicurigai".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bram minta ijin untuk cuci muka di belakang sekalian ganti baju. Dia sengaja memakai baju hitam dan celana hitam. Tak sempat istirahat lama lama. Sesudah ganti pakaian, Bram dan Sinambela menunggu di ruang tamu, sementara Parasto bicara dengan kakaknya Permadi bersama isterinya, Nina. Urusan keluarga. Ada bunga bouginvila ungu di sudut halaman depan. Bunga warna ungu itu seolah selalu membawa keheningan yang dalam. Bram selalu mengagumi. Bouginvila warna ungu yang hening, mengingatkannya ke Rosa. Hatinya berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah tujuh, Nina isteri Permadi berangkat mengantar kedua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar, berangkat ke sekolah. Bram menyapa ramah &lt;strong&gt;" Wah tugas rutin ya kak. Mengantar anak. Saya ambil segenggam boubinvilla ungu boleh nggak. Mau saya bawa ke kampus".&lt;br /&gt;"Ngantar anak sih tugas bersama gantian sama mas Permadi. Dia baru ngobrol sama adiknya. Anak anak masuk sekolah jam tujuh. Silahkan kalau senang ambil bouginvila. Tetapi biasanya bouginvilla nggak untuk melayat lho".&lt;br /&gt;"Terima kasih, nanti kami beli mawar sama sedap malam juga di Dago. Sekalian pamitan kalau nanti nggak sempat mampir kak Nina".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjelang jam delapan mereka berangkat ke kampus Ganesa, sekalian sama Dr Permadi berangkat kantor. Kantornya juga di kampus yang sama. Mereka mampir beli bunga. Bunga mawar, melati dan sedap malam. Bunga bunga itu dirangkai rapi dengan bouginvila ungu yang diambil dari halaman rumah Permadi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka langsung menuju ke ruang Dewan Mahasiswa. Bertemu dengan ketua dan beberapa anggota pengurus. Semua dalam keadaan tegang dan sedih. Parasto atas nama seluruh mahasiswa Gadjah Mada, mengungkapkan rasa duka sedalam dalamnya atas gugurnya Rene. Dia juga menjelaskan maksud kedatangannya di Bandung untuk menyatakan dukungan bagi pihak mahasiswa ITB dan mencari fakta tentang kejadian tragis itu.. Penjelasan yang diperoleh dari pihak DEMA ITB singkat dan jelas. Rene Louis Conrad tidak terlibat dalam huru hara pertandingan sepak bola. Dia masih mondar mandir di muka kampus dengan Harley Davidsonnnya ketika truk rombongan taruna kepolisian itu keluar dari kampus. Beberapa saksi mengatakan kalau dia dihentikan oleh sekelompok taruna yang turun dari truk. Ketika dia berhenti beberapa taruna mendekatinya, dan tiba tiba saja salah salah seorang taruna menembak Rene dari belakang. Dia roboh dan langsung dinaikkan ke truk dan dibawa pergi. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu kemudian ramai ramai mencari Rene.. Kisah selanjutanya sama persis seperti yang mereka terima sebelumnya. Mayat Rene ditemukan di gudang salah satu kantor polisi di kota Bandung. Dia meninggal kehabisan darah tanpa memperoleh pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdiskusi beberapa lama, mereka sepakat agar kasus pembunuhan ini diusut secara tuntas dan yang bertanggung jawab dibawa ke pengadilan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Namun dalam pembicaraan itu, ada rasa pesimis yang membayangi. Salah satu taruna yang terlibat pembunuhan adalah anak seorang petinggi militer. Kemungkinan akan ada skenario untuk menghindarkan proses hukum. Sesudah diskusi mereka bertiga diantar untuk meihat tempat di mana Rene ditembak di muka kampus. Masih banyak mahasiswa berkumpul di sana. Beberapa karangan bunga terserak di tepi jalan. Bram, Parasto dan Sinambela bersama dengan beberapa teman dari DEMA ITB mengheningkan cipta ditempat itu. Karangan bouginvila ungu, mawar, sedap malam dan melati diletakkan di tempat Rene gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Selamat jalan kawan. Selamat jalan anak muda. Semoga pengorbananmu tidak pernah sia sia. Semoga kekerasan dan kesombongan tidak akan menjadi alat kekuasaan. Beristirahatlah dalam keheningan yang abadi. Dalam damai&lt;/strong&gt;. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba seorang dengan kamera ditangan mendatangi mereka. Memperkenalkan diri sebagai koresponden radio Australia dan menanyakan sikap dan tindakan mahasiswa lebih lanjut setelah peristiwa pembunuhan itu. Ketua DEMA ITB menjelaskan peristiwa yang terjadi, Di akhir pembicaraan, Bram menyela "&lt;strong&gt; There are no appropriate words to describe this barbaric and coward murder. We will keep demanding that those who are responsible be brought to justice. Oppression and arrogance of this military regime will not last forever".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai acara di kampus, mereka diantar untuk berkunjung ke keluarga Rene di Bandung atas. Rumah dengan pekarangan luas di tepi jalan menuju ke Lembang. Masih banyak kerabat korban yang berkumpul di sana. Mereka ditemui oleh tante Rene, adik papa Rene. Bram atas nama segenap mahasiswa Gadjah Mada menyampaikan duka sedalam dalamnya dan berharap agar keluarga yang ditinggal selalu diberi ketabahan. Melihat tante Rene, Bram tak bisa menahan rasa iba. Kesedihan yang dalam dan putus asa nampak membayang diwajahnya. Dia peluk seolah dia memeluk ibunya. &lt;strong&gt;"Tante sekeluarga mohon tabah ya. Kami akan berdoa untuk Rene dan akan mengenang dia selamanya".&lt;/strong&gt; Tak mampu menahan air matanya ketika mengucapkan kata kata itu. Sesaat dia ingat ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tiga seluruh acara selesai. Mereka akan pulang malam itu juga dengan kereta ke Yogya. Masih ada waktu beberapa jam oleh karena kereta berangkat jam tujuh. Parasto mengajak mereka kembali dulu ke Sangkuriang, bisa istirahat sejam dua jam di sana. Mereka bertiga naik opelet lewat jalan Dago. Seharusnya turun di depan pasar Simpang. Namun Bram berkata " &lt;strong&gt;Saya akan ke Dago Bukit. Ke tempat pakdhe saya. Mungkin nanti ketemu saja di stasiun ya. Jam setengah tujuh".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba saja keinginan itu muncul. Dia ingin menemui Rosa. Tetapi dia belum memberitahu sebelumnya. Agak bimbang sebenarnya. Biar sajalah. Coba dulu ke rumah Rosa. Kalau nggak ketemu, terus ke tempat pakdhe Dewanto. Matahari masih memancar cerah sore itu, baru menjelang pukul empat. Angin semilir menghembus ringan mengurangi panas matahari musim kering. Dan Bram berjalan kembali di jalan itu di Cisitu. Menuju rumah nomer sebelas dengan bunga bunga kembang sepatu di pagar halamannya. Agak ragu ketika dia memencet bel.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Gan, selamat sore. Mau ketemu sama ibu Pipit?"&lt;/strong&gt; Pembantu membukakan pintu dan menyapanya ramah. &lt;strong&gt;"Kebetulan dia seharian nggak keluar. Silahkan masuk gan".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bram memasuki pekarangan yang asri itu. Langsung menuju ke ruang tamu disamping rumah utama. Di tempat dimana dia beberapa minggu lalu berduaan dengan Rosa. Menunggu beberapa saat di kursi tamu. Suasana sepi tak terdengar kesibukan sama sekali. Sesaat kemudian Rosa muncul dengan baju warna hijau muda. Warna segar dan cerah. Nampak cantik dan ceria. Dia bangun menyambutnya. Dia kasih salam dan pelukan seolah sudah kenal lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Tak ada kabar sama sekali Bung Bram. Surat ku sampai enggak ya?"&lt;/strong&gt; dia menyapa riang.&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt;Ada keperluan mendadak. Kami mengunjungi teman teman di ITB untuk mencari fakta pembunuhan kemarin dulu".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt;Iya suasana tegang sejak peristiwa itu. Dua hari ini workshop saya tutup. Dari pada ada resiko. Mahasiswa dan anak anak muda marah sekali. Mereka lalu lalang di jalan. Moga moga cepat terselesaikan secara tuntas".&lt;br /&gt;"Kami bertiga, malam nanti harus pulang dengan kereta jam tujuh. Ada waktu sebentar saya kesini pengin menemuimu"&lt;br /&gt;'Terima kasih mau menyempatkan ke sini. Banyak yang ingin saya ceritakan sebenarnya jika anda punya waktu cukup".&lt;br /&gt;"Take it easy. Saya akan mendengarnya. Jika belum mantap tak perlu cerita sekarang. Besok masih ada waktu lebih baik Rosa".&lt;br /&gt;"Saya tak merasa tenang sebelum cerita ke anda Bung. Ini masalah prinsip. Masalah tentang kehidupan".&lt;br /&gt;"Terserah mana yang terbaik buat anda Rosa. Saya tidak memaksamu. Saya siap mendengarnya".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejenak Rosa terdiam. Menarik napas dalam dalam menahan gejolak perasaannya.&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt;Maaf bung Bram, saya tak cerita sejak awal sewaktu anda ke sini dulu. Saya seorang janda. Perpisahan kami resmi diijinkan pengadilan belum ada enam bulan lalu. Saya bersama putri saya Tita. Dia baru dua tahun lewat"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bram tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia sama sekali tak mengira apa yang diungkapkan Rosa. Dia terdiam beberapa saat menata pikiran. Pelan pelan dia berkata.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Tak ada yang perlu disesali Rosa. Hidup adalah perjalanan. Perjalanan panjang ke depan. Banyak kemungkinan peristiwa terjadi dalam perjalanan."&lt;br /&gt;" Hanya masa depan Tita yang menjadi impian saya Bung Bram. Saya tidak akan menyerah berjuang demi dia"&lt;br /&gt;"Masih banyak kesempatan untuk bercerita. Jangan ceritakan semuanya saat ini"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mereka duduk bersama sore itu. Tak banyak pembicaraan. Masing masing tenggelam dalam gejolak pikiran dan perasaan masing masing. Ada rasa kecewa menyelinap di hati Bram. Mengapa dia mesti mampir menemui Rosa kali ini. Masih ada kesempatan yang lebih baik. Akhirnya dia menutup gejolak perasaanya sendiri &lt;strong&gt;"Hidup memang sebuah perjalanan. Kadang kadang bertemu dengan sesuatu di luar rencana manusia. Biarlah segalanya berjalan seperti air mengalir".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jam enam Bram pamitan. Dia salami tangan Rosa dengan erat. Pikirannya tak karuan saat itu. Tetapi tanpa dia sadari dia memeluk Rosa erat sekali. &lt;strong&gt;"Biarlah semuanya berjalan alamiah. Tak perlu kita paksakan. Kita saling berdoa Rosa. Moga moga terbuka jalan terang buat kita".&lt;/strong&gt; Rosa menjawab lirih. &lt;strong&gt;"Maaf kalau anda kecewa. Hati hati di jalan. Saya akan tulis selengkapnya"&lt;/strong&gt;. Bram berjalan gontai meninggalkan rumah itu. Di ujung jalan dia menengok ke belakang. Rosa melambaikan tangan. Bram bertanya dalam hati " &lt;strong&gt;Apakah saya harus kehilangan dia?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-4712498939582804459?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/4712498939582804459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/02/bouginvila-ungu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4712498939582804459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4712498939582804459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/02/bouginvila-ungu.html' title='(8) Bouginvila ungu'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SYWgh3pt3SI/AAAAAAAAAIQ/9nBcGjz2zvc/s72-c/bouginvila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-274476036266397664</id><published>2009-01-25T01:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:38:14.188-08:00</updated><title type='text'>(7) Bandung membara</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SXwxWpNg-5I/AAAAAAAAAII/IaLjNxBYm-k/s1600-h/images[1].jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295161526970284946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 120px; CURSOR: hand; HEIGHT: 102px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SXwxWpNg-5I/AAAAAAAAAII/IaLjNxBYm-k/s200/images%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kata kata Rosa begitu terngiang dalam kalbu. Bram senantiasa berpikir, kenapa tak ada waktu cukup untuk bicara denganya. Saat dia bertemu beberapa minggu lalu, banyak hal yang ingin dia utarakan. Semuanya tertahan. Semuanya seolah percakapan basa basi semata. Apa yang ada dalam hati, tak semuanya tersampaikan. Dia terpana membaca kalimat demi kalimat yang tersurat dari Rosa. Dia ingin mengungkapkan semua perasaannya. Tetapi untuk menulispun Bram tak mampu mengutarakan isi hati. Seolah terbelenggu. Lewat jam sepuluh malam. Tak tahu berapa lembar kertas telah dirobek, namun surat balasan itu tak kunjung selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba ada ketukan di pintu. Pak Djo bergegas memberitahu. &lt;strong&gt;"Gus Bram ada tamu di depan. Namanya mas Parasto ".&lt;/strong&gt; Bram agak terkejut. Dia kenal Parasto bukan sebagai teman akrab. Hanya sama sama pengurus dewan mahasiswa. Parasto datang boncengan dengan seorang teman yang Bram tidak tahu. &lt;strong&gt;"Silahkan masuk mas To"&lt;/strong&gt; Bram menyilahkan dengan ramah. Tetapi roman muka kedua tamu itu nampak sangat tegang. Tangannya bergetar ketika bersalaman. &lt;strong&gt;"Nama saya Sinambela"&lt;/strong&gt; teman baru itu memperkenalkan diri dengan lugas.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Bung Bramantyo, tak banyak waktu untuk diskusi. Ada teleks dari Bandung, dari ITB. Seorang mahasiswa dibunuh taruna polisi. Kita harus bergerak. Siapkan teman teman"&lt;/strong&gt; Parasto membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kita tak bisa tinggal diam Bung. Harkat kemanusiaan kita diinjak injak. Seolah kita kita ini pengkhianat bangsa dan mereka berlagak menjadi pahlawan pembela bangsa. Kita harus bergerak"&lt;/strong&gt;. Suara Sinambela berat dan meyakinkan. Dia bicara tanpa eskpresi. Mampu benar orang ini menekan persaannya, pikir Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga terlibat dalam pembicaraan serius. Sore tadi ada pertandingan sepak bola antara calon polisi dari Akademi Kepolisian lawan mahasiswa ITB di lapangan kampus. Suasana memanas ketika ternyata kesebelasan calon polisi itu kalah. Pendukung kesebelasan ITB begitu berbinar dalam kemenangan dan berkoar mengolok olok lawan. Para calon polisi itu rupanya kalah berkoar. Saat mereka pulang seorang mahasiswa yang sebenarnya nggak ikut apa apa ditembak di muka kampus. Tubuh mahasiswa malang itu diseret ke dalam truk. Mayatnya kemudian ditemukan dalam gudang di salah satu kantor polisi. Tak ada upaya untuk menolong dari pihak kepolisian. Dibiarkan meninggal pelan kehabisan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Besok pagi kita akan rapat di kampus. Jam delapan tepat. Silahkan undang wakil dari Sospol"&lt;/strong&gt; Parasto mengakhiri pembicaraan sebelum pergi. Bram begitu geram mendengar berita itu. Mengapa kami di kampus selalu dimusuhi seolah pengkhianat. Apa yang mereka lakukan para calon polisi dan aparat itu? Pelanggaran hak azasi manusia. Tak bisa menyumbang apapun bagi nama baik republik ini dalam pergaulan antar bangsa. Nama Indonesia hanya semakin terpuruk dan tersisih saja di dunia global. Korupsi, pelanggaran hak azasi manusia, perusakan lingkungan. Hanya diplomasi yang bisa menahan gelombang erosi reputasi ini. Tugas berat bagi para diplomat yang harus mewakili Indonesia di dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rapat esok paginya di Pagelaran, mahasiswa semua fakultas terwakili. Bram mewakili korps mahasiswa Sospol bersama Parasto. Peristiwa naas kemarin semakin terkuak dalam rapat. Korban adalah mahasiswa ITB, Rene Louis Conrad. Dia sebenarnya tidak ikut dalam pertandingan sepak bola. Dia hanya mondar mandir naik sepeda motor Harley Davidson. Dia menjadi sasaran kemarahan rombongan calon polisi yang kalah dalam pertandingan dan kalah dalam hangar bingar olok olok. Mereka tak dilatih sama sekali untuk berdebat dan menahan diri. Rupanya lebih banyak terlatih menggunakan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rapat memanas ketika terjadi silang pendapat apakah mahasiswa harus turun ke jalan. Sinambela yang semalam datang ke rumah memberikan jalan tengah. Dia mengusulkan agar mencari fakta dari tangan pertama. Mengirim utusan ke Bandung. Dia bertanya siapa yang akan ditunjuk untuk pergi ke Bandung? Sinambela bicara dengan tenang dan gamblang. Tak terbakar emosi sama sekali walau pasti dalam hati dia marah luar biasa atas pembunuhan biadab itu. Bram terkesan dengan ketenangan teman baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Bung, jika anda semua setuju, saya menawarkan diri untuk berangkat malam ini juga"&lt;/strong&gt; Bram bereaksi. &lt;strong&gt;"Saya juga usul kalau kita kirim beberapa teman untuk bertemu Gubernur AkABRI di Magelang. Apa reaksinya dan upayanya mendinginkan situasi ini?".&lt;/strong&gt; Semua peserta rapat menyetujui jika Bram, Parasto dan Sinambela akan menemui Gubernure AKABRI siang ini. Malam nanti terus ke Bandung. Semua fakta kejadian insiden ITB harus sudah terkumpul dalam dua hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh mereka bertiga naik jeep Willys kepunyaan Parasto menuju Magelang. Tadi telah telpon kantor AKBRI minta agar bisa bertemu Gubernur hari ini juga. Sempat berselisih pendapat dengan Wakil Gubernur yang keberatan menerima hari itu. Sinambela dengan tenang berkata &lt;strong&gt;" Jendral, kami beritiket baik untuk bicara. Jika tidak diterima kami tak yakin akan mampu menahan teman teman turun ke jalan ".&lt;/strong&gt; Mereka berangkat dengan pakaian seragam atribut lengkap mahasiswa Gadjah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang jam dua belas mereka bertiga telah sampai di kompleks AKABRI Magelang. Setelah melewati gardu penjaga, mereka dipersilahkan langsung menuju ke kantor Gubernur. Menunggu beberapa saat di ruang tamu. Tak lama kemudian mereka dipersilahkan masuk ke ruang rapat. Rupanya Gubernur tak akan menemui mereka sendirian, tetapi lengkap dengan para Wakil dan staf terasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Selamat datang adik adik sekalian. Selamat datang di ksatrian kami"&lt;/strong&gt; kata Gubernur mencoba memecah ketegangan. Pikir Bram, ksatrian tempat menggodog para ksatria, tak layak pembunuh berdarah dingin memperoleh fasiltas pendidikan di tempat seperti ini. Ada beberapa staf teras Gubernur, ditambah beberapa wakil taruna senior. Tak sempat menghitung satu persatu. Pikir Bram, hanya menghadapi tiga orang wakil mahasiswa mengapa semua staf teras disiapkan&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Apakah anda sudah makan siang? Jika belum mari kita makan dulu"&lt;/strong&gt; Gubernur bertanya ramah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Teman kami gugur karena pembunuhan Jendral, makan siang bukan tujuan kami datang ke sini",&lt;/strong&gt; Parasto menjawab selaku ketua rombongan. &lt;strong&gt;"Kami ingin langsung ke pokok masalah".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gubernur kemudian memperkenalkan stafnya satu persatu, termasuk tiga orang taruna senior. Ketika memperkenalkan para taruna itu, dia mengatakan bahwa salah satu dari taruna itu, adalah putra salah satu menteri kabinet pembangunan, tokoh ekonomi Indonesia. Tak tertarik anak siapa, yang penting kami ingin menanyakan kejelasan peristiwa pembunuhan itu. Pertemuan dengan Gubernur berlangsung tak bertele tele. Atas nama mahasiswa, Parasto menyatakan kemarahan atas terjadinya pembunuhan itu dan menuntut agar pelakunya ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Dia juga mempertanyakan kebijakan pendidikan di akademi militer. Sinambela, menimpal mengapa mahasiswa selalu dimusuhi penguasa seolah pengkhianat bangsa? Arogansi aparat dengan pendekatan heavy handed selama ini telah menjadikan budaya kekerasan sebagai alat penyelesaian. Gubernur menerima semua pernyataan mereka dan berjanji akan mencari jalan penyelesaian terbaik. Tak ada kebijakan dalam pendidikan taruna yang menempatkan mahasiswa sebagai musuh. Menjelang akhir pertemuan, Bram mengusulkan agar Gubernur membuat pernyataan sikap secara terbuka agar bisa menyejukkan suasana. "Kami akan ber-reaksi secara matang dan rasional, tetapi tak bisa menjamin bisa mengendalikan emosi teman teman kami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan selesai menjelang jam dua siang. Bertiga mereka bergegas pulang ke Yogya, malam itu harus berangkat ke Bandung. Jam empat Bram sampai ke rumah. Dia bilang sama ibunya kalau akan ke Bandung malam nanti. Ibunya mengingatkan &lt;strong&gt;"Bandung sedang gawat Bram, apa tidak bisa ditunda?"&lt;br /&gt;"Ibu, bayangkan jika ibu menjadi ibunda rekan yang meninggal terbunuh itu. Kehilangan putra yang dicintai dengan cara tragis. Saya akan sampaikan duka sedalam dalamnya buat ibunda Rene"&lt;/strong&gt;. Ibunya menyadari jika dia tak bisa mengubah rencana Bram untuk berangkat ke Bandung. Dia hanya memeluk putranya dengan rasa sayang yang dalam. Sementara bapaknya hanya berpesan singkat " Hati hati nak. Suasana tak menentu" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu mereka bertiga berangkat naik kereta. Rencana sudah matang, mereka akan minta penjelasan selengkap lengkapnya dari Dewan Mahasiswa ITB tentang peristiwa tragis itu. Juga menemui keluarga almarhum untuk menyatakan duka. Bram tak bisa memejamkan mata. Tak bisa dia membayangkan kesedihan ibunda Rene kehilangan putra tercintanya. Ibunya tadi dipamiti kalau mau ke Bandung saja, matanya berkaca kaca. Bram memang sangat mencintai dan dekat sekali dengan ibunya. Dengan bapaknya dia juga bisa dikatakan dekat dan sangat segan. Hanya tak sehangat hubungannya dengan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba pikirannya melayang ke peristiwa perkenalan dengan Rosa beberapa minggu lalu. Begitu indah. Begitu mengasyikkan. Dia ingin melewati waktu waktunya bersama Rosa nantinya, jika mungkin. Hatinya berdesir mengingat peristiwa pertemuan itu. Ah Rosa kapan, kita sempat bertemu lagi? Tak mungkin dalam kunjungan kali ini. Ada misi yang tak bisa di campur aduk. Misi mencari fakta peristiwa pembunuhan itu, sekaligus mengucapkan duka kepada keluarga almarhum. Esok masih ada hari, masih ada waktu untuk bertemu lagi dengan Rosa. Rasa rindu itu ditutupnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-274476036266397664?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/274476036266397664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/01/bandung-membara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/274476036266397664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/274476036266397664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2009/01/bandung-membara.html' title='(7) Bandung membara'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SXwxWpNg-5I/AAAAAAAAAII/IaLjNxBYm-k/s72-c/images%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-4709766613373157863</id><published>2008-12-26T22:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:37:49.483-08:00</updated><title type='text'>(6) Surat dari Rosa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVXQd0Sd0aI/AAAAAAAAAHU/d3JJG_6ut2g/s1600-h/love-letter-opener-favor-7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284358948460024226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 165px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVXQd0Sd0aI/AAAAAAAAAHU/d3JJG_6ut2g/s200/love-letter-opener-favor-7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu belakangan Bram begitu sibuk. Irama hidup kembali seperti sedia kala. Hampir tiap hari terlibat dalam diskusi di berbagai kampus. Sebagai aktivis mahasiswa, dia harus selalu banyak diskusi dan mengikuti perkembangan terakhir di tanah air. Banyak motif mewarnai kelompok mahasiswa. Dia bersama beberapa teman dekatnya ingin membawa kelompok kelompok ini dalam arus yang sama. Melawan ketidak adilan, penumpukan kekuasaan dan korupsi di kalangan penguasa. Apapun namanya, entah dengan dalih dwifungsi, entah pertahanan semesta, entah itu stabilitas nasional, penumpukan kekuasaan selalu saja punya ekses negatip. Korupsi, pelanggaran hak azasi dan pemberangusan kebebasan berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana terasa semakin panas dalam bulan bulan terakhir ini. Dalam rangka menanamkan kekuasaan di kampus, penguasa mewajibkan Wajib Latih Mahasiswa (Walawa). Timbul protes dimana mana di kalangan mahasiswa menentang militerisasi kampus. Mahasiswa yang telah menjalani latihan kemiliteran, mendapat fasilitas tersendiri di kampus. Berbagai resimen mahasiswa di bentuk. Kelompok ini sering bersikap berlebihan. Gagah gagahan dalam kampus, dengan seragam militer. Di Fakultas Kedokteran, seorang asisten dipukuli oleh mahasiswa yang tak lulus tentamen. Mahasiswa tersebut adalah anggota menwa (resimen mahasiswa) dan mendatangi laboratorium bersama dengan teman teman menwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu diskusi di Magelang, seorang petinggi militer menyatakan bahwa jika program pertahanan semesta ini berhasil, maka Indonesia akan punya tenaga terlatih militer sebanyak delapan puluh juta. Terbanyak di dunia. Indonesia akan disegani di kalangan masyarakat internasional. Bram ikut dalam diskusi itu. Tak ada manfaatnya mendebat petinggi militer itu. Toh media akan mengikuti pendapatnya, hanya karena diucapkan oleh seorang pejabat petinggi militer. Hipokritnya media di Indonesia. Bukan isi pernyataan yang penting, tetapi siapa yang mengucapkan. Delapan puluh juta tenaga militer ? Mau perang sama siapa? Dimana medannya, apa mau sewa gurun Gobi? Ide gila. Hanya akan membawa Indonesia terpuruk di dunia internasional. Masalah stabilitas selalu jadi alasan. Tak masuk akal. Pendekatan militeristik ini yang justru menimbulkan gerakan separatis.. Juga malah memperlemah kemampuan riel militer mengamankan negeri ini. Pencurian harta laut, perambahan hutan dimana mana di muka mata para penguasa. Para petinggi militer justru sibuk terlibat dalam bisnis dan pemerintahan sipil. Urusan pertahanan dan keamanan terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram juga sibuk menyelesaikan skripsi akhirnya. Sudah selesai ditulis, tinggal konsultasi sama dosen pembimbing. Tak selalu mudah menemui sang dosen, yang juga sibuk ngajar ke sana kemari. Para dosenpun perlu ngobyek untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gaji pegawai negeri sipil tak pernah cukup memenuhi kebutuhan bulanan. Keinginan untuk menulis surat ke Rosa masih lekat dalam benaknya. Berkali kali diusahakan, tak juga bisa tuntas. Apa yang harus dia ungkapkan? Semua rasa dan ingatan akan Rosa hanya mengental dalam batin. Tak mampu dia mengubahnya ke tindakan nyata. Sekalipun hanya menulis surat. Kata kata indah yang akan disampaikan hanya keluar dalam angan angan sebelum tidur. Membayangkan Rosa yang lembut dan cantik. Ingatannya tak pernah bisa lepas darinya. Malam malam yang sunyi selalu membawanya melanglang lamunan. Suatu sore sepulang dari kampus pak Djo tergopoh gopoh menemuinya di kamar.&lt;br /&gt;"Gus tadi ada surat untukmu. Sengaja saya sembunyikan karena agak aneh. Sampulnya warna jambon. Saya takut jangan jangan keng Ibu akan bertanya".&lt;br /&gt;"Terima kasih pak Djo. Ibu tak akan menanyakannya". Bram tahu persis, jika ibunya tidak akan mengurusi surat yang diterimanya. Tak mungkin itu.&lt;br /&gt;"Iya Gus, tetapi ibu akhir akhir ini selalu bertanya kemana sampeyan pergi? Sama siapa?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram tak begitu memperhatikan laporan pak Djo. Surat itu diterimanya dan diletakkan di meja. Nanti akan dibaca setelah mandi. Ada beberapa surat yang datang. Memang ibunya agak sering bertanya akhir akhir ini. Suasana memang sedang memanas di kampus. Mungkin semua orang tua juga akan khawatir jika anaknya ikut aktif dalam gerakan mahasiswa. Sehabis mandi dia membuka surat pertama yang disampaikan pak Djo. Agak aneh, warna sampul merah jambu. Dia terhenyak, ternyata dari Rosa. Merasa berdosa kenapa bukan dia yang menulis duluan. Ah, besok masih bisa menulis. Dia baca pelan pelan surat singkat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bram yang baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Bandung untuk teman baru yang kupercaya. Semoga surat ini sampai di tanganmu di saat yang tepat, dan semoga engkau selalu dalam keadaan baik. Setelah kau pulang ke Yogya beberapa minggu lalu, saya selalu menanti kabarmu, menunggu surat darimu. Saya khawatir tak akan menerimanya. Lebih menakutkan lagi, jika kau melupakan semuanya yang kita alami. Saya selalu berharap persahabatan kita tetap akan berlanjut bersama dengan perjalanan waktu. Hidup memang harus selalu penuh harapan kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau pikir saya wanita murahan ya Bram. Setelah berbincang denganmu di rumah makan itu, saya mempunyai kepercayaan yang besar terhadap dirimu. Walau baru selintas mengenal. Perkenalan itu begitu berarti bagiku. Begitu indah peristiwa sepanjang perjalanan itu. Perasaan saya melayang. Tak ada yang perlu disesali. Janganlah kita tinggalkan kenangan itu begitu saja. Seperti hanya impian sesaat. Jika itu hanya mimpi, saya tak ingin mimpi hanya sesaat. Saya ingin mimpi mimpi indah selalu datang kembali bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak yang ingin saya ungkapkan. Masih banyak cerita yang ingin saya sampaikan jika saatnya tiba. Tak akan ada dusta di antara kita. Tak perlu berjanji karena sekedar janji hanyalah akan melukai hati kita masing masing. Tak perlu memberikan komitmen apa apa saat ini. Biarlah persahabatan kita berjalan tulus. Berjalan alami apa adanya ya Bram. Salam dan doaku selalu mnyertaimu. Hari hariku selalu menunggu surat darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipit Rosalina, teman setiamu.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-4709766613373157863?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/4709766613373157863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/surat-dari-rosa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4709766613373157863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4709766613373157863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/surat-dari-rosa.html' title='(6) Surat dari Rosa'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVXQd0Sd0aI/AAAAAAAAAHU/d3JJG_6ut2g/s72-c/love-letter-opener-favor-7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-8262410103666344351</id><published>2008-12-25T19:36:00.001-08:00</published><updated>2009-02-02T15:37:25.427-08:00</updated><title type='text'>(5) Masih ada hari esok</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVRSCILCfAI/AAAAAAAAAHM/uI2gV2fMTCw/s1600-h/bouginvila.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283938459319434242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 143px; CURSOR: hand; HEIGHT: 107px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVRSCILCfAI/AAAAAAAAAHM/uI2gV2fMTCw/s200/bouginvila.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah gontai Bram memasuki halaman rumahnya. Baru saja datang dari Bandung. Tidak naik bis. Naik kereta malam. Berangkat jam tujuh petang hari. Sampai stasiun Tugu jam empat dini hari. Tak ada yang istimewa sepanjang perjalanan. Dia hanya menatap langit malam diluar sana. Sampai bosan dan tertidur. Sorenya sebelum berangkat dia sempat tilpon Rosa. Hanya pamitan. Banyak yang ingin dia katakan. Tetapi lidah tak mampu megungkapkan. "Jangan lupa tulis surat ya jika sampai di Yogya. I will keep waiting Bram. " Itu pesan Rosa yang terus diingatnya. Lupa sih tidak mungkin. Cuma bisakah dia merangkai kata kata secara tepat. Apa yang harus dia ungkapkan? Dia ingin realistis. Benak kadang terisi banyak impian indah, kalau sedang mabuk cinta. Nantilah pikir belakangan. Masih ada hari hari esok untuk menulis dan merenda kata kata yang tepat. Pak Djo, pembantu setianya membukakan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho Gus Bram, kok pagi benar ?".&lt;br /&gt;"Saya naik kereta malam pak Djo. Romo ibu masih sare ya? Jangan dibangunkan". Dia bergegas masuk kamar. Pak Djo mengikuti membawakan tas sampai depan kamar.&lt;br /&gt;"Apakah Gus mau saya buatkan kopi?"&lt;br /&gt;" Terima kasih. Tetapi jangan berisik nanti membangunkan romo ibu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram merebahkan diri di kasur, menunggu kopi siap. Pak Djo, pembantu setia itu sudah puluhan tahun bersama keluarganya. Hampir seperti anggota keluarga sendiri. Anak anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di kampung. Isterinya meninggal beberapa tahun lalu. Bau harum kopi menyapu kamar, Pak Djo datang membawakan kopi.&lt;br /&gt;"Gus banyak tamu datang mencarimu beberapa hari ini"&lt;br /&gt;" Terima kasih. Letakkan di meja itu. Kamu kembali ke kamarmu pak Djo".&lt;br /&gt;Agak malas Bram melayani percakapan pak Djo. Kalau dituruti dia bisa cerita ngalor ngidul. Termasuk cerita tentang Ratu Kidul segala. Dia ingin segera tidur istirahat. Esok bisa menanggap pembantunya ada cerita apa selama seminggu dia pergi ke Bandung. Bram terlelap kecapaian. Terlelap dalam impian impian indah. Tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari telah meninggi ketika dia bangun. Burung burung berkicau di luar di pohon jambu yang rimbun. Sejenak bermalasan di tempat tidur. Jam telah menunjukkan pukul sembilan lewat. Bram masih malas beranjak dari kamar. Pikiran melayang kemana mana. Ketokan di pintu menghentikan lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bram jika sudah mandi, sarapan telah siap sejak tadi. Bapakmu sudah berangkat pagi pagi" Suara ibunya lembut. Dia hapal betul suara itu. Mandi sama sarapan pagi menjadi ritual rutin yang selalu diingatkan oleh ibunya. Sejak dia kanak kanak.&lt;br /&gt;"Iya Bu. Saya datang dengan kereta malam jam empat tadi. Pak Djo membuatkan kopi tadi".&lt;br /&gt;"Dia nggak cerita apa apa ? Banyak yang mencarimu selama kau di Bandung. Mandi dulu nanti ceritanya diteruskan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas Bram menuju kamar mandi. Pak Djo telah menyiapkan air hangat. Dia selalu menyiapkannya tiap pagi. Selesai mandi dia menuju meja makan. Sarapan telah siap, telor mata sapi, tahu goreng dan sambal kecap. Sambal kecap dan tahu goreng adalah makanan khas sarapan para mahasiswa. Terutama mereka mereka yang indekost. Jika kostnya mewah sedikit, sarapan pakai telor ceplok. Jika sedang krisis, sarapan pagi sambal kecap, makan siang kecap sambel. Ini cerita teman temannya yang kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bram, nak Reni kapan itu tilpon. Pengin ketemu sama kamu. Sempatkan tilpon atau ketemu. Nanti dikiranya saya nggak nyampaikan pesannya".&lt;br /&gt;"Iya Bu, besok besok akan saya sempatkan menemuinya"&lt;br /&gt;Bram menjawab singkat pesan ibunya. Dia mencoba menghindari pembicaraan mengenai Reni dengan ibunya. Bisa bisa melebar kemana mana. Ibu Reni punya hubungan dekat dengan ibunya. Mungkin ada hubungan kerabat jauh.&lt;br /&gt;" Bagaimana kabar Pakdhe dan Budhemu di Bandung ? Sehat sehat kan? Beberapa temanmu dari kampus bolak balik mencarimu. Apa ada masalah serius?"&lt;br /&gt;"Pakdhe dan Budhe, baik baik saja. Sempat cerita macam macam. Termasuk dia lari tunggang langgang dikejar pak Kanjeng . Juga cerita tentang pengalamannya selama menjadi duta besar".&lt;br /&gt;"Jika mau ke kampus, hati hati ya. Kelihatannya suasana agak memanas minggu ini. Teman temanmu banyak menanyakanmu. Jangan lupa kontak nak Reni"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya selalu khawatir memikirkan kegiatan Bram sebagai aktivis mahasiswa. Aparat keamanan kadang2 bersikap ringan tangan terhadap para aktivis. Banyak aktivis di awasi KOPKAMTIB, sering diinterogasi dan dipermak selama interogasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Jam lima sore Bram sudah datang di rumah Reni di jeron beteng. Tepatnya di Ngadisuryan, sebelah barat alun alun kidul. Reni kebetulan tidak jaga. Dia duduk di tahun ke lima sekolah kedokteran. Satu setengah tahun lagi akan menyelesaikan pendidikan dokternya. Mereka berdua bersahabat dekat. Mungkin juga karena ada hubungan kerabat walaupun jauh, yang membuat mereka akrab. Namun orang tua masing masing mungkin berpikiran lain. Mereka mengharap hubungan Bram dan Reni berkembang lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Bram, ke Bandung kok nggak ngomong sama sekali ? Ada rahasia apa?" Reni menyambut Bram dengan riang seperti biasanya. Dia merasa akrab seperti kakak beradik dengannya.&lt;br /&gt;" Sekedar mengunjungi Pakdhe, lama nggak bertemu. Juga tanya tanya soal karier masa depan".&lt;br /&gt;"Rupanya mas Bram serius berpikir masa depan sekarang ya. Masih aktif di Dewan Mahasiswa kan?&lt;br /&gt;"Aktif di dunia mahasiswa tak harus mengorbankan masa depan zoes. Saya pengin mencari karier di bidang yang saya tekuni. Diplomasi internasional. Anda ko-skap di mana sekarang?&lt;br /&gt;"Baru seminggu ini masuk Bagian THT, di rumah sakit Mangkuwilayan. Lumayan nggak begitu tegang. Kasus darurat jarang jarang"&lt;br /&gt;"Ibu bilang kau mencari saya ya? Apa ada sesuatu yang serius ?"&lt;br /&gt;"Serius sih enggak mas Bram. Cuma pengin ketemu dan ngobrol saja. Biasanya saya tak pernah sempat ngobrol. Praktek klinik ini telah menyita seluruh waktu dan perhatian"&lt;br /&gt;"Tak perlu menyesal. Jalan karier itu sudah kau pilih sejak awal kan. Dokter di klinik harus siap memisahkan waktu untuk pribadi dan tugas profesi"&lt;br /&gt;"Jangan salah sangka mas Bram. Saya tak pernah menyesal. Hanya kadang kadang saya merasa kehilangan begitu banyak waktu bersama teman seperti waktu SMA dulu. I miss the beautiful time in the past".&lt;br /&gt;" Tak usah sentimental. Hidup adalah perjalanan. Hidup adalah kenyataan Reni"&lt;br /&gt;"Akhir akhir ini saya merasa bimbang sekali mas. Ada sesuatu yang akan saya ceritakan, jika anda tak keberatan. Saya perlu nasehatmu"&lt;br /&gt;" Jangan ragu bila saya bisa membantu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reni akhirnya menceritakan jika ada salah seorang seniornya, telah mendekatinya sejak beberapa bulan ini. Hanya seminggu lalu dia bicara terus terang padanya. Herman beberapa tahun diatas Reni, saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis kandungan. Reni juga tak kenal dekat benar dengannya. Orangnya pendiam dan serius. Sewaktu Reni ko skap di Bagian Kandungan, di rumah sakit Mangkuyudan, mereka sempat dekat. Reni belum pernah pacaran ataupun mempunyai hubungan istimewa dengan laki laki. Pria yang paling dekat dengannya, hanyalah Bram. Dia merasa dekat dengan Bram, sebagai teman dan kerabat. Tak ada getaran asmara. Tak ada birahi yang membara. Hanya platoonis semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Bram, saya tak pernah punya hubungan khusus dengan laki laki. Belum pernah pacaran. Masak mas Herman begitu kenal dekat langsung mau ngajak serius. Bingung saya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Reni, hidup dan kebahagiaan adalah pilihan. Ikuti suara hatimu. Jika kau merasa cocok dan mencitainya, sayangilah dia demi masa depanmu. You have all my support darling"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram agak terkejut sebenarnya. Namun dia sadar, Reni juga sudah saatnya memikirkan pilihan masa depannya. Sebentar lagi lulus dokter. Hubungannya dengan Reni, semata mata persahabatan. Tak mungkin berkembang lebih lanjut, walau dia selalu mengagumi dan menikmati hubungan itu. Reni begitu lembut dan ceria. Reni mempunyai ciri khas wanita Jawa, wajahnya oval dengan mata yang selalu berbinar indah. Pembawaannya selalu ceria. Orang harus berani memutuskan pada saat yang tepat. Jangan membuat kesan berkepanjangan seolah punya hubungan khusus, jika kedekatannya hanya semata mata persahabatan. Ini waktu yang tepat untuk menegaskan hubungan itu.&lt;br /&gt;" Kapan kapan kenalkan saya sama Hermanmu ya. Saya ingin dia juga sangat menyayangimu. Kita akan tetap bersaudara, bersahabat dekat".&lt;br /&gt;"Apakah anda kecewa mas Bram?　&lt;br /&gt;"Nggak ada alasan untuk kecewa. Saya bahagia jika anda mendapatkan seseorang yang akan membahagiakanmu. Tak ada kata perpisahan di antara kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu　perasaan Braｍ tenang sekali. Ingatannya tak bisa lepas dari Rosa. "Jangan lupa tulis surat ya", kata kata Rosa selalu mampir di telinganya. Berkali kali mencoba menulis. Tetapi selalu kandas di tengah. Ah besok masih ada hari untuk menulis. Tak perlu kecil hati. Tak perlu tergesa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-8262410103666344351?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/8262410103666344351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/masih-ada-hari-esok.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/8262410103666344351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/8262410103666344351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/masih-ada-hari-esok.html' title='(5) Masih ada hari esok'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SVRSCILCfAI/AAAAAAAAAHM/uI2gV2fMTCw/s72-c/bouginvila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-2830436931052336004</id><published>2008-12-11T11:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:36:52.598-08:00</updated><title type='text'>(4) Di bawah rumpun kembang sepatu</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SUFk32dYIrI/AAAAAAAAAGU/JskDqizS-1o/s1600-h/Hibiscus_rosa-sinensis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278611148929245874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 163px; CURSOR: hand; HEIGHT: 139px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SUFk32dYIrI/AAAAAAAAAGU/JskDqizS-1o/s200/Hibiscus_rosa-sinensis.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seharian Bram tidak kemana mana. Di rumah membaca buku dan majalah. Tak ada keinginan untuk keluar. Lewat jendela angin semilir kadang datang membelai. Melihat daun daun cemara di luar melambai diterpa angin. Bunga bunga mawar menebar bau harum menerobos masuk ke kamar. Membuatnya betah di rumah. Terbersit keinginan ketemu teman di salah satu kampus di Bandung. Sama sama aktivis mahasiswa. Ah paling paling bicara tentang demo. Sekali ini tak ingin memikirkan negara. Berpikir tentang karier dan masa depan dulu.. Ada temannya satu SMA yang kuliah di ITB. Sudah beberapa tahun tak bertemu. Terakhir dia menjadi pengurus majalah mahasiswa. Tak ada hasrat menggelora menemuinya kali ini. Tak seperti kunjungannya di masa lalu. Dia selalu menemui mereka. Bicara tentang kebebasan mimbar, bicara tentang kebenaran, tentang penindasan. Tentang korupsi. Kali ini lain. Dia lebih berminat memikirkan kebebasan dirinya memikir masa depan. Masa depan. Bicara tentang kebebasan dan kebenaran tak perlu mengorbankan masa depan. Tiba tiba saja dia teringat Rosa. Kartu namanya ada di dalam dompet. Pipit Rosalina. Harus ketemu sebelum pulang ke Yogya. . Ingin mengatakan sesuatu padanya. Hatinya seolah begitu dekat. Dia memutuskan menemuinya. Toh ini bagian dari masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam empat sore hari, dengan opelet Bram menuruni jalan Dago. Belok ke kanan ke arah LIPI menuju daerah Cisitu. Cari alamat dalam kartu nama itu. Di ujung jalan ada rumah berpagar hidup. Nomer sebelas. Ya itulah nomer rumah yang tertulis dalam kartu nama. Pohon pohon bunga sepatu mengelilingi pekarangan luas. Hibiscus rosa sinensis. Warna merah merona, Ada beberapa yang kuning. Tak menabur bau harum. Tetapi bunga sepatu tak akan layu oleh kekeringan. Daunnya tetap hijau berkilat di musim kering. Bunganya tetap mekar tersenyum ke alam sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram ragu sejenak. Dipencetnya bel di gerbang kayu. Seorang lelaki muda membukakan pintu.&lt;br /&gt;"Mau ketemu juragan?".&lt;br /&gt;"Apakah benar bu Pipit Rosalina, tinggal di sini ? Tanya Bram agak ragu.&lt;br /&gt;" Iya benar. Mungkin sebentar lagi datang. Silahkan masuk gan".&lt;br /&gt;Dengan mantap dia melangkah masuk pekarangan. Pekarangan luas, bersih terpelihara. Di antara Hibiscus nampak rumpun rumpun bouginvila ungu. Sejuk, asri dan damai. Seorang pria usia lanjut berambut putih duduk di beranda tengah. Bram memberikan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat sore Bapak. Saya ingin menemui Rosa".&lt;br /&gt;" Saya ayah Rosa. Sebentar lagi dia datang. Siapa anda ? Sudah lama kenal Rosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram terhenyak dengan pertanyaan begitu langsung.&lt;br /&gt;" Saya Bramnatyo pak. Kami berkenalan di Yogya baru baru ini. Kebetulan saya di Bandung beberapa hari. Apakah masih lama dia datang ?".&lt;br /&gt;" Jam empat workshop sudah tutup. Aturan dia sudah datang. Mungkin sebentar lagi. Silahkan duduk"&lt;br /&gt;" O begitu. Workshop memproduksi apa pak?" Kecewa dia menanyakan pertanyaan itu. Menunjukkan bahwa dia belum kenal baik dengan Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dia memproduksi pakaian jadi. Makin banyak pekerjanya akhir akhir ini. Rosa begitu sibuk sekarang. Apakah anda rekan usaha ? Saya sendiri sudah berhenti lama. Usaha saya diteruskan Iwan adik Rosa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Maaf saya baru saja kenal. Saya masih kuliah di Yogya pak. Rosa belum cerita banyak tentang usahanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran Bram melayang. Tak tenang hatinya. Jangan jangan kedatangannya tidak dikehendaki. Pikirrannya bergejolak. "Ngapain susah susah ke sini.? . Siapa suruh datang ke sini ? Tetapi dia ingat benar kata kata Rosa, "Datanglah ke rumah sebelum pulang ke Yogya ya". Dan kartu nama itu bukti kalau dia mengundangnya. Kadang kadang orang memberikan kartu nama sekedar untuk aktualisasi diri. Ini lho siapa aku, apa jabatanku. Belum tahu siape gue? Tetapi Rosa memberikan kartu namanya karena ingin memberinya alamat, dan pasti mengharapkan kedatangannya. Tidak ragu ragu dia. Pertanyaan Bapak Rosa, pertanyaan biasa sebagai orang tua. Pengin tahu siapa teman yang akan menyambangi anak wanitanya. Biasa. It is not an issue, young man. Tak separah yang pernah dialami temannya satu kuliah di Yogya, Abdulah Haliman. Sewaktu bertandang ke rumah teman gadisnya, bapak sang gadis melakukan interogasi dan meminta kartu mahasiswanya. Edan. Mungkin saja orang itu pensiunan Hansip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba suara mobil pick up masuk halaman samping. Rosa turun dari pintu belakang. Wajahnya nampak lelah. Belum tahu kalau ada tamu menunggunya. 'Pipit, mas ini, mas Bramantyo pengin menemuimu", ayah Rosa menyambut. "Silahkan sama Pipit, saya ke dalam dulu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Rosa nampak berubah. Tak pernah berpikir atau berharap kalau Bram yang dikenalnya di bis malam itu akan mau datang menemuinya. Sekalipun dia mengharap dengan ragu. Wajah lelah nampak berubah ceria. Bram terhenyak sekali lagi melihat wajah kalem dan ceria itu. Kata kata Rosa meluncur lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum selesai acara di Bandung ya? Semua lancar lancar kan? Kaget saya anda mau datang. Saya pikir tak akan pernah datang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Beberapa hari malas malasan di rumah. Baca buku. Tak kemana mana. Besok pagi pulang. Makanya saya sempatkan ke sini. Ingat pesan anda untuk datang ke rumah sebelum pulang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Gimana kalau kita duduk di luar sana?. Lebih enak sambil menikmati angin sore". Rosa menunjuk ke halaman samping di muka pavilion. Ada kursi taman dibawah naungan pohon kembang sepatu. Seorang wanita seetengah baya menyajikan teh bersama dengan stopless berisi emping. Bram hanya mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Maaf jika tak keberatan, saya akan mandi sebentar ya. Silahkan baca kalau minat". Beberapa majalah disodorkan ke Bram. Dia ambil koran Pikiran Rakyat. Mencoba membaca namun hatinya tak bisa tenang. Pikirannya melayang ke mana mana. Nggak tahu apa yang akan dilamunkan. Ikut saja. Melayang dalam lamunan. Tanpa agenda. Banyak orang melamun dengan memaksakan diri. Memikirkan hal yang nggak mungkin terjadi. Bram tak ingin itu. Perhatiannya tertarik ke bunga bunga sepatu yang segar dan ramah. Ranting ranting pohon kembang sepatu berayun ayun bermain bersama tiupan angin. Bunga bunga bouginvila warna ungu seolah menyaksikan dan menemani dirinya. Dalam keheningan. Mengapa sampai di sini ? Tak ingin dia memikirkan mengapa, tetapi memang harus ke sini. Pengin ke sini. Bertemu Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Rosa muncul dari pintu pavilion. Memakai baju warna lila. Nampak bersih dan ceria. Senyumnya begitu lepas dengan mulut yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kamar saya. Sekalian tempat kerja saya. Saya masih banyak mengerjakan banyak hal di malam hari. Usaha saya masih dini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram masih tertegun menatap Rosa. Tak bisa mengusir lamunannya, membayangkan saat Rosa bersandar di pundaknya. Hatinya seolah lekat, lamunannya tertumpu ke wanita ini. Mencoba menenangkan diri agar bisa berkata kata dengan pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bung mengapa diam saja ? Jangan gitu dong. Baru ketemu sekali. Kita sukuri perkenalan kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram kaget terbangun dari lamunannya. Menjawab sekenanya "Kebun ini indah sekali. Saya senang kombinasi kembang sepatu dengan bouginvila ungu. Ceria dan damai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana saya harus memanggil anda ? Tak enak hanya memanggil Bram. Pengin panggil mas, tetapi di Manado konon orang memanggil tukang bakso dan tukang becak dengan mas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dipanggil apapun mau. Terserah anda. Selagi masih mau memanggil saya, saya akan senang". Bram tak pernah berpikir bagaimana dia harus di panggil. Belum masuk agendanya formalitas panggil memanggil. Dia ingat orang tua temannya di jeron beteng Yogya. Ibunya selalu memanggil sang suami dengan Romo Kanjeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Cuma itu ? Bahagia jika saya panggil ? Tak ingin lebih dari sekedar dipanggil?. Bram, Anda aktif di gerakan mahasiswa. Bagaimana kalau saya panggil Bung ? Rosa mencoba berseloroh. Tetapi selorohnya sudah agak menjurus dalam. Tak tahu Bram apa maksud pertanyaan itu. Tak perlu dijawab langsung. Akan dicatat dalam agendanya. Suatu saat nanti akan dia jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram dan Rosa asyik bicara menikimati sore yang indah. Di bawah rimbun pohon bunga sepatu. Di antara bunga bunga bouginvila ungu. Hati Bram damai dan tenang. Tak ada keraguan, mengapa dia datang ke sana. Siapa suruh datang ke sana. Dia memang ingin ke sana dan harus ke sana. Menemui Rosa. Sementara Rosa banyak cerita tentang usaha pakaian jadi yang tengah dirintisnya. Mantap sekali dia menekuni menyenangi bidang itu nampaknya. Hanya orang orang yang menyenangi pekerjaannyalah yang akan berhasil. Ada motivasi kuat berkembang. Rosa bercerita bagaimana dia merasa begitu bangga melihat pakaian yang dirancang dan diproduksinya dipakai orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Karier apa yang anda rencanakan Bung Bram?. Pasti sudah punya rencana matang ya? . Bram tersentak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan ini yang selalu menghantui dirinya. Ingat kata Bude Larasati, raihlah bintang bintang di langit. Agak kecut memikirkan. Apalagi ingat jika teman teman seangkatannya berseloroh. "Sampai jumpa di Stasiun Senen sesudah lulus nanti". Hampir semua lulusan selalu berpikir ramai ramai ke Jakarta. Tanpa sadar Bram bercerita tentang pakdhenya, Dewanto, mantan diplomat, yang begitu dia kagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bung Bram, karier tak datang dengan sendirinya. Karier tak jatuh dari langit. Karier tercapai karena orang merencanakan, mengimpikan dan berusaha menggapainya. Mengapa nggak mengikuti jejak pakdhemu ? ". Bram terdiam. Dia tak ingin bicara masa depan saat ini. Biarlah mengendap dulu. Gelap mulai menyaput. Bram merasa sudah saatnya pulang. Meskipun dia menikmati pembicaraan dengan Rosa. Sesaat setelah berpamitan Rosa berkata " Bung Bram, kita teruskan persahabatan kita. Jangan lupa beri kabar ya. I mean it". Dia hanya berkata dalam hati, salam dan doaku selalu bersamamu, Rosa. Hatinya berdesir ketika tangannya memegang tangan Rosa di pintu. Setelah menarik napas panjang, dia berjalan pelan dalam keheningan dan kedamaian. Beberapa puluh langkah kemudian, dia menoleh kembali. Seorang anak kecil nampak tertatih menghambur ke dekapan Rosa. Rosa menghilang di balik pintu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-2830436931052336004?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/2830436931052336004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/di-bawah-rumpun-kembang-sepatu.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/2830436931052336004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/2830436931052336004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/di-bawah-rumpun-kembang-sepatu.html' title='(4) Di bawah rumpun kembang sepatu'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/SUFk32dYIrI/AAAAAAAAAGU/JskDqizS-1o/s72-c/Hibiscus_rosa-sinensis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-4263485325709062291</id><published>2008-12-03T05:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:36:26.461-08:00</updated><title type='text'>(3) Raihlah bintang bintang itu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STaIELm3roI/AAAAAAAAAGE/5Twy5FV-aSo/s1600-h/star5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275553618927791746" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STaIELm3roI/AAAAAAAAAGE/5Twy5FV-aSo/s200/star5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada awan komulus bergumpal indah di ujung langit. Warna biru tak bertepi. Tak terjangkau batas penglihatan manusia. Mungkin juga pikiran manusia. Alam semesta tak berbatas, tak beujung, tak bertepi. Pikiran dan impian manusia selalu melanglang alam semesta. Lamunan tentang kehidupan. Impian tentang kebahagiaan dan kedamaian. Hidup kadang dalam lamunan indah menelusuri awan menembus cakrawala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram membayangkan Rosa, Pipit Rosalina, menari di antara gumpalan awan. Di antara pelangi dia melambaikan tangan. Sementara hatinya berdesir indah setiap wajah yang sejuk dan cantik itu mampir di ingatannya. Seandainya dia bisa berjalan bersama, menari bersama di antara awan indah itu. Berjalan bersama mengarungi semesta sampai akhir cakrawala. Impian indah. Kadang suatu saat hidup seperti dalam impian. Disitulah dia bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang dalam. Mungkin hanya sesaat. Tetapi dia merasakan kenikmatan luar biasa. Perasaan orang muda yang sedang jatuh cinta, selalu melayang melanglang buana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aneh jika dalam legenda Jawa, setiap ada tokoh pewayangan yang jatuh cinta atau kasmaran selalu diiringi irama gamelan khusus. Supaya bisa melamun dan melanglang buana dengan lebih asyik. Bahkan Burisrawa, tokoh legenda dalam cerita wayang itu kalau jatuh cinta selalu menari (Burisrawa gandrung) sambil menyanyikan lagu lagu khusus pula. Nggak tahulah, mungkin di jaman kuno dulu para raja jika sedang jatuh cinta, selalu melamun sambil diiringi irama gamelan. Di jaman modern ini mungkin hanya para dalang yang nyetel klenengan jika sedang bermain cinta, sekalian kaki memainkan kecrek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lewat petang ketika Bram terbangun. Rupanya sejak siang tadi ketiduran di kamar depan. Jendela terbuka, angin dingin terasa menyentuh. Badannya terasa segar kembali. Rasa ngantuk dan letih sudah hilang sama sekali. Hanya pikirannya yang masih menyanyi. Dia cepat cepat mandi dan ganti baju hangat. Kaos hangat warna merah hati pemberian kakak sepupunya Rio, selalu dia bawa jika dia ke Bandung. Karena dua alasan. Pertama, Bandung memang berhawa dingin. Kedua, Rio si pemberi kaos itu, bahkan Pakdhe dan Budhenya akan senang jika kaos itu dipakai. Bram selalu ingat dan menghargai pemberian orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakdhe Dewanto dan Budhe Larasati sedang duduk di halaman samping sambil menikmati teh hijau. Belum ada jam delapan malam. Langit bertabur bintang. Di ujung langit nampak rembulan memantulkan sinar lembut. Planit Venus nampak ceria. Dengan pantulan sinar lebih tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru bangun kamu Bram. Silahkan makan. Pakdhe sama saya sudah duluan tadi. Nggak sampai hati membangunkanmu. Kamu tidur lelap sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih Budhe. Nanti saja, belum terasa lapar" kilah Bram.&lt;br /&gt;Kebiasaannya sebenarnya, mulai makan sebelum terasa lapar, dan berhenti makan sebelum terasa kenyang. Ini bisa membuat stabil kondisi dan berat badan. Tetapi sekali ini dia agak nggak enak, pekewuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan selesai kuliahmu anak muda?. Apa rencana selanjutnya? Jangan pasif semata mata. Manusia harus membuat rencana masa depannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram terperangah mendapat pertanyaan bertubi walaupun memang dia datang ke Bandung khusus untuk minta nasehat khusus tentang masalah karier masa depannya. Di jaman ini semua harus pakai nasehat. Para pejabat selalu memohon pengarahan dari penguasa yang lebih tinggi. Dalam pembukaan acara resmi kedinasan, selalu ada pidato pengarahan. Kurang afdol jika tak ada. Acara pertemuan ilmiah juga harus ada pidato pengarahan, walaupun penguasa yang memberikan belum tentu tahu isi pokok masalah yang dibahas. Mungkin isinya hanya basa basi kata selamat datang buat para peserta. Tetapi karena namanya pidato pengarahan, rasanya jadi afdol. Ini masalah prinsip. Tak bisa ditawar. Mau melamar calon penganten atau acara mantenan juga harus ada pidato pengarahan. Supaya pasangan penganten nanti bisa hidup rukun sampai akhir hayat. Seperti mimi dan mintuna. Walaupun yang memberikan pengarahan kadang2 sudah kawin cerai berulang kali. Sekali lagi ini masalah prinsip. Nggak tahu prinsip dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sendiri masih samar samar Pakdhe. Belum ada rencana pasti. Romo ibu sih penginnya saya magang di pemerintahan" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi pamongpraja ? Jadi camat ? Kamu lulusan perguruan tinggi jurusan Hubungan Internasional, apa bisa bersaing sama lulusan APDN itu? Kamu kan nggak terlatih nggebuki orang waktu mahasiswa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram hanya terdiam melihat langit yang bertabur bintang. Tak enak menyangkal sindiran Pakdhenya. Mahasiswa APDN yang direncanakan menjadi pamong praja atau camat yang baik, malah terkenal suka main gebuk dan keroyok. Minimal nendhang. Dia tercenung kosong. Bingung memikirkan masa depan kariernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bram lihatlah bintang bintang di langit itu nak. Rencanakan kariermu, ukirlah masa depanmu untuk meraih bintang bintang itu. Demi kebahagiaanmu dan kebanggaan romo ibumu". Budhe Larasati, sok melankolis, pikir Bram. Tetapi pikirannya melayang ke Pipit Rosalina. Seandaninya saya bisa merangkai perjalanan karier disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu berpenampilan tenang dan punya kemampuan komunikasi bagus, maganglah jadi seorang diplomat. Kamu bisa menyumbang lebih banyak buat bangsamu" "Saya menggeluti dunia diplomatik berpuluh tahun. Dunia yang indah dan rumit. Penuh seni negosiasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan berpikir pikir dulu Pakdhe"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berani dia langsung mengiyakan atau membantah nasehat Pakdhenya. Kalau didebat dengan satu kata orang satu ini balik dengan dua puluh kata. Dia memang telah makan garam puluhan tahun di dunianya. Keinginan Bram untuk menjadi pamong praja, entah Bupati, Residen atau minimal Wedono sedikit kendur. Tak pernah dia ingin jadi camat. Apalagi kalau syaratnya harus terlatih nggebuki orang. Salah satu adik eyangnya dulu di akhir revolusi, harus masuk penjara karena nggebuki maling ayam sampai mati. Beliau lurah di salah satu desa di Bantul. Dalihnya nggak sengaja membunuh, hanya mau bikin kapok. Tetapi maling itu dipukul pakai doran, kayu dari pohon enau yang terkenal keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silahkan baca buku buku sejarah dalam diplomasi Bram. Pelajari kisah Sutan Syahrir, Perdana Menteri termuda. Umurnya baru tiga puluh tiga tahun waktu itu, tetapi pidatonya di depan sidang umum Perserikatan Bangsa Bangsa Bangsa, telah meluluh lantakkan diplomasi diplomat senior Belanda. Indonesia mendapat pengakuan defacto dari PBB. Ingat kan kisah presiden Kennedy almarhum? Jika beliau nggak pinter di dunia politik dan diplomasi, atau terbawa emosi menanggapi Perdana Menter Uni Soviet, Nikita Kruschev yang angin anginan dan semau gue, pasti sudah terjadi perang nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu serius berminat, saya akan kenalkan dengan temanku Rinto yang dinas di Pejambon, di Departemen Luar Negeri. Kami bertiga dengan Kresno almarhum sudah seperti saudara sewaktu di front Banaran. Saya sama Rinto sedang tidak berada di Banaran ketika peristiwa itu tejadi. Kami harus bertugas sebagai kurir, menyampaikan pesan ke daerah Sumowono. Rinto berpembawaan tenang dan tidak emosional. Jika kami berdua disana, tak akan terjadi penghadangan itu. Hanya puluhan pejuang masih hijau dengan empat pucuk bedhil, menghadang konvoi Gurkha satu batalyon. Kresno gugur bersama semua teman pejuang. Ayah dan metuanya dibunuh Gurkha. Saya hanya menyaksikan jasadnya ketika kembali ke desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakdhe Dewanto terlihat berkaca kaca menceritakan kisah tragis dan heroik puluhan tahun lalu itu. Dia selalu berkeyakinan jika semua masalah pasti bisa diselesaikan dengan perundingan. Bramantyo terdiam. Tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia mencamkan pesan pesan Pakdhenya, dunia diplomasi, mencegah penyelesaian masalah dengan senjata dan kekerasan. Dia mencamkan nasehat Budhe Larasati, raihlah bintang bintang itu. Akhirnya kembali wajah Rosa mampir dalam kalbunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-4263485325709062291?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/4263485325709062291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/raihlah-bintang-bintang-itu.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4263485325709062291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/4263485325709062291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/raihlah-bintang-bintang-itu.html' title='(3) Raihlah bintang bintang itu'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STaIELm3roI/AAAAAAAAAGE/5Twy5FV-aSo/s72-c/star5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-1595796368487918941</id><published>2008-12-02T06:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:35:59.591-08:00</updated><title type='text'>(2) Pakdhe Dewanto - Cerita dari masa silam</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STVMgu46lhI/AAAAAAAAAF8/ePkluyKpiaM/s1600-h/horse%20newman.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275206663760680466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 166px; CURSOR: hand; HEIGHT: 174px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STVMgu46lhI/AAAAAAAAAF8/ePkluyKpiaM/s200/horse%2520newman.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Ah Rosa". Pikiran Bram melayang. Wajah teman barunya begitu lekat dalam sanubari yang paling dalam. Bertemu tak terduga. Seperti mimpi, begitu indah. Sulit dipercaya. Tak kuasa melepaskan dia dari ingatan. Hatinya berdesir melambung. Terasa kebahagiaan luar biasa. Tak kuasa dia mengingat saat Rosa menggeliat kejang dalam rangkulannya tadi. Tak hanya wanita yang menyerah karena rasa nikmat birahi. Pria seperti Bram pun merasa begitu dalam keterikatannya melihat Rosa mencapai puncak nikmat karena dirinya. Orang selalu berpikir salah seolah laki2 hanya cari kepuasan dari wanita satu ke yang lain. Bram merasa tak bisa lepas dari Rosa karena peristiwa sesaat dalam bis tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih menunggu sampai matahari meninggi. Tak enak langsung datang ke rumah pak dhenya jika penghuni rumah masih tidur. Menunggu sambil melanglang lamunan mencari wanita yang baru dikenalnya. Baru kali ini dia mempunyai perasaan aneh seperti itu. Luar biasa. Naik opelet ke jurusan Dago arah utara. Jam setengah tujuh, dia sudah mengetuk pintu kediaman pak dhe Dewanto. Di daerah Dago atas. Hawa sejuk menerpa. Rasa lelah kurang tidur tesaput rasa aneh yang menghinggapi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Welcome young man. Selamat datang di Bandung. Naik kereta atau bis malam?" Pakdhenya punya kebiasaan memanggil dirinya dengan anak muda. Sejak dulu sewaktu dia masih kanak kanak. Selalu dicampur bahasa Inggris. Mungkin karena mantan diplomat. Generasi awal republik. Lain dengan para mantan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang selalu pakai bahasa Belanda, campur campur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Naik bis malam pakdhe. Sungkem dari romo ibu untuk pakdhe berdua".&lt;br /&gt;Bram selalu berbicara dalam bahasa Jawa halus dengan pakdhenya. Suatu kebiasaan dan disiplin keluarga yang tertanam sejak lama. "Istirahat dulu Bram. Lama kan di Bandung? Budhe Larasati selalu menyambutnya ramah. Tak lupa dia mencium tangan pasangan yang sangat dihormatinya itu."Silahkan di kamar tamu depan. Kedua kakakmu, Rio sama Mia masih di Jakarta". Ryanto, panggilannya Rio adalah putra pakdhe Dewanto yang pertama. Dia seorang pilot. "Terima kasih Bu Dhe, saya akan mandi dulu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah pakdhe Dewanto berhalaman luas. Di daerah perbukitan. Pohon pohon cemara nampak indah menghiasi halaman di bawah sana. Sementara berbagai tanaman bunga menghiasi tepian jalan jalan kecil di halaman. Bram ingat benar dia selalu bermain dengan sepupunya Rio di halaman itu sewaktu masih kanak kanak dulu. Pakdhe Dewanto berputra dua orang, Ryanto sama Mia. Mia seumur dengan Bram. Dia lulusan perguruan tinggi di Budapest. Sekarang bekerja di salah satu bank swasta. Juga di Jakarta. Selesai mandi Bram bergegas ke ruang belakang. Bergabung dengan pakdhe Dewanto dan budhe Larasati di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada acara khusus di Bandung Bram?"pakdhenya cepat bertanya.&lt;br /&gt;"Hanya pengin bertemu sama pakdhe berdua. Sekalian pengin nasehat untuk karier masa depan".&lt;br /&gt;" Omong omong sudah punya calon belum ? Kata ibumu kau sudah punya sir-siran. Calon dokter ya? Budhe Larasati memberondong pertanyaan beruntun.&lt;br /&gt;"Wah belum punya Budhe. Hanya sekedar teman dekat saja di Bandung sini" Bram berkata sekenanya. Ingatannya melayang ke Rosa. Tak sengaja.&lt;br /&gt;"Jaman saya muda dulu, kalau ada pemuda seumurmu belum punya minat sama perempuan, biasanya lantas disuruh minum jamu. STMJ. Susu telur madu sama jahe".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan pikir Bram, dipikir saya ini sapi. Dia ingat cerita pakdhenya dulu, kalau eyangnya punya peternakan sapi. Sapi pejantan selalu dikasih jamu susu madu telur jahe. Supaya birahi dan kuat kawin. Orang kampung sekitar biasanya akan mengawinkan sapi betinanya dengan pejantan bagus kepunyaan Eyangnya. Mereka harus bayar. Untung pemilik sapi pejantan karena akan terima bayaran jika ada orang yang ingin mengawinkan sapi betinanya. Sapi pejantan juga ikut untung, dapat jamu STMJ. Pria yang mengharapkan bayaran saat kawin atau mengawini wanita, hampir menyerupai sapi jantan. Atau akan menjelma menjadi sapi jika meninggal nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak ibumu sudah tahu kalau kamu punya teman wanita di sini ? Pertanyaan menyelidik dari budhe. "Jangan membuat kejutan untuk orang tua dalam memilih jodoh. Ada pakem dan ada adatnya sendiri"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan pikirkan Bram. Jika kamu sudah seneng mantep ya, orang tua bisa apa? Jaman sudah banyak berubah. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakdhe Dewanto berpikiran luas. Tak begitu peduli dengan adat istiadat Jawa yang ketat. Dia sering bercerita tentang masa mudanya. Beberapa kali Bram mendengar cerita yang hampir sama. Pemuda Dewanto dulunya suka mendekati gadis gadis pingitan di jeron beteng. Tak biasa di jaman itu pemuda main ke tempat gadis yang sudah menginjak dewasa. Tetapi pemuda Dewanto nggak peduli. Di mana ada putri yang cantik, dia coba berkenalan dan berkunjung ke rumah sang gadis. Siapa tahu ada wahyu dewata dan ada yang cocok. Dia selalu pakai sepeda merk BSA. Sepeda torpedo tanpa lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore di tahun lima puluh, Dewanto bertandang ke rumah seorang gadis kenalan barunya di daerah Ngabean. Dia duduk di bangku SMA kelas akhir waktu itu. Di SMA Padmanaba. Seperti biasanya dia naik sepeda kebanggaannya. Pamit sama ibunya ya Eyang putrinya Bram, katanya mau tentir untuk ujian akhir. Nggak tahunya hanya menuju rumah kenalan barunya Lena. Baru dikenal sehari sebelumnya dalam acara antar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jam enam sore, dia masih asyik ngobrol di kursi panjang di samping rumah. Rumah kebetulan sepi. Bapak Ibu Lena baru bepergian. Nggak tahu kemana. Bukan urusannya mau tahu kemana orang tua Lena pergi. Urusan saya hanya bertamu mengunjungi Lena. Sementara sepedanya terkunci di samping rumah. Situasi memang aman. Nggak ada orang lewat. Nggak ada anak kecil bermain di halaman. Nggak ada pemuda kampung yang ronda malam. Masih terlalu dini untuk ronda. Mereka berdua asyik duduk bersama di kursi panjang di bawah pohon mangga. Pembicaraan biasa biasa saja. Tak menyangkut hal hal yang menjurus ke masalah asmara. Tak lajim di jaman itu muda mudi bicara hal hal yang agak menjurus ke birahi. Paling paling cerita tentang buku yang baru saja dibaca. Mana tentang Siti Nurbaya, mana tentang Atheis, tentang Aku Ini Binatang Jalang, tentang karangan St Takdir Alisyahbana. Pemuda Dewanto secara basa basi melayani pembicaraan Lena. Tak berkonsentrasi benar. Dia senang buku buku terjemahan dari penulis penulis Eropa. Baru saja menyelesaikan bacaan terjemahkan karya Boris Pasternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah delapan pas asyik asyiknya bercerita, tiba tiba ada andhong berhenti di halaman depan. Kedua orang tua Lena datang naik andhong. Bapaknya seorang petinggi di Kepatihan, KRT Tantoro. Suaranya parau dan berat berwibawa. "Lena, kok lampu pendhopo masih gelap". Tak merasa berbuat kesalahan apa apa. Tetapi pemudha Dewanto, begitu ciut nyalinya mendengar suara menggelegar itu. Ini bukan main main. Baru kali ini dia mendengar suara demikian berat. Dia mencoba menenangkan diri. Mencoba mengingat kakek moyangnya Ki Ageng Singayuda, yang gagah berani melawan tentara Belanda di jaman perang Diponegoro. Legenda dan kebanggaan keluarga. Mengingat kakek moyangnya untuk sekedar mengembalikan rasa percaya diri. Tak juga membantu. Kakinya gemetaran. Hatinya berdebar keras, sementara Lena menyambut ayah ibunya ke ruang depan. Dia mencoba mengingat cerita tentang kakek moyangnya yang selalu gagah naik kuda hitam mulus Pasopati. Konon ketika terjepit sewaktu disergap pasukan Belanda di utara Sleman, Ki Singayuda berhasil lolos meloncat ke punggung kuda kesayangannya. Dan sempat melempar tombak ke komandan Kumpeni yang menyergapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampeyan siapa nakmas? Kok sampai malam begini sama Lena" Belum sempat dia memperkenalkan diri dia sudah dicerca dengan pertanyaan yang menusuk dan meluluh lantakkan keberaniannya sebagai keturunan Ki Ageng Singayuda. Sementara Lena berdiri gemetar ketakutan melihat ayahandanya begitu marah. "Pemuda masa kini harus tanggung jawab ys mas. Jangan sembrono ndekem di tempat gadis saja". Edan gelagat semakin buruk. Suara Kanjeng Raden Tumenggung Tantoro semakin menggelegar, hampir membentak. Sementara pemuda Dewanto sudah habis kehilangan nyali. Ketika dia melihat KRT Tantoro mulai meraba raba pinggangnya dia berpikir, orang ini bisa bunuh saya. Mungkin ada keris atau pistol di pinggangnya. Kainnya sudah disingkap ke atas. Nampak celana komprang warna hitam sepanjang bawah lutut. Lebih baik mundur. Menurut kepercayaan jika seorang manggala yuda sudah menyingkapkan kain sampai kelihatan celana komprangnya, pasti dia siap bertempur dan siap membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung suasana di bawah pohon mangga itu remang remang. Wajahnya yang pucat pasi tak nampak. Dia bergeser pelan kesamping menghampiri sepedanya. Dia ingat cerita moyangnya Ki Ageng Singayuda yang loncat ke atas kuda Pasopati, yang meloloskannya dari kepungan Belanda. Pemuda Dewanto secara instink loncat ke atas sepeda torpedonya. Sial baginya. Sepeda itu terkunci. Dia jatuh terjerembab bersama sepeda kesayangannya di halaman yang berpasir. Dia langsung bangun. Tak ada nyali seperti kakek moyangnya Ki Ageng Singayuda melempar tombak ke komandan Kompeni. Tetapi karena begitu grogi dia angkat sepeda itu dan dia bawa lari keluar halaman. Nyalinya baru kembali sesudah keluar pintu halaman. Di jalan raya Ngabean dia merasa merebut lagi sifat pemberaninya. Dia letakkan pelan pelan itu sepeda. Dia cari kunci yang ada di kantong celananya. Dia naiki sepedanya kembali. Dengan tenang pulang ke rumahnya di Pugeran. Pikirnya, tak layak turunan Ki Ageng Singayuda kok terbirit lari karena gertakan seorang Tumenggung yang pakai kathok kolor. "Belum tahu siapa saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bramantyo selalu ketawa mendengar kisah seru itu. Budhenya hanya tersenyum mendengar cerita konyol yang sudah berkali kali dikisahkan itu. Dia juga tak pernah ingin tahu siapa itu Lena, sang gadis anak Tumenggung. Cerita masa silam, puluhan tahun berlalu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-1595796368487918941?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/1595796368487918941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/pakdhe-dewanto-cerita-dari-masa-silam.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/1595796368487918941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/1595796368487918941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/12/pakdhe-dewanto-cerita-dari-masa-silam.html' title='(2) Pakdhe Dewanto - Cerita dari masa silam'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STVMgu46lhI/AAAAAAAAAF8/ePkluyKpiaM/s72-c/horse%2520newman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2189925667218082039.post-7994869351145449063</id><published>2008-11-30T08:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T15:35:20.760-08:00</updated><title type='text'>(1) Namaku Rosa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STLKMCFfC2I/AAAAAAAAAF0/Y652wMPvpHk/s1600-h/roses.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274500421671390050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STLKMCFfC2I/AAAAAAAAAF0/Y652wMPvpHk/s200/roses.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di penghujung tahun 1970. Bram dalam perjalanan dari Yogya ke Bandung. Naik bis malam Bandung Express. Nama lengkapnya Bramantyo. Raden Mas Bramantyo Kusumo. Suara bis terdengar mengerang melewati tanjakan bukit Plelen, sesudah lewat Weleri. Belum tua benar sebenarnya bis itu. Tetapi selalu saja mengerang setiap mendaki tanjakan. Seolah keletihan. Seperti dirinya. Letih menatap karier yang tak juga nampak ujungnya. Sebentar lagi dia lulus. Jurusan Hubungan Internasional di kampus Pagelaran. Kampus Univeritas Gadjah Mada yang numpang di pendopo keraton Yogyakarta. Dia sudah selesai tahun ke empat. Belum punya arah mau ke mana. Kegiatan mahasiswa diluar kampus yang begitu hiruk pikuk tak juga memberi arah jelas baginya. Kadang2 merasa takut, mau kemana masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama dia tak mengunjungi pakdhenya di Bandung. Beliau sekeluarga tinggal di Bandung setelah pension. Pensiunan duta besar RI di Hongaria, pakde Dewanto. Ingin petuah dari pakdenya yang kaya pengalaman. Dia selalu takjub mendengar petuah petuah pakdenya sejak kecil. "Datanglah ke Budapest anak muda. Kamu bisa banyak belajar di sana". Ayah dan ibunya selalu berharap dia akan menjadi pejabat tinggi pemerintahan. Ayahnya adalah petinggi di kantor pemerintahan Kepatihan. Bram putra semata wayang. Ibunya begitu sayang dan lembut padanya. Seperti halnya wanita2 ningrat Jawa, anggun dan berwibawa. Bram sering membayangkan punya pasangan hidup yang sabar dan anggun seperti ibunya. Ibunya juga wanita ningrat, keluarga berdarah biru. Kakek moyangnya adalah salah satu tokoh dalam perang Diponegoro seabad yang silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang masuk Pekalongan bis berhenti di rumah makan. Penumpang sebelahnya, seorang wanita muda, menggeliat berdiri. Mungkin kecapaian duduk. "Enak bisa turun sebentar", katanya ramah. Terkesima Bram menerima sapaan mendadak itu. Sejak berangkat dari Yogya dia diam seribu bahasa. Tak ambil pusing siapa yang duduk di sebelahnya. Pikirannya melayang kemana mana. "Saya Bram. Bramantyo", Bram cepat memperkenalkan diri. "Namaku Rosa. Pipit Rosalina". Turun dari bis, mereka berdua duduk semeja menikmati makan malam. Bram pesan makanan kesukaannya, nasi rawon. Dulu tak banyak nasi rawon di Jawa Tengah. Ini masakan asli Jawa Timur atau Madura yang telah masuk kasanah makanan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa teman bicara yang mengasyikkan. Suaranya segar dan merdu. Cerita banyak tentang dirinya. Tentang usahanya. Tak banyak tentang keluarganya. "Saya juga kuliah dulu. Fakultas Ekonomi sampai tahun kedua. Putus dua tahun lalu". Rosa tinggal di Bandung. Di daerah Sangkuriang. Dia pengusaha pakaian. Sering bolak balik ke Yogya karena usahanya. Selesai makan, bis berangkat kembali. Jam telah menunjukkan lewat jam sepuluh malam. Angin malam dingin mulai terasa menusuk. "Bagaimana saya harus memanggil? Tante Rosa? Kak Rosa" Bram agak kikuk memanggil nama Rosa secara langsung. "Panggil saya Rosa. Lebih enak dan akrab khan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sempat meneruskan obrolan sepanjang perjalanan. Bram memang tak banyak bisa cerita. Pembawaannya pendiam dan serius. Dia tak bisa berbasa basi, walau konon jadi tokoh mahasiswa di kampusnya. Ah tokoh kan hanya selama perploncoan saja. Tokoh dari mana? Banyak orang kadang suka menokohkan diri sendiri. Kadang lingkunganlah yang memitoskan seseorang. Bram tak suka itu. Dia merasa bukan tokoh bukan apa. Persetan dengan segala mitos tokoh mahasiswa itu. Berhadapan dengan Rosa, dia merasa hangat, ingin cerita banyak. Tentang Yogya. Tentang universitas. Tentang keraton. Tak berani tentang impian impiannya. Rosa banyak bercerita tentang Bandung yang indah. Tentang anak anak Bandung yang suka dansa. Tentang bunga bunga. Seolah mereka sudah lama berteman. Baru dua jam berlalu semenjak berhenti makan di rumah makan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang angin malam masuk lewat lubang di jendela. Rambut panjang Rosa melambai terterpa angin menyentuh muka Bram. Bau harum melati kadang menyapu ringan. Dia mulai berpikir. Rosa berpenampilan menarik, tingggi semampai, berkulit bersih. Giginya putih berseri, tersusun rapi diantara bibir yang seksi. Mulut indah itu selalu menyungging senyum ramah. Senyum yang menawan. "Bram. Gila kamu. Baru kenal dua jam lalu, pikiranmu jangan kemana mana ". Dia coba mengingatkan dirinya. Ini pikiran gila. Godaan setan. Wajah teman wanitanya, Reni di Yogya kadang datang sekilas. Belum pacaran, hanya kadang suka ngobrol semata. Reni juga cantik dan menarik.Dia calon dokter. Ibu Bram selalu memuji Reni luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Rosa ini lain rasanya. Ada semangat, ada kekuatan luar biasa dibalik rona cantik dan ramah itu. Dia tadi begitu berapi api cerita tentang usahanya. Tentang kesukaaannya. Tentang bunga bunganya. Dia sekarang tertidur tenang di sebelahnya. Tenang dan damai. Sementara bau melati kadang menyentuh ringan. Tak sadar kepala Rosa bersandar di pundak Bram. Aaah rasanya pengin Bram memeluknya, menjaganya agar tak terantuk. Biarpun bis berkelok ke sana kemari mengikuti jalan yang tak pernah lurus. Bram bertanya dalam hati mengapa para arsitek jalan raya selalu merancang jalan berkelok kelok. Mengapa tak dibuat lurus saja. Semuanya jadi gampang langsung ke tujuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis masih saja mengerang setiap mendaki tanjakan. Menjelang fajar bis memasuki dataran tinggi Bandung. Rosa terbangun. "Anda tak tidur?" tanyanya. "Saya tak biasa tidur dalam perjalanan". Bram memang tak bisa tidur setiap naik bis malam atau kereta. Pikirannya selalu melayang ke luar jendela, merayapi kegelapan malam. Dia selalu menikmati lamunannya. Tak sadar Rosa masih saja bersandar di pundak Bram. Dia sudah terjaga. Bram menawarkan permen lembut kesukaannya. Mereka kadang meneruskan omongan omongan ringan. Rosa menggeliat ringan ketika tangan Bram membetulkan posisi agar tubuhnya tak terjatuh. Tangan kanan Bram telah melingkari leher Rosa. Aman, tak perlu takut terantuk, walau bis oleng ke kiri atau ke kanan. Napas napas mereka terdengar teratur berirama diantara bau melati. Tak sadar jari jemari mereka telah saling menggenggam. Saling membelai dan meremas. Jari jemari mereka bermain lembut di antara desiran angin malam dan rintihan mesin itu. Tak ada yang bicara. Tak ada yang tertawa. Hanya kadang napas mendesah ringan. Dunia milik mereka berdua. Bis Bandung Express seolah menjadi tumpangan mereka mengarungi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan lamunan Bram yang menerawang jauh di kegelapan malam, telah kembali ke bumi. Ke wanita cantik bernama Rosa yang bersandar disampingnya. Tangannya memeluk teguh seolah tak akan melepas Rosa darinya. Seolah ingin wanita ini aman dalam pelukannya. Sementara jari jemari mereka menari nari bersama irama napas yang kadang berdesah berkepanjangan. Saling meremas dan bergerak bersama ke daerah rahasia yang memberikan sensasi luar biasa. Jantung berdesir indah. Tak berdetak tanpa aturan. Hanya berdesir bersama lamunan. Jari jemari Bram terus menari menyusur daerah rahasia di paha Rosa yang indah itu. Paha yang begitu lembut dan halus seperti pualam. Kadang Rosa menggeliat dengan desah napas ringan. Sementara kayalan dan impian membubung tinggi bersama tarian jari jemari Bram. Rasa damai melayang bersama desiran jantung yang membawa rasa bahagia yang dalam. Ketika rasa itu semakin membubung, terasa kejang dan nikmat luar biasa. Kedamaian dan kebahagiaan yang dalam. Aaaaah, tarikan napas eskprirasi Rosa terdengar memanjang, dan dia mendarat ke bumi kembali. Ke pelukan Bram teman baru yang dikenal beberapa jam lalu. Rosa seolah menemukan kedamaian dan kebahagiaan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Bram tetap saja melingkari tubuh Rosa. Seolah berkata " Anda dalam pelukan saya. Dalam lindungan saya. Istirahatlah sayang". Rosa tertidur kembali. Bram terlelap sebentar menjelang masuk Bandung. Bis telah sampai di pemberhentian. Mereka terbangun ketika suara penumpang mulai ramai. " Maafkan apa yang terjadi" kata Bram merasa bersalah. " Tak perlu maaf. Kita lakukan bersama sesadarnya". Bram mencoba menukas kembali "Kita lupakan semuanya ya. Maaf sekali lagi". Rosa tak menghiraukan. Dia memberikan kartu namanya. "Datanglah ke rumah sebelum pulang ke Yogya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penumpang turun, diantar ke alamat masing masing. Adik Rosa telah menunggu dan menjemputnya pergi. Rosa menghilang dalam keheningan kabut pagi. Bramantyo tertegun seperti habis mimpi. Dia baca berkali kali kartu nama indah itu. "Pipit Rosalina" . Nama yang indah. Penuh gairah dan pesona. "Ah Rosa. Semoga kita akan bertemu kembali"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2189925667218082039-7994869351145449063?l=kasihmenyusurwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/feeds/7994869351145449063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/11/namaku-rosa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/7994869351145449063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2189925667218082039/posts/default/7994869351145449063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kasihmenyusurwaktu.blogspot.com/2008/11/namaku-rosa.html' title='(1) Namaku Rosa'/><author><name>Ki Ageng Similikithi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01429116649737675423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1UdwroyFfhI/STLKMCFfC2I/AAAAAAAAAF0/Y652wMPvpHk/s72-c/roses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
